The Truth

Wanita itu masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan mengendap-endap. Ia tak mau sampai ada seseorang yang melihat aksinya. Karena sudah di rasa aman, ia masuk menuju meja tempat kerja suaminya berada. Disana terdapat banyak kertas yang bertumpuk, laptop, dan pastinya terdapat secangkir teh yang selalu menemani suaminya bekerja.

Melihat secangkir teh yang masih penuh, wanita itu tersenyum miring dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah botol kaca berukuran 20ml yang sudah lama ia tak sentuh sejak kejadian itu. Dengan hati-hati ia membuka tutupnya, lalu menuangkan beberapa tetes isi botolnya ke dalam secangkir teh tersebut.

“Nyonya sedang apa?”

Wanita itu begitu terkejut sampai-sampai ia menumpahkan semua isi botol kacanya ke atas meja. Ia langsung menengok ke arah tersangka yang sedang memergokinya.

“Tirta! Kamu membuat saya kaget. Sejak kapan kamu ada di situ!” ucapnya dengan sedikit berbisik namun dengan nada marah.

“Baru aja masuk, nyonya ngapain sih? Fokus banget sampe gak denger saya masuk?” tanya Tirta sang asisten yang terlihat kepo melihat ke arah meja yang sedang di tutup-tutupi oleh Catherine.

“Bukan urusan kamu! Ck, kenapa kamu harus masuk sih? Argh!! Karena kamu sudah maengetahui ini, jangan berani-berani kamu melapor perbuatan saya kepada dia! Awas saja, sampai dia tau mengenai hal ini, habis ka—”

Dia siapa?”

Suara seseorang memotong omongan Catherine. Tiba-tiba kursi di balik meja yang memang sedaritadi berbalik menghadap dinding, berputar menampakan Januar yang memasang wajah datarnya.

Catherine pun terkegut setengah mati setelah melihat Januar.

“M-mas?? Kok k-kamu ada di sini? Bukannya katanya kamu sedang di luar?” tanya Catherine begitu gelagapan.

“Saya sudah pulang.” jawabnya singkat.

Catherine hanya bisa tersenyum kikuk, lalu ia menyenggol Tirta yang berada di sebelahnya.

“Kenapa kamu tidak bilang ke saya?” tanyanya sambil berbisik namun nadanya tegas.

“Lah, saya ke sini karena ngeliat nyonya masuk. Saya sebenernya mau ngasih tau tadi.” jawab Tirta terus terang.

Jantung Catherine berdegup kencang, kulitnya mengeluarkan banyak keringat dan nafasnya tak beraturan. Ia bingung harus bagaimana karena dirinya sudah tertangkap basah.

Sedangkan Januar terlihat sangat biasa saja sambil memasang wajah datarnya. Ia melirik sekilas ke arah cairan yang mulai meluber kemana-mana karena tumpah dan ia hanya diam seperti tidak terjadi apa-apa.

“M-mas aku bisa jel—”

“Saya sebenarnya senang kamu berada di sini, jadi saya tidak perlu repot-repot memanggil mu.” ucap Januar yang menatap istrinya dengan tatapan tajam.

Catherine meneguk air liurnya sendiri.

Januar mengangkat tangannya sambil menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada Tirta untuk mendatanginya. Sang asisten pun datang sambil meletakkan satu map di atas meja.

“Coba kamu muka map itu.” perintah Januar kepada istrinya.

Catherine hanya bisa was-was sambil mengambil dan membuka map coklat yang ada di atas meja. Di dalam mapnya terdapat banyak foto-foto yang membuat Catherine bingung.

“Ini apa mas?”

“Itu adalah bukti foto dari rekaman cctv saat Jevan menaiki motor Javar.”

Terlihat jelas di beberapa foto tersebut, ada seseorang yang menendang dengan sengaja belakang motor yang di tumpangi Jevan sampai-sampai dia menghantam mobil di depannya. Terdapat juga wajah dari pelaku yang melakukan hal tersebut yang terlihat tersenyum setelah melakukan hal itu.

Lagi- lagi Catherine terkejut, “Mas! Jadi kecelakaan Jevan itu di sengaja? Ada yang mencelakai anak kita?” tanyanya dengan perasaan marah yang mulai memuncak.

“Iya.”

“Lalu siapa ini yang sengaja mencelakai Jevan?! Kita harus tuntut dia dan jebloskan dia ke penjara mas!” ucap Catherine dengan nada tinggi.

Januar hanya diam sambil menatap tajam Catherine sedari tadi. Entah apa maksud dari tatapan itu, yang pasti Catherine di buat grogi dibuatnya.

Untuk menghindari tatapan Januar, Catherine hanya bisa melihat-lihat foto yang ada di tangannya. Tapi setelah di perhatikan, anak itu terlihat sangat familiar di matanya. Siapa dia?

“Namanya Jordi Wijaya, dia sudah saya laporkan ke polisi, tapi sayangnya dia masih di bawah umur dan tidak bisa di masukkan ke penjara. Dia hanya akan di hukum sesuai dengan perbuatannya.”

“Gak bisa gitu dong mas!” teriak Catherine tak terima.

“Itu sudah hukum nya, saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Catherine menggerutu kesal, bagaimana bisa seseorang yang jelas-jelas mencelakai orang lain tapi dia tidak masuk penjara? Catherine tampak tak terima dengan kenyataan tersebut.

Saat masih melihat-lihat foto, sampailah Catherine pada lembar terakhir yang ada dia dalam map tersebut. Lembaran itu tampak berbeda dari lembaran foto-foto yang ada, lembaran terakhir itu terlihat seperti surat.

“Mas ini...?”

“Itu surat cerai.” jawab Januar singkat tanpa basa-basi.

“Kamu ingin menceraikan aku mas?!” teriakan Catherine menggema di seluruh sudut ruangan, sampai-sampai Tirta menutup kupingnya.

Ruangan seketika hening sejenak.

“Aku ada salah apa mas sama kamu? Kenapa kamu ingin menceraikan aku mas?!”

Januar sudah hafal betul dengan drama sang istri. Ia yakin sebentar lagi istrinya akan menangis sambil memohon-mohon padanya. Januar hanya bisa menghembuskan nafas kasar.

“Tirta.” perintahnya lagi sambil menggerakkan jarinya telunjuknya, mengisyaratkan sang asisten untuk menaruh map kedua yang ia pegang ke atas meja.

Lagi-lagi Januar menyuruh Catherine untuk membuka map tersebut, namun kali ini ia hanya perlu bantuan matanya untuk menyuruh istrinya.

Catherine yang bingung pun mengambil dan membuka map tersebut dengan kasar.

Saat ia melihat isi map nya, betapa terkejut nya dia. Ia sampai tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya terdiam kaku. Jantungnya lagi-lagi berdetak tak karuan, badannya berkeringat dingin dan kakinya gemetar.

Tamat sudah riwayatnya.

“Kamu kira, selama ini saya tidak tau jika kamu berselingkuh dengan rekan kerja saya?”

Pertanyaan Januar bagaikan tamparan yang membangunkan Catherine dari khayalannya selama ini. Ia tak menyangka jika dirinya akan ketahuan. Sudah sampai sejauh mana Januar mengetahui hubungan gelapnya?

Isi dari map kedua adalah foto-foto mesra dari Catherine bersama selingkuhannya. Fotonya terlihat seperti di ambil diam-diam layaknya paparazi. Ia heran, bagaimana ada yang mengetahui dia dan selingkuhannya pergi, padahal tempat yang mereka datangi sangat jarang di ketahui orang termasuk Januar sendiri.

Carherine langsung menengok ke arah tersangka utama yang selama ini selalu mengikutinya. Tirta. Satu-satunya orang yang tau dimana keberadaan dirinya selama ini.

“Jangan salahkan dia, Catherine. Itu memang tugas yang telah saya berikan sejak pertama kali dia menjadi asisten pribadi mu.” ucap Januar setelah melihat tatapan mematikan yang di berikan Catherine kepada Tirta.

“KURANG AJAR KAMU! Jadi selama ini kamu me mata-matai saya?! Dasar penghianat!” teriak Catherine sambil memukuli Tirta bertubi-tubi. Bukan memukul layaknya baku hantam, lebih tepatnya ia seperti memukul anak yang nakal.

Sang asisten pasrah di pukuli, ia menutupi mukanya dengan kedua lengannya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu miris.

“Stop!” ucap Januar sambil menghentikan tangan Catherine yang memukuli Tirta.

“M-mas, aku bisa jelasin.”

“Gak ada yang perlu kamu jelaskan, semua sudah cukup jelas di mata saya.”

Catherine mengepalkan tangannya karena geram dengan semua ini. “Tapi ini semua salah kamu mas! Aku selingkuh itu salah kamu! Dari awal kita menikah, kamu tidak pernah mencintai aku. Tapi tiba-tiba David datang dan memberikan cinta yang ku butuhkan. Ini bukan salah aku mas, tapi ini semua salah kamu!”

Air mata Catherine sudah tumpah dari pelopak matanya. Akhirnya setelah sekian lama dia mengatakan yang sejujurnya juga kepada suaminya.

“Maka dari itu saya ingin menceraikan mu.” ucap Januar tak mau pusing menanggapi celotehan istrinya.

“Gak! Aku gak mau cerai. Aku tau aku salah, tapi aku masih mencintai kamu mas. David hanya menemani ku saja selama ini, tapi mulai sekarang aku akan tinggalkan dia demi kamu. Tapi aku mohon jangan ceraikan aku hanya karena masalah sepele seperti ini.”

“SEPELE KATAMU?!” Amarah Januar akhirnya keluar juga. Sudah dari tadi ia menahan amarahnya.

“Sekarang lihat lembar terakhir di dalam map tersebut!” perintah Januar yang langsung di turuti Catherine.

“Waktu itu, tanpa sepengetahuan mu, aku melakukan test dna kepada ketiga anak ku. Dan hasil dari test dna Jevan mengatakan bahwa dia sama sekali bukan anak saya, karena hasil dnanya tidak cocok ke dna saya, melainkan cocok ke dna selingkuhan mu itu!” jelas Januar panjang lebar dengan nafas yang tidak beraruran saking kesalnya.

Catherine yang baru tau dengan kenyataan ini sangat kaget bukan main. Ia menutup mulutnya dengan tangannya karena saking terkejutnya.

“A-aku gak tau mas... a-aku—”

“Sudah cukup, saya sudah muak dengan semua perbuatan mu.”

Catherine jatuh ke lantai sambil menangis. Ia tak mengira bahwa perbuatannya akan menjadi sejauh ini. Hancur sudah semua rencana yang telah ia buat.

“Satu lagi hal yang perlu kamu tau.” ucap Januar sambil memijat keningnya frustasi.

“Anak yang telah sengaja mencelakai Jevan, adalah anak dari David Wijaya yang mana dia adalah selingkuhan mu.”