Pertemuan

Tujuan awal Jamal datang ke rumah Javar akhirnya tidak terlaksanakan karena tadi ada sedikit cekcok antara kakak beradik. Dan saat ini, mereka bertiga bukannya lanjut untuk belajar malah terlihat sedang asyik bermain game bersama di kamar Javar.

“AHH ELAHH BANG LO CURANG!!”

Jevan melempar stick game yang ia pegang karena kesal kalah dari Jamal. Sedangkan Javar dan Jamal hanya tertawa melihat tingkah Jevan yang benar-benar seperti anak kecil.

“Cupu lo Pan, masa main sama orang baru langsung kalah.” goda Javar yang membuat Jevan makin ngambek.

Sejujurnya Jamal pun bingung kenapa ia bisa samapi berada di situasi seperti ini. Padahal bukan ini tujuan ia datang ke rumah Javar. Tapi jika boleh jujur, ia sangat senang dan menikmati momen ini.

“JEVANNN SAYAANGG!”

Mereka bertiga saling menatap saat mendengar teriakan wanita yang bersumber di lantai bawah.

“Mama?!”

Ya, itu adalah mama Jevan yang sudah buru-buru pulang dari acara kantor sang ayah. Sang anak yang di panggil namanya pun langsung lari menuju ke bawah.

“YAAMPUN ANAK MAMA! Kamu ada luka sayang? Sini coba mama liat!” ucap sang ibunda sambil memegangi pipi Jevan.

“Engga maa.” jawab Jevan risih.

“Javar, kenapa bisa Jevan sampai di bully? Kenapa kamu gak jagain dia??” ucap Catherine histeris setelah mendengar anak nya di bully.

“Dia gak kenapa-kenapa kok ma, dia cuma di kata-katain.”

“Ya sama aja dong, harusnya kamu bisa jagain dia. Yaampun sayang, mama sampe jantungan denger kamu di bully. Tenang, nanti mama bakal urus orang yang ngebully kamu.”

“Hah? Gausah maa, dibilang mereka cuma becanda, mama gak percaya. Mereka gausah di apa-apain pliss.”

“Enggak sayang, mereka harus di kasih pelajaran. Eh? Itu siapa yang di belakang Javar?”

Catherine menangkap sosok asing yang berdiri di belakang Javar. Alisnya berkerut bingung setelah melihat jelas sosok tersebut.

“Temen ku ma, dia yang nyelamatin Jevan.”

Catherine kaget, “Itu temen kamu? Gak salah dia temen kamu?” ucap Catherine remeh.

“Iya ma...”

“Kaget mama kamu temenan sama orang yang kayak gitu, eh tapi makasih ya udah nyelamatin anak saya.” ucap Catherin acuh tak acuh.

Javar yang mendengar mamanya yang meremehkan Jamal pun seketika bingung. Baru kali ini ia melihat mamanya berbicara seperti itu.

“Jav gue pulang aja ya? Udah sore nih.”

Tentu Jamal tau apa yang di maksud oleh Catherine. Maka dari itu ia ingin segera pulang dari rumah itu. Bohong jika Jamal bilang ia tak sakit hati. Walaupun Jamal sering mendengar ucapan yang persis seperti ucapan Catherine.

“Jamal tungg–”

Saat Javar ingin mencegah kepergian Jamal, tiba-tiba saja seseorang masuk dari pintu depan. Javar menghentikan niatnya dan langsung membuang mukanya tak ingin melihat orang tersebut.

Jamal yang ingin keluar pun berpapasan dengan orang tersebut dan sedikit menundukkan kepala tanda sopan santun. Setelah melewati orang tersebut dan beberapa bodyguard di belakangnya, ia langsung pergi ke tempat sepedanya di parkirkan dan keluar dari rumah itu.

“Loh ayah juga ikut pulang? Emang acaranya udah selesai?” tanya Jevan yang melihat kedatangan ayahnya.

Sang ayah terlihat tak fokus ke Jevan karena sekarang dia sedang melihat ke arah Jamal yang sudah pergi menggoes sepedanya. Januar mengerutkan alisnya dan berfikir apakah dia pernah bertemu orang yang melewatinya tadi? Karena ada perasaan aneh setelah melihatnya.

“Mas! Kamu tuh di tanya sama anak mu ini?!” teriak Catherine yang membuat Januar tersadar dari lamunannya.

“Acaranya belum selesai, ayah ikut pulang nganterin mama mu.”

“Loh mama kan bisa di anter supir, ayah gak harus ikut pulang kan?”

“Memangnya kenapa? Kok sepertinya kamu gak mau banget ayah pulang?”

Suasana pun menjadi hening. Januar akhirnya menyadari kehadiran Javar yang berada di sebelah Jevan. Ahh jadi ini alasah Jevan mempertanyakan dirinya pulang? Karena Javar sudah di rumah.

“Mas! Gimana ini? Jevan di bully!”

Januar memanggil salah satu asisten pribadi yang ada di belakng nya untuk mendekat, “Cari tahu tentang anak-anak yang membully anak saya, pastikan semua data dari mereka lengkap. Oh dan juga–”

Januar mengisyaratkan dengan jarinya agar asistennya lebih medekat ke arahnya.

“–Cari tahu juga soal anak yang tadi baru keluar dari rumah. Kirim data nya ke saya secepatnya.” ucap Januar berbisik.

“Baik tuan.”

Mencari data seseorang bagi Januar adalah hal kecil. Akan tetapi terdapat satu orang yang yang datanya Januar belum miliki sampai saat ini. Orang tersebut lah yang membuat keluarganya harus pindah dari rumah lamanya, orang tersebutlah yang membuatnya ingin Javar agar secepatnya meneruskan perusahaan dan orang tersebutlah yang membuatnya kesusahan sampai saat ini.

Tapi Januar yakin, cepat atau lambat dia akan segera ditemukan.