Keputusan

“Om, bunda kenapa? Kok operasinya di cepetin?” tanya Jamal yang datang dengan sedikit panik lalu duduk di kursi ruangan milik Andrean.

Andrean memang sengaja mengundang Jamal untuk datang ke ruangannya karena ingin berbicara mengenai Liliana. Ada beberapa hal yang Andrean harus sampaikan kepada Jamal terkait operasi usus bubtu Liliana.

“Jamal, saya sudah melakukan apa yang saya bisa lakukan untuk menyembuhkan usus buntu Liliana. Tetapi kondisinya tidak kunjung membaik dan malah makin parah. Usus buntunya pecah dan harus ditangani se segera mungkin.” jelas Andrean setenang mungkin agar Jamal tidak panik.

“Pe-pecah gimana om?” tanya Jamal yang malah kaget sekaligus panik.

“Tunggu dulu, sebelum kamu salah paham, om bakal jelasin sedikit. Jadi pecahnya usus buntu bukan seperti pecahnya balon, tapi lebih seperti keluarnya nanah dan bakteri dari rongga perut.”

Jamal menghembuskan nafas lega. Ada sedikit kelegaan di hati Jamal, rupanya hal tersebut bukan seperti apa yang Jamal bayangkan saat pertama kali mendengar namanya.

“Tapi usus buntu pecah artinya sudah termasuk kondisi yang gawat darurat. Satu-satunya jalan hanyalah di operasi. Jika tidak segera di operasi, hal ini bisa menyebabkan kematian.” lanjut Andrean.

Kelegaan tadi seketika hilang. Jamal tersentak kaget mendengar kata-kata terakhir Andrean, seketika ada perasaan takut bercampur sedih yang menyelimuti dirinya.

“Oke om, kalau itu yang terbaik buat bunda, Jamal setuju operasinya dijalanin malam ini juga.” jawabnya tanpa ragu sedikitpun.

Andrean mengangguk.

“Tapi Jamal...saya mau kamu bersiap untuk kemungkinan apapun. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.”

Jamal pelan-pelan mencerna perkataan Andrean barusan yang sepertinya bukan pertanda baik. Matanya langsung berkaca-kaca, ia tak sanggup jika hal buruk akan terjadi.

Tiba-tiba Andrean menepuk pundak Jamal lalu tersenyum hangat.

“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama cepat di tangani, maka akan semakin baik. Kamu gak usah takut.” ucap Andrean meyakinkan Jamal dan di balas anggukan oleh nya.

Semoga apa yang di bilang om Andream bener ya. Jamal belum siap kehilangan bunda.


“Nak, bunda gak siap buat di operasi.”

Liliana semakin gelisah disaat para suster mendorong kasurnya menuju ruang operasi. Walau ini bukan operasi pertama nya, namun tetap saja operasi mengangkat usus buntu merupakan hal yang menakutkan.

Jamal yang juga ikut mengantarnya, hanya bisa selalu memberikan semangat untuk sang ibunda.

“Jangan gitu dong bun. Tadi pemeriksaan sama tes darah, hasilnya kan bagus semua. Bunda juga udah puasa dari tadi sore. Masa mau di batalin operasi nya?”

“Tapi bunda takut nak.”

“Jangan takut dong bun, kan ada Jamal di sini yang bakal selalu nemenin bunda. KECUALI nemenin ke ruang operasi, Jamal gak ikut ya bun.” ucap Jamal yang mengundang gelak tawa di antara mereka berdua.

Sejujurnya Jamal juga takut, apalagi setelah mendengar penjelasan dari Andrean. Tapi Jamal selalu menepis kemungkinan buruk yang selalu muncul di kepalanya. Ia yakin ini adalah jalan yang paling tepat agar bundanya bisa sembuh.

Tak lama, sampailah mereka di depan pintu ruang operasi. Jika sudah berada di sini, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Liliana hanya bisa pasrah dan berdoa agar operasinya berjalan lancar.

Liliana meminta para suster untuk memeberikan waktu sebentar kepadanya, sebelum masuk ke dalam.

“Doain bunda ya nak.” ucap Liliana sambil mengelus wajah anak kesayangannya.

Saat itu Jamal sudah tidak bisa menahan tangisannya dan langsung memeluk tubuh ibundanya dengan hati-hati. Ia hanya bisa mengangguk menjawab perkataan bundanya.

“Sebelum orang lain ngucapin, bunda mau jadi orang pertama yang ngucapin. Selamat ulang tahun ya sayang, bunda sayang Jamal.”

Liliana pun tak kuasa menahan air matanya, rasanya seperti ia harus mengatakannya sekarang juga, padahal hari masih belum berganti. Ia takut tidak akan pernah bisa mengatakannya lagi pada anaknya.

“Makasih bunda, tapi Jamal gamau ngitung itu sebagai ucapan pertama karena ulang tahun Jamal masih sejam lagi. Ucapan bunda bakal Jamal itung kalo bunda udah selesai operasinya.” ucap Jamal berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya.

Mereka berdua terkekeh dan di jawab anggukan oleh Liliana. Waktu yang di berikan suster pun habis. Liliana harus sudah masuk ke ruang operasi.

Dengan berat hati, Jamal melepaskan genggaman tangan ibundanya dan melihat bundanya masuk ke dalam ruang operasi.

Semoga operasinya bisa berjalan lancar.