Balas Dendam

Tw// Accident

Jevan memberhentikan motor nya di bagian pinggir arena balap. Suasana di arena cukup ramai, sepertinya Jordi mengumumkan kepada anak sekolah jika ada balapan malam ini.

“Rame banget bang.” ucap Jevan sambil melepaskan helm full facenya.

“Ya emang gini kalo setiap gue balapan.”

“Kok seru banget sihh??”

Mata Jevan berbinar, ia tampak senang melihat suasana di arena yang ramai oleh anak sekolah. Ini pertama kalinya Jevan bisa keluar rumah di saat malam hari, selain berhubungan dengan hal pelajaran ataupun sekolah. Sudah lama ia mengharapkan hal seperti ini terjadi.

“Yaudah lu tunggu sini aja, gue mau nyamperin temen gue dulu.”

Jevan mengangguk mengerti. Sedangkan Javar menaiki motornya lagi dan mendatangi Jordi dan dua teman segengnya di tengah arena.

Jujur saja, Javar sebenarnya juga kangen untuk balapan lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia balapan. Dan kali ini ia bisa bersenang-senang kembali tanpa memikirkan taruhan.

Seperti yang sudah di duga, Javar lagi-lagi menang melawan Jordi dan temannya. Tapi anehnya, Jordi terlihat biasa saja atas kemenangan Javar. Malahan ia terlihat senang, entah karena apa.

“Gile-gile, kalah lagi kita brou.”

“Seru banget anjir, ayo lah tiga puteran lagi.”

“Buset, napsu banget lu Troy. Sabar lah, kita tunggu Willy dateng baru balapan lagi.”

“Lu ngajak Willy Jor?”

“Iya Jav, sebenernya dia yang awalnya ngajak.”

Javar hanya mengangguk-ngangguk mengerti.

“Nah itu dia orangnya. WOI WILLY!”

Jordi, Yudhi dan Troy menghampiri Willy yang baru saja datang bersama rombongannya seperti biasa. Javar tidak ikut menghampiri Willy, ia menghampiri Jevan yang dari tadi terkesima melihat abangnya menang balapan.

“BANG LU KEREN BANGET ANJIRR.”

“Baru tau?”

“Iya baru tau! Biasanya kan lu kerjaannya bikin ayah marah mulu!” lanjut Jevan yang mengundang tangan Javar untuk menjitak kepalanya.

“Bangg, gue mau pinjem lagi dong motor lu. Mau ngebut kayak lu tadi, pleasee.” paksa Jevan dengan menunjukkan jurus andalannya yaitu puppy eyes.

Kalau sudah begini sepertinya Javar tidak bisa bilang tidak.

“Tapi gue udah mau balapan Pan, ntar aja ah pas pulang.”

“Ah elah, itu aja masih ada yang balapan di arena. Sembari nunggu giliran lu, gue pinjem dong. Mau muter sebentar di sekitar sini.”

“Nanti Pan, gausah ngeyel.”

“Yaudah iya.”


Jordi memberhentikan motornya setelah melihat seseorang yang sedari tadi ia cari. Bibirnya menyinggungkan senyum licik. Betapa mulusnya rencana yang telah ia rencanakan sejak kemarin—pikirnya.

Dari belakang, ia membuntuti motor di depannya. Sepertinya motor di depannya tidak sadar jika ia di buntuti oleh Jordi, karena ia masih santai mengendarai motornya.

Setelah di rasa daerah yang mereka lewati sudah cukup sepi, Jordi menacapkan gas nya untuk menyeimbangkan motornya dengan motor di depannya.

Sekilas terlintas momen-momen yang sangat membuat Jordi kesal sekaligus benci dengan orang itu. Setelah motornya sudah hampir bersebalahan, ia memepetkan motornya agar motor orang itu berjalan tidak seimbang.

Tentu saja orang tersebut panik bukan main, ia berusaha menyeimbangkan motornya agar tidak terjatuh ke aspal. Lagi-lagi Jordi memepetkan motor mereka sampai-sampai saat ini motor orang tersebut sudah berada bukan di jalurnya.

Karena saking paniknya menstabilkan motor yang lumayan besar, orang tersebut sampai tidak sadar bahwa di depannya terdapat mobil yang berlawanan arah dengannya.

Dengan sekali tendangan di bagian belakang motornya, orang tersebut oleng dan menabrak mobil didepannya sampai dia terpental dari jalan ke trotoar dan tak sadarkan diri.

Sedangkan Jordi, ia langsung pergi dengan kecepatan yang tinggi meninggalkan orang tersebut.

Jordi melaksanakan aksinya di saat di luar arena dan di saat yang lain masih balapan, jadi tidak ada yang bakal tau tentang ini.

Maka dari itu saat ini Jordi tertawa puas karena rencana balas dendamnya berjalan sukses.

Selamat tinggal Javar Jeandro, gue harap lo gak akan pernah bangun lagi.