To Late
⚠️ Angst
Januar saat ini sedang di hadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. Entah kenapa keduanya bisa dalam keadaan darurat di saat yang bersamaan. Ia benar-benar bingung harus mendahulukan yang mana. Masalahnya, kamar rawat inap mereka berada di lantai yang berbeda. Liliana berada di kamar pasien umum, sedangkan Jevan berada di kamar vvip yang terletak di lantai atas rumah sakit.
Entah mengapa sebenarnya hati kecilnya menyuruhnya untuk mendatangi sang istri terlebih dahulu. Namun pikirannya tidak bisa tenang setelah mengingat Jevan yang keadaannya makin memburuk. Sejak tadi malam, ia sama sekali belum melihat keadaan anaknya karena sibuk untuk mencari informasi mengenai Liliana dan Jamal.
Tanpa pikir panjang ia memutuskan mendatangi Jevan terlebih dahulu. Ia memanggil kedua asistennya, “Kalian ke kamar melati nomor 127, cek keadaannya di sana. Jika ada sesuatu, laporkan pada saya. Sekarang saya ingin ke kamar Jevan terlebih dahulu.” perintahnya kepada ketua asisten dan Leo.
Ia pun langsung bergegas lari menuju kamar Jevan. Setelah melihat pesan dari Catherine maupun Javar, hatinya terus berdegup di atas batas normal dan ia terus merasa cemas, Januar takut suatu hal akan terjadi.
Sesampainya ia di kamar Jevan, ia terkaget bukan main. Nyatanya ia melihat pemandangan Catherine yang sedang menyuapi Jevan buah-buahan dan mengobrol santai. Januar terdiam sebentar setelah panik membanting pintu.
“Mas! Kamu kemana aja sih? Dari semalem aku cariin kamu, kok baru dateng sekarang?” perotes Catherine yang kesal akan sikap Januar yang aneh sejak tadi malam.
“Kamu bilang keadaan Jevan memburuk?—” tanya Januar yang bingung dengan situasi yang ada saat ini.
“Maaf mas aku bohong, habisan kamu selalu gak jawab chat sama telfon aku! Masa aku harus bohong kayak gitu, baru kamu dateng? Kamu pikir aku gak repot apa jagain Jevan sendiri? Aku—”
BRAK!
Januar meninju pintu kamar untuk melampiaskan kekesalannya. Amarahnya mulai naik saat mengetahui Catherine yang berbohong mengenai Jevan.
“Diam kamu! Bisa-bisanya kamu berbohong tentang keadaan Jevan?! Kamu pikir saya lagi santai-santai di rumah dari semalam? Tidak! Saya juga punya urusan mendesak lain yang seharusnya tidak saya tinggalkan!”
“Loh mas? Jadi maksud kamu aku sama Jevan gak penting? Aku udah begadang loh buat jagain Jevan, kamu jangan—”
“Ayah...” lilir Jevan memotong perdebatan kedua orang tuanya. Jevan terlihat begitu lemas dan tidak berdaya di ranjangnya.
Saat menatap Jevan, hati Januar langsung luluh dari amarah. Ia tak tega melihat anaknya dengan keadaan seperti ini. Sejujurnya ia merasa lega karena Catherine berbohong, artinya Jevan sudah mulai membaik.
“Anak ayah gimana keadaannya?“tanya nya lembut sambil mengelus rambut Jevan.
“Udah sehat yah, kayaknya mah aku juga udah bisa pulang hari ini.” ucap Jevan berusaha semangat.
Januar terkekeh melihat kelakuan anak bontotnya yang memang selalu ceria.
“Bang Javar mana yah?” tanya Jevan yang sedari tadi memang tidak melihat keberadaan Javar di kamarnya.
“Javar ada di—”
Ting! Ting! Ting!
Omongannya terhenti karena merasa ponselnya berbunyi terus menerus. Heran, siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini?
Tapi setelah membaca pesan di ponselnya, seketika kakinya terlemas, jantungnya serasa lepas dari tempatnya, dan sesak seketika melanda dadanya.
Januar langsung berlari keluar dari kamar rawat inap Jevan menuju lantai kamar sang istrinya berada. Ia tampak tak memperdulikan Catherine yang meneriaki namanya, ia tetap berlari dengan sekuat tenaga.
Akhirnya langkahnya semakin melambat seraya dirinya sampai di depan kamar tersebut.
Tangannya seketika gemetar untuk membuka knop pintu, ia sebenarnya enggan untuk masuk karena tidak mau mengetahui kenyataan tersebut. Namun akhirnya di putarnya juga knop pintu tersebut dan langsung memperlihatkan suasana yang sangat kacau.
Terlihat dokter dan kedua asistennya yang hanya bisa menunduk, Javar dan Jamal yang sudah terlihat tak berdaya tersimpuh di lantai sambil meneteskan air mata, dan juga sang istri yang sudah terbujur kaku di ranjangnya.
Januar terdiam beberapa saat, mencerna situasi yang ada saat ini, lalu melangkah masuk menghampiri sang istri.
No.... ini tidak mungkin terjadi.
Rasanya dunia seakan runtuh, ia mendadak kehilangan keseimbangannya saat melihat sang istri yang tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Tangannya ia arahkan ke pipi sang istri sambil mengelusnya.
“Ana..?”
“Hey? Kok tidur?”
“Liliana..bangun sayang...”
Merasa tidak ada respon dari sang istri, ia mulai sedikit menggoncang bahu istrinya. Namun tetap sama, tidak ada respon darinya.
“Pak, mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa istri, bapak. Beliau mengalami pendarahan di dalam tubuhnya pasca operasi. Kami sudah berusaha menyelamatkannya tapi sudah terlambat.” jelas sang dokter yang merasa bersalah.
Masih ingin menyangkal ucapan sang dokter, Januar meletakkan dua jarinya di leher sang istri, lalu lanjut menaruh telunjuk nya di depan idung sang istri.
Namun sayang, nadi maupun nafasnya sudah tidak terasa.
Liliana sudah pergi.
“Ayah... ini gak mungkin kan? Gak mungkin bunda udah pergi?”
“Gak mungkin bunda pergi! Barusan bunda janji gak bakal kemana-mana. Tadi bunda udah janji!”
“Ayah, tolong bangunin bunda..”
“Bunda... bangun yuk? Kita pulang ke rumah sama ayah. Bunda belum pernah ke rumah Javar kan? Yuk kita ke sana, tapi bunda haru bangun dulu. Bun..”
“Bunda ayo bangun..” lirih Jamal yang semakin putus asa.
“Bunda tega sama Javar! Javar baru aja ketemu bunda, tapi kenapa udah di tinggal lagi? Apa bunda gak suka sama Javar karena Javar bandel? Maafin Javar bun..”
“Javar...” bisik Januar sambil menenangkan Javar yang hilang kendali sambil menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Jamal terlihat diam menatap ke arah sang ibunda dengan tatapan kosong dan sambil sesekali meneteskan air matanya.
Hatinya semakin sakit melihat kedua anaknya. Baru hari ini dia bertemu kembali dengan wanitanya setelah terpisah selama 17 tahun dan hari ini pula ia di tinggal pergi untuk selama-lamanya.
Rasanya sangat menyesakkan. Saat ini Januar bahkan hampir lupa caranya bernafas karena saking sesak dadanya. Ia memukul-mukul dadanya karena kesulitan untuk bernafas.
Dan setelah nafasnya kembali seperti semula, ia hanya bisa memejamkan matanya. Mungkin memang ini ganjaran yang harus dia dapatkan, karena perbuatan ibunya di masa lalu. Tapi setidaknya saat ini Liliana sudah tidak merasa sakit lagi.
Dengan segenap hati, ia dekatkan wajahnya ke wajah sang istri, lalu mencium kening nya untuk yang terakhir kali. Air matanya yang sudah ia tahan akhirnya menetes membasahi wajah sang istri.
Jika ini memang yang terbaik, Januar ikhlas menghadapi kenyataan ini. Ia bersyukur, setidaknya sudah di pertemukan kembali dengan belahan jiwanya walau hanya dalam waktu yang sangat sebentar.
Januar hanya menyesal tidak bisa menemani istrinya di saat-saat terakhirnya.
Andai tadi dia mengikuti kata hatinya. Andai tadi dia lebih memilih istrinya terlebih dahulu dibanding Jevan. Andai jika ia tidak terlambat.
Mungkin, ini semua tidak akan terjadi.