Kebenaran

Sesampainya Javar di rumah sakit, ia langsung melihat seseorang yang sedang di dorong menggunakan kasur beroda yang sepertinya sangat gawat darurat karena dia terlihat mengeluarkan banyak darah sampai berceceran di lantai.

“EPANN!!” teriaknya sambil berlari menghampiri orang tersebut.

Sambil berlari Javar bersumpah, sampai yang di lihatnya orang itu benar-benar Jevan, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Javar menyingkirkan suster yang menghalanginya untuk melihat wajah orang tersebut. Dan betapa terkejutnya dia, ternyata orang itu bukanlah Jevan.

“S-sus, dia korban kecelakaan yang ada di daerah sini bukan?” tanya nya masih berharap bahwa korban kecelakaan tersebut bukanlah Jevan.

“Bukan mas, dia korban dari tabrak lari. Kalau korban kecelakaan, tadi sepertinya masuk ke ruang operasi yang ada di sebelah sana mas.” jawab sang suster sambil menunjuk ke arah lorong dimana ruang operasi berada.

“M-makasih sus.”

Tanpa berlama-lama Javar langsung berlari menuju lorong tersebut dengan perasaan takut yang makin menjadi. Tapi langkahnya melambat saat ia melihat Catherine yang sedang menangis di depan pintu ruang operasi.

“Mama?” ucapnya dengan suara pelan.

Catherine yang merasa terpanggil langsung menengok ke sumber suara. Namun saat melihat wajah orang yang memanggilnya, emosinya langsung memuncak.

“KAMU!” teriaknya sambil menunjuk Javar dengan telunjuknya.

Catherine berjalan tergesa mendekati Javar.

“Apa yang sudah kamu lakukan ke anak saya?! Kenapa dia bisa sampai seperti itu, hah? JAWAB!” ucapnya dengan suara yang lumayan keras sambil menangis.

Javar juga terlihat menangis sambil berfikir bagaimana cara ia menjelaskan semuanya kepada mamanya. Javar pun tidak berfikir bahwa akan terjadi hal seperti ini jika ia mengajak Jevan ke arena. Jika Javar tau hal ini akan terjadi, pasti Javar tidak akan pernah mengizinkan Jevan untuk menaiki motornya.

“M-ma, dengerin penjelasan Javar dulu—”

“Gak ada yang perlu di jelasin! Kamu sudah mencelakakan anak saya!”

“Mama denge—”

“STOP PANGGIL SAYA MAMA, SAYA BUKAN MAMA KAMU!” teriak Catherine tidak tahan lagi.

Catherine sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya maupun dengan Javar. Sejak ia tahu bahwa Jevan kecelakaan karena mengendarai motor Javar, ia langsung kehilangan kendali dan sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.

“M-maksudnya ma?” tanya Javar yang sepertinya ia salah mendengar teriakan mamanya.

Nafas Catherine tersengal-sengal saking emosinya. “Anak saya itu hanya Jevan! Dari awal kamu itu bukan anak saya, mengerti kamu?!”

Entah apa yang harus Javar katakan. Ia bingung harus percaya dengan perkataan mamanya atau tidak. Bisa jadi saat ini mamanya hanya sedang sedih karena salah satu anaknya sedang dalam keadaan kritis, makanya ia sakit hati dan tidak mau mengakui anak lainnya sebagai anak kandungnya.

Dengan air mata yang masih bercucuran, Catherine menyeringai. “Kenapa? Kok keliatannya kamu gak percaya? Mau saya kasih tahu yang sebenarnya?” tanya Catherine dan memberi jeda untuk Javar menjawabnya.

Namun hanya hening yang ada, Javar tidak bisa berkata apapun.

“Ibu kandung kamu itu sudah mati karena ngelahirin kamu. Saya itu cuma IBU TIRI yang sebenarnya terpaksa membesarkan anak yang kerjanya cuma bisa bikin masalah aja!”

Pernyataan itu jelas membuat Javar kaget bukan main. Rasanya dunia seperti runtuh, semuanya hancur termasuk hatinya. Jadi selama ini ia dibohongi?

“Saya menyesal sudah memberi semua yang sudah saya berikan ke kamu. Harusnya kamu gak dapetin itu semua, harusnya Jevan yang dapetin, harusnya Jevan yang jadi pewaris sah! HARUSNYA KAMU YANG SEKARAT BUKAN JEVAN—”

“CATHERINE!” teriak Januar yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia tampak begitu marah setelah mendengar ucapan Catherine yang menyumpahi anaknya dan membongkar rahasia yang selama ini mereka sembunyikan dari Javar.

“Apa-apan kamu? Mengapa kamu memberitahu semuanya?!” ucap Januar emosi dengan suara tinggi.

“MAS?? Yang benar saja? Kamu malah marahin aku karena aku ngasih tau dia yang sebenarnya, yang ada juga kamu marahin dia karena sudah membuat anak kamu celaka! Bukannya memang benar, Lilian sudah mati?”

PLAK!

Satu tamparan mendarat mulus di pipi Catherine. Januar benar-benar kehabisan kesabarannya, ia tak habis pikir mulut istrinya begitu mudah mengatakan hal seperti itu.

“DIAM KAMU! Jangan pernah kamu sebut namanya dalam hal seperti itu!!”

“MAS?!”

“Apa yang di bilang mama bener, yah?” tanya Javar memotong pembicaraan kedua orang tua yang ada di hadapannya.

Jujur saja, saat ini Javar sudah tidak bisa berfikir lagi. Rasanya kepalanya ingin pecah karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Tidak ada lagi emosi yang di rasakannya saat ini, hanya hampa yang ada. Tapi entah mengapa air matanya terus bercucuran.

“Yah?” panggilnya sekali lagi dengan tatapan mata yang putus asa menatap sang ayah.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Januar. Dia hanya diam membisu dan membuang mukanya karena tidak sanggup untuk melihat wajah anak nya.

Begitu susah bagi nya hanya untuk membenarkan pertanyaan Javar. Karena ia tak pernah berfikir untuk memberi tahu Javar sebelum ia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Namun sepertinya takdir berkata lain.

“Hahaha jadi selama ini ayah nyembunyiin kenyataan kalo ibu kandung aku udah meninggal? 17 tahun aku hidup dalam kebohongan? BANGSAT!” Javar sudah tidak tahan lagi, ia benar-benar merasa seperti di permainkan oleh orang tuanya sendiri.

Javar langsung pergi meninggalkan Januar yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dadanya begitu sesak mengetahui kenyataan yang ada. Jevan yang kecelakaan karena kelalaiannya dan juga ibu kandungnya yang sebenarnya sudah meninggal.

Wow, double kill.