<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>unknownctzen</title>
    <link>https://unknownctzen.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 15:24:18 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>The Truth</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/the-truth?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Wanita itu masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan mengendap-endap. Ia tak mau sampai ada seseorang yang melihat aksinya. Karena sudah di rasa aman, ia masuk menuju meja tempat kerja suaminya berada. Disana terdapat banyak kertas yang bertumpuk, laptop, dan pastinya terdapat secangkir teh yang selalu menemani suaminya bekerja.&#xA;&#xA;Melihat secangkir teh yang masih penuh, wanita itu tersenyum miring dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah botol kaca berukuran 20ml yang sudah lama ia tak sentuh sejak kejadian itu. Dengan hati-hati ia membuka tutupnya, lalu menuangkan beberapa tetes isi botolnya ke dalam secangkir teh tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Nyonya sedang apa?&#34;&#xA;&#xA;Wanita itu begitu terkejut sampai-sampai ia menumpahkan semua isi botol kacanya ke atas meja. Ia langsung menengok ke arah tersangka yang sedang memergokinya.&#xA;&#xA;&#34;Tirta! Kamu membuat saya kaget. Sejak kapan kamu ada di situ!&#34; ucapnya dengan sedikit berbisik namun dengan nada marah.&#xA;&#xA;&#34;Baru aja masuk, nyonya ngapain sih? Fokus banget sampe gak denger saya masuk?&#34; tanya Tirta sang asisten yang terlihat kepo melihat ke arah meja yang sedang di tutup-tutupi oleh Catherine.&#xA;&#xA;&#34;Bukan urusan kamu! Ck, kenapa kamu harus masuk sih? Argh!! Karena kamu sudah maengetahui ini, jangan berani-berani kamu melapor perbuatan saya kepada dia! Awas saja, sampai dia tau mengenai hal ini, habis ka—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia siapa?&#34;&#xA;&#xA;Suara seseorang memotong omongan Catherine. Tiba-tiba kursi di balik meja yang memang sedaritadi berbalik menghadap dinding, berputar menampakan Januar yang memasang wajah datarnya.&#xA;&#xA;Catherine pun terkegut setengah mati setelah melihat Januar.&#xA;&#xA;&#34;M-mas?? Kok k-kamu ada di sini? Bukannya katanya kamu sedang di luar?&#34; tanya Catherine begitu gelagapan.&#xA;&#xA;&#34;Saya sudah pulang.&#34; jawabnya singkat.&#xA;&#xA;Catherine hanya bisa tersenyum kikuk, lalu ia menyenggol Tirta yang berada di sebelahnya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu tidak bilang ke saya?&#34; tanyanya sambil berbisik namun nadanya tegas.&#xA;&#xA;&#34;Lah, saya ke sini karena ngeliat nyonya masuk. Saya sebenernya mau ngasih tau tadi.&#34; jawab Tirta terus terang.&#xA;&#xA;Jantung Catherine berdegup kencang, kulitnya mengeluarkan banyak keringat dan nafasnya tak beraturan. Ia bingung harus bagaimana karena dirinya sudah tertangkap basah.&#xA;&#xA;Sedangkan Januar terlihat sangat biasa saja sambil memasang wajah datarnya. Ia melirik sekilas ke arah cairan yang mulai meluber kemana-mana karena tumpah dan ia hanya diam seperti tidak terjadi apa-apa.&#xA;&#xA;&#34;M-mas aku bisa jel—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya sebenarnya senang kamu berada di sini, jadi saya tidak perlu repot-repot memanggil mu.&#34; ucap Januar yang menatap istrinya dengan tatapan tajam.&#xA;&#xA;Catherine meneguk air liurnya sendiri.&#xA;&#xA;Januar mengangkat tangannya sambil menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada Tirta untuk mendatanginya. Sang asisten pun datang sambil meletakkan satu map di atas meja.&#xA;&#xA;&#34;Coba kamu muka map itu.&#34; perintah Januar kepada istrinya.&#xA;&#xA;Catherine hanya bisa was-was sambil mengambil dan membuka map coklat yang ada di atas meja. Di dalam mapnya terdapat banyak foto-foto yang membuat Catherine bingung.&#xA;&#xA;&#34;Ini apa mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu adalah bukti foto dari rekaman cctv saat Jevan menaiki motor Javar.&#34;&#xA;&#xA;Terlihat jelas di beberapa foto tersebut, ada seseorang yang menendang dengan sengaja belakang motor yang di tumpangi Jevan sampai-sampai dia menghantam mobil di depannya. Terdapat juga wajah dari pelaku yang melakukan hal tersebut yang terlihat tersenyum setelah melakukan hal itu.&#xA;&#xA;Lagi- lagi Catherine terkejut, &#34;Mas! Jadi kecelakaan Jevan itu di sengaja? Ada yang mencelakai anak kita?&#34; tanyanya dengan perasaan marah yang mulai memuncak.&#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lalu siapa ini yang sengaja mencelakai Jevan?! Kita harus tuntut dia dan jebloskan dia ke penjara mas!&#34; ucap Catherine dengan nada tinggi. &#xA;&#xA;Januar hanya diam sambil menatap tajam Catherine sedari tadi. Entah apa maksud dari tatapan itu, yang pasti Catherine di buat grogi dibuatnya.&#xA;&#xA;Untuk menghindari tatapan Januar, Catherine hanya bisa melihat-lihat foto yang ada di tangannya. Tapi setelah di perhatikan, anak itu terlihat sangat familiar di matanya. Siapa dia?&#xA;&#xA;&#34;Namanya Jordi Wijaya, dia sudah saya laporkan ke polisi, tapi sayangnya dia masih di bawah umur dan tidak bisa di masukkan ke penjara. Dia hanya akan di hukum sesuai dengan perbuatannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak bisa gitu dong mas!&#34; teriak Catherine tak terima.&#xA;&#xA;&#34;Itu sudah hukum nya, saya tidak bisa berbuat apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Catherine menggerutu kesal, bagaimana bisa seseorang yang jelas-jelas mencelakai orang lain tapi dia tidak masuk penjara? Catherine tampak tak terima dengan kenyataan tersebut.&#xA;&#xA;Saat masih melihat-lihat foto, sampailah Catherine pada lembar terakhir yang ada dia dalam map tersebut. Lembaran itu tampak berbeda dari lembaran foto-foto yang ada, lembaran terakhir itu terlihat seperti surat.&#xA;&#xA;&#34;Mas ini...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu surat cerai.&#34; jawab Januar singkat tanpa basa-basi.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ingin menceraikan aku mas?!&#34; teriakan Catherine menggema di seluruh sudut ruangan, sampai-sampai Tirta menutup kupingnya.&#xA;&#xA;Ruangan seketika hening sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Aku ada salah apa mas sama kamu? Kenapa kamu ingin menceraikan aku mas?!&#34; &#xA;&#xA;Januar sudah hafal betul dengan drama sang istri. Ia yakin sebentar lagi istrinya akan menangis sambil memohon-mohon padanya. Januar hanya bisa menghembuskan nafas kasar.&#xA;&#xA;&#34;Tirta.&#34; perintahnya lagi sambil menggerakkan jarinya telunjuknya, mengisyaratkan sang asisten untuk menaruh map kedua yang ia pegang ke atas meja.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Januar menyuruh Catherine untuk membuka map tersebut, namun kali ini ia hanya perlu bantuan matanya untuk menyuruh istrinya. &#xA;&#xA;Catherine yang bingung pun mengambil dan membuka map tersebut dengan kasar. &#xA;&#xA;Saat ia melihat isi map nya, betapa terkejut nya dia. Ia sampai tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya terdiam kaku. Jantungnya lagi-lagi berdetak tak karuan, badannya berkeringat dingin dan kakinya gemetar.&#xA;&#xA;Tamat sudah riwayatnya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kira, selama ini saya tidak tau jika kamu berselingkuh dengan rekan kerja saya?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan Januar bagaikan tamparan yang membangunkan Catherine dari khayalannya selama ini. Ia tak menyangka jika dirinya akan ketahuan. Sudah sampai sejauh mana Januar mengetahui hubungan gelapnya?&#xA;&#xA;Isi dari map kedua adalah foto-foto mesra dari Catherine bersama selingkuhannya. Fotonya terlihat seperti di ambil diam-diam layaknya paparazi. Ia heran, bagaimana ada yang mengetahui dia dan selingkuhannya pergi, padahal tempat yang mereka datangi sangat jarang di ketahui orang termasuk Januar sendiri.&#xA;&#xA;Carherine langsung menengok ke arah tersangka utama yang selama ini selalu mengikutinya. Tirta. Satu-satunya orang yang tau dimana keberadaan dirinya selama ini. &#xA;&#xA;&#34;Jangan salahkan dia, Catherine. Itu memang tugas yang telah saya berikan sejak pertama kali dia menjadi asisten pribadi mu.&#34; ucap Januar setelah melihat tatapan mematikan yang di berikan Catherine kepada Tirta.&#xA;&#xA;&#34;KURANG AJAR KAMU! Jadi selama ini kamu me mata-matai saya?! Dasar penghianat!&#34; teriak Catherine sambil memukuli Tirta bertubi-tubi. Bukan memukul layaknya baku hantam, lebih tepatnya ia seperti memukul anak yang nakal.&#xA;&#xA;Sang asisten pasrah di pukuli, ia menutupi mukanya dengan kedua lengannya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu miris.&#xA;&#xA;&#34;Stop!&#34; ucap Januar sambil menghentikan tangan Catherine yang memukuli Tirta.&#xA;&#xA;&#34;M-mas, aku bisa jelasin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang perlu kamu jelaskan, semua sudah cukup jelas di mata saya.&#34;&#xA;&#xA;Catherine mengepalkan tangannya karena geram dengan semua ini. &#34;Tapi ini semua salah kamu mas! Aku selingkuh itu salah kamu! Dari awal kita menikah, kamu tidak pernah mencintai aku. Tapi tiba-tiba David datang dan memberikan cinta yang ku butuhkan. Ini bukan salah aku mas, tapi ini semua salah kamu!&#34;&#xA;&#xA;Air mata Catherine sudah tumpah dari pelopak matanya. Akhirnya setelah sekian lama dia mengatakan yang sejujurnya juga kepada suaminya.&#xA;&#xA;&#34;Maka dari itu saya ingin menceraikan mu.&#34; ucap Januar tak mau pusing menanggapi celotehan istrinya.&#xA;&#xA;&#34;Gak! Aku gak mau cerai. Aku tau aku salah, tapi aku masih mencintai kamu mas. David hanya menemani ku saja selama ini, tapi mulai sekarang aku akan tinggalkan dia demi kamu. Tapi aku mohon jangan ceraikan aku hanya karena masalah sepele seperti ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;SEPELE KATAMU?!&#34; Amarah Januar akhirnya keluar juga. Sudah dari tadi ia menahan amarahnya.&#xA;&#xA;&#34;Sekarang lihat lembar terakhir di dalam map tersebut!&#34; perintah Januar yang langsung di turuti Catherine.&#xA;&#xA;&#34;Waktu itu, tanpa sepengetahuan mu, aku melakukan test dna kepada ketiga anak ku. Dan hasil dari test dna Jevan mengatakan bahwa dia sama sekali bukan anak saya, karena hasil dnanya tidak cocok ke dna saya, melainkan cocok ke dna selingkuhan mu itu!&#34; jelas Januar panjang lebar dengan nafas yang tidak beraruran saking kesalnya.&#xA;&#xA;Catherine yang baru tau dengan kenyataan ini sangat kaget bukan main. Ia menutup mulutnya dengan tangannya karena saking terkejutnya.&#xA;&#xA;&#34;A-aku gak tau mas... a-aku—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sudah cukup, saya sudah muak dengan semua perbuatan mu.&#34;&#xA;&#xA;Catherine jatuh ke lantai sambil menangis. Ia tak mengira bahwa perbuatannya akan menjadi sejauh ini. Hancur sudah semua rencana yang telah ia buat.&#xA;&#xA;&#34;Satu lagi hal yang perlu kamu tau.&#34; ucap Januar sambil memijat keningnya frustasi.&#xA;&#xA;&#34;Anak yang telah sengaja mencelakai Jevan, adalah anak dari David Wijaya yang mana dia adalah selingkuhan mu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Wanita itu masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan mengendap-endap. Ia tak mau sampai ada seseorang yang melihat aksinya. Karena sudah di rasa aman, ia masuk menuju meja tempat kerja suaminya berada. Disana terdapat banyak kertas yang bertumpuk, laptop, dan pastinya terdapat secangkir teh yang selalu menemani suaminya bekerja.</p>

<p>Melihat secangkir teh yang masih penuh, wanita itu tersenyum miring dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah botol kaca berukuran 20ml yang sudah lama ia tak sentuh sejak kejadian itu. Dengan hati-hati ia membuka tutupnya, lalu menuangkan beberapa tetes isi botolnya ke dalam secangkir teh tersebut.</p>

<p>“Nyonya sedang apa?”</p>

<p>Wanita itu begitu terkejut sampai-sampai ia menumpahkan semua isi botol kacanya ke atas meja. Ia langsung menengok ke arah tersangka yang sedang memergokinya.</p>

<p>“Tirta! Kamu membuat saya kaget. Sejak kapan kamu ada di situ!” ucapnya dengan sedikit berbisik namun dengan nada marah.</p>

<p>“Baru aja masuk, nyonya ngapain sih? Fokus banget sampe gak denger saya masuk?” tanya Tirta sang asisten yang terlihat kepo melihat ke arah meja yang sedang di tutup-tutupi oleh Catherine.</p>

<p>“Bukan urusan kamu! Ck, kenapa kamu harus masuk sih? Argh!! Karena kamu sudah maengetahui ini, jangan berani-berani kamu melapor perbuatan saya kepada dia! Awas saja, sampai dia tau mengenai hal ini, habis ka—”</p>

<p>“<em>Dia</em> siapa?”</p>

<p>Suara seseorang memotong omongan Catherine. Tiba-tiba kursi di balik meja yang memang sedaritadi berbalik menghadap dinding, berputar menampakan Januar yang memasang wajah datarnya.</p>

<p>Catherine pun terkegut setengah mati setelah melihat Januar.</p>

<p>“M-mas?? Kok k-kamu ada di sini? Bukannya katanya kamu sedang di luar?” tanya Catherine begitu gelagapan.</p>

<p>“Saya sudah pulang.” jawabnya singkat.</p>

<p>Catherine hanya bisa tersenyum kikuk, lalu ia menyenggol Tirta yang berada di sebelahnya.</p>

<p>“Kenapa kamu tidak bilang ke saya?” tanyanya sambil berbisik namun nadanya tegas.</p>

<p>“Lah, saya ke sini karena ngeliat nyonya masuk. Saya sebenernya mau ngasih tau tadi.” jawab Tirta terus terang.</p>

<p>Jantung Catherine berdegup kencang, kulitnya mengeluarkan banyak keringat dan nafasnya tak beraturan. Ia bingung harus bagaimana karena dirinya sudah tertangkap basah.</p>

<p>Sedangkan Januar terlihat sangat biasa saja sambil memasang wajah datarnya. Ia melirik sekilas ke arah cairan yang mulai meluber kemana-mana karena tumpah dan ia hanya diam seperti tidak terjadi apa-apa.</p>

<p>“M-mas aku bisa jel—”</p>

<p>“Saya sebenarnya senang kamu berada di sini, jadi saya tidak perlu repot-repot memanggil mu.” ucap Januar yang menatap istrinya dengan tatapan tajam.</p>

<p>Catherine meneguk air liurnya sendiri.</p>

<p>Januar mengangkat tangannya sambil menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada Tirta untuk mendatanginya. Sang asisten pun datang sambil meletakkan satu map di atas meja.</p>

<p>“Coba kamu muka map itu.” perintah Januar kepada istrinya.</p>

<p>Catherine hanya bisa was-was sambil mengambil dan membuka map coklat yang ada di atas meja. Di dalam mapnya terdapat banyak foto-foto yang membuat Catherine bingung.</p>

<p>“Ini apa mas?”</p>

<p>“Itu adalah bukti foto dari rekaman cctv saat Jevan menaiki motor Javar.”</p>

<p>Terlihat jelas di beberapa foto tersebut, ada seseorang yang menendang dengan sengaja belakang motor yang di tumpangi Jevan sampai-sampai dia menghantam mobil di depannya. Terdapat juga wajah dari pelaku yang melakukan hal tersebut yang terlihat tersenyum setelah melakukan hal itu.</p>

<p>Lagi- lagi Catherine terkejut, “Mas! Jadi kecelakaan Jevan itu di sengaja? Ada yang mencelakai anak kita?” tanyanya dengan perasaan marah yang mulai memuncak.</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Lalu siapa ini yang sengaja mencelakai Jevan?! Kita harus tuntut dia dan jebloskan dia ke penjara mas!” ucap Catherine dengan nada tinggi.</p>

<p>Januar hanya diam sambil menatap tajam Catherine sedari tadi. Entah apa maksud dari tatapan itu, yang pasti Catherine di buat grogi dibuatnya.</p>

<p>Untuk menghindari tatapan Januar, Catherine hanya bisa melihat-lihat foto yang ada di tangannya. Tapi setelah di perhatikan, anak itu terlihat sangat familiar di matanya. Siapa dia?</p>

<p>“Namanya Jordi Wijaya, dia sudah saya laporkan ke polisi, tapi sayangnya dia masih di bawah umur dan tidak bisa di masukkan ke penjara. Dia hanya akan di hukum sesuai dengan perbuatannya.”</p>

<p>“Gak bisa gitu dong mas!” teriak Catherine tak terima.</p>

<p>“Itu sudah hukum nya, saya tidak bisa berbuat apa-apa.”</p>

<p>Catherine menggerutu kesal, bagaimana bisa seseorang yang jelas-jelas mencelakai orang lain tapi dia tidak masuk penjara? Catherine tampak tak terima dengan kenyataan tersebut.</p>

<p>Saat masih melihat-lihat foto, sampailah Catherine pada lembar terakhir yang ada dia dalam map tersebut. Lembaran itu tampak berbeda dari lembaran foto-foto yang ada, lembaran terakhir itu terlihat seperti surat.</p>

<p>“Mas ini...?”</p>

<p>“Itu surat cerai.” jawab Januar singkat tanpa basa-basi.</p>

<p>“Kamu ingin menceraikan aku mas?!” teriakan Catherine menggema di seluruh sudut ruangan, sampai-sampai Tirta menutup kupingnya.</p>

<p>Ruangan seketika hening sejenak.</p>

<p>“Aku ada salah apa mas sama kamu? Kenapa kamu ingin menceraikan aku mas?!”</p>

<p>Januar sudah hafal betul dengan drama sang istri. Ia yakin sebentar lagi istrinya akan menangis sambil memohon-mohon padanya. Januar hanya bisa menghembuskan nafas kasar.</p>

<p>“Tirta.” perintahnya lagi sambil menggerakkan jarinya telunjuknya, mengisyaratkan sang asisten untuk menaruh map kedua yang ia pegang ke atas meja.</p>

<p>Lagi-lagi Januar menyuruh Catherine untuk membuka map tersebut, namun kali ini ia hanya perlu bantuan matanya untuk menyuruh istrinya.</p>

<p>Catherine yang bingung pun mengambil dan membuka map tersebut dengan kasar.</p>

<p>Saat ia melihat isi map nya, betapa terkejut nya dia. Ia sampai tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya terdiam kaku. Jantungnya lagi-lagi berdetak tak karuan, badannya berkeringat dingin dan kakinya gemetar.</p>

<p>Tamat sudah riwayatnya.</p>

<p>“Kamu kira, selama ini saya tidak tau jika kamu berselingkuh dengan rekan kerja saya?”</p>

<p>Pertanyaan Januar bagaikan tamparan yang membangunkan Catherine dari khayalannya selama ini. Ia tak menyangka jika dirinya akan ketahuan. Sudah sampai sejauh mana Januar mengetahui hubungan gelapnya?</p>

<p>Isi dari map kedua adalah foto-foto mesra dari Catherine bersama selingkuhannya. Fotonya terlihat seperti di ambil diam-diam layaknya paparazi. Ia heran, bagaimana ada yang mengetahui dia dan selingkuhannya pergi, padahal tempat yang mereka datangi sangat jarang di ketahui orang termasuk Januar sendiri.</p>

<p>Carherine langsung menengok ke arah tersangka utama yang selama ini selalu mengikutinya. Tirta. Satu-satunya orang yang tau dimana keberadaan dirinya selama ini.</p>

<p>“Jangan salahkan dia, Catherine. Itu memang tugas yang telah saya berikan sejak pertama kali dia menjadi asisten pribadi mu.” ucap Januar setelah melihat tatapan mematikan yang di berikan Catherine kepada Tirta.</p>

<p>“KURANG AJAR KAMU! Jadi selama ini kamu me mata-matai saya?! Dasar penghianat!” teriak Catherine sambil memukuli Tirta bertubi-tubi. Bukan memukul layaknya baku hantam, lebih tepatnya ia seperti memukul anak yang nakal.</p>

<p>Sang asisten pasrah di pukuli, ia menutupi mukanya dengan kedua lengannya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu miris.</p>

<p>“Stop!” ucap Januar sambil menghentikan tangan Catherine yang memukuli Tirta.</p>

<p>“M-mas, aku bisa jelasin.”</p>

<p>“Gak ada yang perlu kamu jelaskan, semua sudah cukup jelas di mata saya.”</p>

<p>Catherine mengepalkan tangannya karena geram dengan semua ini. “Tapi ini semua salah kamu mas! Aku selingkuh itu salah kamu! Dari awal kita menikah, kamu tidak pernah mencintai aku. Tapi tiba-tiba David datang dan memberikan cinta yang ku butuhkan. Ini bukan salah aku mas, tapi ini semua salah kamu!”</p>

<p>Air mata Catherine sudah tumpah dari pelopak matanya. Akhirnya setelah sekian lama dia mengatakan yang sejujurnya juga kepada suaminya.</p>

<p>“Maka dari itu saya ingin menceraikan mu.” ucap Januar tak mau pusing menanggapi celotehan istrinya.</p>

<p>“Gak! Aku gak mau cerai. Aku tau aku salah, tapi aku masih mencintai kamu mas. David hanya menemani ku saja selama ini, tapi mulai sekarang aku akan tinggalkan dia demi kamu. Tapi aku mohon jangan ceraikan aku hanya karena masalah sepele seperti ini.”</p>

<p>“SEPELE KATAMU?!” Amarah Januar akhirnya keluar juga. Sudah dari tadi ia menahan amarahnya.</p>

<p>“Sekarang lihat lembar terakhir di dalam map tersebut!” perintah Januar yang langsung di turuti Catherine.</p>

<p>“Waktu itu, tanpa sepengetahuan mu, aku melakukan test dna kepada ketiga anak ku. Dan hasil dari test dna Jevan mengatakan bahwa dia sama sekali bukan anak saya, karena hasil dnanya tidak cocok ke dna saya, melainkan cocok ke dna selingkuhan mu itu!” jelas Januar panjang lebar dengan nafas yang tidak beraruran saking kesalnya.</p>

<p>Catherine yang baru tau dengan kenyataan ini sangat kaget bukan main. Ia menutup mulutnya dengan tangannya karena saking terkejutnya.</p>

<p>“A-aku gak tau mas... a-aku—”</p>

<p>“Sudah cukup, saya sudah muak dengan semua perbuatan mu.”</p>

<p>Catherine jatuh ke lantai sambil menangis. Ia tak mengira bahwa perbuatannya akan menjadi sejauh ini. Hancur sudah semua rencana yang telah ia buat.</p>

<p>“Satu lagi hal yang perlu kamu tau.” ucap Januar sambil memijat keningnya frustasi.</p>

<p>“Anak yang telah sengaja mencelakai Jevan, adalah anak dari David Wijaya yang mana dia adalah selingkuhan mu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/the-truth</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Jun 2022 15:05:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>To Late</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/januar-saat-ini-sedang-di-hadapkan-oleh-dua-pilihan-yang-sangat-sulit?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[⚠️ Angst&#xA;&#xA;Januar saat ini sedang di hadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. Entah kenapa keduanya bisa dalam keadaan darurat di saat yang bersamaan. Ia benar-benar bingung harus mendahulukan yang mana. Masalahnya, kamar rawat inap mereka berada di lantai yang berbeda. Liliana berada di kamar pasien umum, sedangkan Jevan berada di kamar vvip yang terletak di lantai atas rumah sakit.&#xA;&#xA;Entah mengapa sebenarnya hati kecilnya menyuruhnya untuk mendatangi sang istri terlebih dahulu. Namun pikirannya tidak bisa tenang setelah mengingat Jevan yang keadaannya makin memburuk. Sejak tadi malam, ia sama sekali belum melihat keadaan anaknya karena sibuk untuk mencari informasi mengenai Liliana dan Jamal.&#xA;&#xA;Tanpa pikir panjang ia memutuskan mendatangi Jevan terlebih dahulu. Ia memanggil kedua asistennya, &#34;Kalian ke kamar melati nomor 127, cek keadaannya di sana. Jika ada sesuatu, laporkan pada saya. Sekarang saya ingin ke kamar Jevan terlebih dahulu.&#34; perintahnya kepada ketua asisten dan Leo.&#xA;&#xA;Ia pun langsung bergegas lari menuju kamar Jevan. Setelah melihat pesan dari Catherine maupun Javar, hatinya terus berdegup di atas batas normal dan ia terus merasa cemas, Januar takut suatu hal akan terjadi. &#xA;&#xA;Sesampainya ia di kamar Jevan, ia terkaget bukan main. Nyatanya ia melihat pemandangan Catherine yang sedang menyuapi Jevan buah-buahan dan mengobrol santai. Januar terdiam sebentar setelah panik membanting pintu.&#xA;&#xA;&#34;Mas! Kamu kemana aja sih? Dari semalem aku cariin kamu, kok baru dateng sekarang?&#34; perotes Catherine yang kesal akan sikap Januar yang aneh sejak tadi malam.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bilang keadaan Jevan memburuk?—&#34; tanya Januar yang bingung dengan situasi yang ada saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Maaf mas aku bohong, habisan kamu selalu gak jawab chat sama telfon aku! Masa aku harus bohong kayak gitu, baru kamu dateng? Kamu pikir aku gak repot apa jagain Jevan sendiri? Aku—&#34;&#xA;&#xA;BRAK!&#xA;&#xA;Januar meninju pintu kamar untuk melampiaskan kekesalannya. Amarahnya mulai naik saat mengetahui Catherine yang berbohong mengenai Jevan. &#xA;&#xA;&#34;Diam kamu! Bisa-bisanya kamu berbohong tentang keadaan Jevan?! Kamu pikir saya lagi santai-santai di rumah dari semalam? Tidak! Saya juga punya urusan mendesak lain yang seharusnya tidak saya tinggalkan!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Loh mas? Jadi maksud kamu aku sama Jevan gak penting? Aku udah begadang loh buat jagain Jevan, kamu jangan—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah...&#34; lilir Jevan memotong perdebatan kedua orang tuanya. Jevan terlihat begitu lemas dan tidak berdaya di ranjangnya.&#xA;&#xA;Saat menatap Jevan, hati Januar langsung luluh dari amarah. Ia tak tega melihat anaknya dengan keadaan seperti ini. Sejujurnya ia merasa lega karena Catherine berbohong, artinya Jevan sudah mulai membaik.&#xA;&#xA;&#34;Anak ayah gimana keadaannya?&#34;tanya nya lembut sambil mengelus rambut Jevan.&#xA;&#xA;&#34;Udah sehat yah, kayaknya mah aku juga udah bisa pulang hari ini.&#34; ucap Jevan berusaha semangat.&#xA;&#xA;Januar terkekeh melihat kelakuan anak bontotnya yang memang selalu ceria.&#xA;&#xA;&#34;Bang Javar mana yah?&#34; tanya Jevan yang sedari tadi memang tidak melihat keberadaan Javar di kamarnya.&#xA;&#xA;&#34;Javar ada di—&#34;&#xA;&#xA;Ting! Ting! Ting!&#xA;&#xA;Omongannya terhenti karena merasa ponselnya berbunyi terus menerus. Heran, siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini?&#xA;&#xA;Tapi setelah membaca pesan di ponselnya, seketika kakinya terlemas, jantungnya serasa lepas dari tempatnya, dan sesak seketika melanda dadanya.&#xA;&#xA;Januar langsung berlari keluar dari kamar rawat inap Jevan menuju lantai kamar sang istrinya berada. Ia tampak tak memperdulikan Catherine yang meneriaki namanya, ia tetap berlari dengan sekuat tenaga. &#xA;&#xA;Akhirnya langkahnya semakin melambat seraya dirinya sampai di depan kamar tersebut. &#xA;&#xA;Tangannya seketika gemetar untuk membuka knop pintu, ia sebenarnya enggan untuk masuk karena tidak mau mengetahui kenyataan tersebut. Namun akhirnya di putarnya juga knop pintu tersebut dan langsung memperlihatkan suasana yang sangat kacau.&#xA;&#xA;Terlihat dokter dan kedua asistennya yang hanya bisa menunduk, Javar dan Jamal yang sudah terlihat tak berdaya tersimpuh di lantai sambil meneteskan air mata, dan juga sang istri yang sudah terbujur kaku di ranjangnya.&#xA;&#xA;Januar terdiam beberapa saat, mencerna situasi yang ada saat ini, lalu melangkah masuk menghampiri sang istri. &#xA;&#xA;No.... ini tidak mungkin terjadi.&#xA;&#xA;Rasanya dunia seakan runtuh, ia mendadak kehilangan keseimbangannya saat melihat sang istri yang tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Tangannya ia arahkan ke pipi sang istri sambil mengelusnya.&#xA;&#xA;&#34;Ana..?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hey? Kok tidur?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Liliana..bangun sayang...&#34;&#xA;&#xA;Merasa tidak ada respon dari sang istri, ia mulai sedikit menggoncang bahu istrinya. Namun tetap sama, tidak ada respon darinya.&#xA;&#xA;&#34;Pak, mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa istri, bapak. Beliau mengalami pendarahan di dalam tubuhnya pasca operasi. Kami sudah berusaha menyelamatkannya tapi sudah terlambat.&#34; jelas sang dokter yang merasa bersalah.&#xA;&#xA;Masih ingin menyangkal ucapan sang dokter, Januar meletakkan dua jarinya di leher sang istri, lalu lanjut menaruh telunjuk nya di depan idung sang istri. &#xA;&#xA;Namun sayang, nadi maupun nafasnya sudah tidak terasa.&#xA;&#xA;Liliana sudah pergi.&#xA;&#xA;&#34;Ayah... ini gak mungkin kan? Gak mungkin bunda udah pergi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak mungkin bunda pergi! Barusan bunda janji gak bakal kemana-mana. Tadi bunda udah janji!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah, tolong bangunin bunda..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bunda... bangun yuk? Kita pulang ke rumah sama ayah. Bunda belum pernah ke rumah Javar kan? Yuk kita ke sana, tapi bunda haru bangun dulu. Bun..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bunda ayo bangun..&#34; lirih Jamal yang semakin putus asa.&#xA;&#xA;&#34;Bunda tega sama Javar! Javar baru aja ketemu bunda, tapi kenapa udah di tinggal lagi? Apa bunda gak suka sama Javar karena Javar bandel? Maafin Javar bun..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Javar...&#34; bisik Januar sambil menenangkan Javar yang hilang kendali sambil menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Jamal terlihat diam menatap ke arah sang ibunda dengan tatapan kosong dan sambil sesekali meneteskan air matanya.&#xA;&#xA;Hatinya semakin sakit melihat kedua anaknya. Baru hari ini dia bertemu kembali dengan wanitanya setelah terpisah selama 17 tahun dan hari ini pula ia di tinggal pergi untuk selama-lamanya.&#xA;&#xA;Rasanya sangat menyesakkan. Saat ini Januar bahkan hampir lupa caranya bernafas karena saking sesak dadanya. Ia memukul-mukul dadanya karena kesulitan untuk bernafas.&#xA;&#xA;Dan setelah nafasnya kembali seperti semula, ia hanya bisa memejamkan matanya. Mungkin memang ini ganjaran yang harus dia dapatkan, karena perbuatan ibunya di masa lalu. Tapi setidaknya saat ini Liliana sudah tidak merasa sakit lagi.&#xA;&#xA;Dengan segenap hati, ia dekatkan wajahnya ke wajah sang istri, lalu mencium kening nya untuk yang terakhir kali. Air matanya yang sudah ia tahan akhirnya menetes membasahi wajah sang istri. &#xA;&#xA;Jika ini memang yang terbaik, Januar ikhlas menghadapi kenyataan ini. Ia bersyukur, setidaknya sudah di pertemukan kembali dengan belahan jiwanya walau hanya dalam waktu yang sangat sebentar.&#xA;&#xA;Januar hanya menyesal tidak bisa menemani istrinya di saat-saat terakhirnya.&#xA;&#xA;Andai tadi dia mengikuti kata hatinya. Andai tadi dia lebih memilih istrinya terlebih dahulu dibanding Jevan. Andai jika ia tidak terlambat.&#xA;&#xA;Mungkin, ini semua tidak akan terjadi.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>⚠️ Angst</p>

<p>Januar saat ini sedang di hadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. Entah kenapa keduanya bisa dalam keadaan darurat di saat yang bersamaan. Ia benar-benar bingung harus mendahulukan yang mana. Masalahnya, kamar rawat inap mereka berada di lantai yang berbeda. Liliana berada di kamar pasien umum, sedangkan Jevan berada di kamar vvip yang terletak di lantai atas rumah sakit.</p>

<p>Entah mengapa sebenarnya hati kecilnya menyuruhnya untuk mendatangi sang istri terlebih dahulu. Namun pikirannya tidak bisa tenang setelah mengingat Jevan yang keadaannya makin memburuk. Sejak tadi malam, ia sama sekali belum melihat keadaan anaknya karena sibuk untuk mencari informasi mengenai Liliana dan Jamal.</p>

<p>Tanpa pikir panjang ia memutuskan mendatangi Jevan terlebih dahulu. Ia memanggil kedua asistennya, “Kalian ke kamar melati nomor 127, cek keadaannya di sana. Jika ada sesuatu, laporkan pada saya. Sekarang saya ingin ke kamar Jevan terlebih dahulu.” perintahnya kepada ketua asisten dan Leo.</p>

<p>Ia pun langsung bergegas lari menuju kamar Jevan. Setelah melihat pesan dari Catherine maupun Javar, hatinya terus berdegup di atas batas normal dan ia terus merasa cemas, Januar takut suatu hal akan terjadi.</p>

<p>Sesampainya ia di kamar Jevan, ia terkaget bukan main. Nyatanya ia melihat pemandangan Catherine yang sedang menyuapi Jevan buah-buahan dan mengobrol santai. Januar terdiam sebentar setelah panik membanting pintu.</p>

<p>“Mas! Kamu kemana aja sih? Dari semalem aku cariin kamu, kok baru dateng sekarang?” perotes Catherine yang kesal akan sikap Januar yang aneh sejak tadi malam.</p>

<p>“Kamu bilang keadaan Jevan memburuk?—” tanya Januar yang bingung dengan situasi yang ada saat ini.</p>

<p>“Maaf mas aku bohong, habisan kamu selalu gak jawab chat sama telfon aku! Masa aku harus bohong kayak gitu, baru kamu dateng? Kamu pikir aku gak repot apa jagain Jevan sendiri? Aku—”</p>

<p>BRAK!</p>

<p>Januar meninju pintu kamar untuk melampiaskan kekesalannya. Amarahnya mulai naik saat mengetahui Catherine yang berbohong mengenai Jevan.</p>

<p>“Diam kamu! Bisa-bisanya kamu berbohong tentang keadaan Jevan?! Kamu pikir saya lagi santai-santai di rumah dari semalam? Tidak! Saya juga punya urusan mendesak lain yang seharusnya tidak saya tinggalkan!”</p>

<p>“Loh mas? Jadi maksud kamu aku sama Jevan gak penting? Aku udah begadang loh buat jagain Jevan, kamu jangan—”</p>

<p>“Ayah...” lilir Jevan memotong perdebatan kedua orang tuanya. Jevan terlihat begitu lemas dan tidak berdaya di ranjangnya.</p>

<p>Saat menatap Jevan, hati Januar langsung luluh dari amarah. Ia tak tega melihat anaknya dengan keadaan seperti ini. Sejujurnya ia merasa lega karena Catherine berbohong, artinya Jevan sudah mulai membaik.</p>

<p>“Anak ayah gimana keadaannya?“tanya nya lembut sambil mengelus rambut Jevan.</p>

<p>“Udah sehat yah, kayaknya mah aku juga udah bisa pulang hari ini.” ucap Jevan berusaha semangat.</p>

<p>Januar terkekeh melihat kelakuan anak bontotnya yang memang selalu ceria.</p>

<p>“Bang Javar mana yah?” tanya Jevan yang sedari tadi memang tidak melihat keberadaan Javar di kamarnya.</p>

<p>“Javar ada di—”</p>

<p>Ting! Ting! Ting!</p>

<p>Omongannya terhenti karena merasa ponselnya berbunyi terus menerus. Heran, siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini?</p>

<p>Tapi setelah membaca pesan di ponselnya, seketika kakinya terlemas, jantungnya serasa lepas dari tempatnya, dan sesak seketika melanda dadanya.</p>

<p>Januar langsung berlari keluar dari kamar rawat inap Jevan menuju lantai kamar sang istrinya berada. Ia tampak tak memperdulikan Catherine yang meneriaki namanya, ia tetap berlari dengan sekuat tenaga.</p>

<p>Akhirnya langkahnya semakin melambat seraya dirinya sampai di depan kamar tersebut.</p>

<p>Tangannya seketika gemetar untuk membuka knop pintu, ia sebenarnya enggan untuk masuk karena tidak mau mengetahui kenyataan tersebut. Namun akhirnya di putarnya juga knop pintu tersebut dan langsung memperlihatkan suasana yang sangat kacau.</p>

<p>Terlihat dokter dan kedua asistennya yang hanya bisa menunduk, Javar dan Jamal yang sudah terlihat tak berdaya tersimpuh di lantai sambil meneteskan air mata, dan juga sang istri yang sudah terbujur kaku di ranjangnya.</p>

<p>Januar terdiam beberapa saat, mencerna situasi yang ada saat ini, lalu melangkah masuk menghampiri sang istri.</p>

<p><em>No.... ini tidak mungkin terjadi.</em></p>

<p>Rasanya dunia seakan runtuh, ia mendadak kehilangan keseimbangannya saat melihat sang istri yang tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Tangannya ia arahkan ke pipi sang istri sambil mengelusnya.</p>

<p>“Ana..?”</p>

<p>“Hey? Kok tidur?”</p>

<p>“Liliana..bangun sayang...”</p>

<p>Merasa tidak ada respon dari sang istri, ia mulai sedikit menggoncang bahu istrinya. Namun tetap sama, tidak ada respon darinya.</p>

<p>“Pak, mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa istri, bapak. Beliau mengalami pendarahan di dalam tubuhnya pasca operasi. Kami sudah berusaha menyelamatkannya tapi sudah terlambat.” jelas sang dokter yang merasa bersalah.</p>

<p>Masih ingin menyangkal ucapan sang dokter, Januar meletakkan dua jarinya di leher sang istri, lalu lanjut menaruh telunjuk nya di depan idung sang istri.</p>

<p>Namun sayang, nadi maupun nafasnya sudah tidak terasa.</p>

<p>Liliana sudah pergi.</p>

<p>“Ayah... ini gak mungkin kan? Gak mungkin bunda udah pergi?”</p>

<p>“Gak mungkin bunda pergi! Barusan bunda janji gak bakal kemana-mana. Tadi bunda udah janji!”</p>

<p>“Ayah, tolong bangunin bunda..”</p>

<p>“Bunda... bangun yuk? Kita pulang ke rumah sama ayah. Bunda belum pernah ke rumah Javar kan? Yuk kita ke sana, tapi bunda haru bangun dulu. Bun..”</p>

<p>“Bunda ayo bangun..” lirih Jamal yang semakin putus asa.</p>

<p>“Bunda tega sama Javar! Javar baru aja ketemu bunda, tapi kenapa udah di tinggal lagi? Apa bunda gak suka sama Javar karena Javar bandel? Maafin Javar bun..”</p>

<p>“Javar...” bisik Januar sambil menenangkan Javar yang hilang kendali sambil menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Jamal terlihat diam menatap ke arah sang ibunda dengan tatapan kosong dan sambil sesekali meneteskan air matanya.</p>

<p>Hatinya semakin sakit melihat kedua anaknya. Baru hari ini dia bertemu kembali dengan wanitanya setelah terpisah selama 17 tahun dan hari ini pula ia di tinggal pergi untuk selama-lamanya.</p>

<p>Rasanya sangat menyesakkan. Saat ini Januar bahkan hampir lupa caranya bernafas karena saking sesak dadanya. Ia memukul-mukul dadanya karena kesulitan untuk bernafas.</p>

<p>Dan setelah nafasnya kembali seperti semula, ia hanya bisa memejamkan matanya. Mungkin memang ini ganjaran yang harus dia dapatkan, karena perbuatan ibunya di masa lalu. Tapi setidaknya saat ini Liliana sudah tidak merasa sakit lagi.</p>

<p>Dengan segenap hati, ia dekatkan wajahnya ke wajah sang istri, lalu mencium kening nya untuk yang terakhir kali. Air matanya yang sudah ia tahan akhirnya menetes membasahi wajah sang istri.</p>

<p>Jika ini memang yang terbaik, Januar ikhlas menghadapi kenyataan ini. Ia bersyukur, setidaknya sudah di pertemukan kembali dengan belahan jiwanya walau hanya dalam waktu yang sangat sebentar.</p>

<p>Januar hanya menyesal tidak bisa menemani istrinya di saat-saat terakhirnya.</p>

<p>Andai tadi dia mengikuti kata hatinya. Andai tadi dia lebih memilih istrinya terlebih dahulu dibanding Jevan. Andai jika ia tidak terlambat.</p>

<p>Mungkin, ini semua tidak akan terjadi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/januar-saat-ini-sedang-di-hadapkan-oleh-dua-pilihan-yang-sangat-sulit</guid>
      <pubDate>Sun, 12 Jun 2022 09:15:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bunda</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/bunda-zy5j?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Liliana.&#xA;&#xA;Hanya nama itu lah yang Javar ketahui mengenai ibu kandungnya. Ia sama sekali tidak punya petunjuk untuk mencari dimana makam sang ibu yang baru tadi malam ia ketahui rupanya sudah meninggal karena malahirkannya.&#xA;&#xA;Javar duduk meringkuk memeluk kakinya, menenggelamkan wajahnya di lututnya.&#xA;&#xA;Dapat di pastikan saat ini kondisi Javar sudah seperti anak hilang yang dekil, duduk meringkuk di salah satu bangku kantin rumah sakit. &#xA;&#xA;&#34;Javar?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar namanya di panggil, ia mendongak dan melihat seorang Jamal yang menatapnya khawatir.&#xA;&#xA;&#34;Lu gak papa? Kenapa lu bisa ada di sini?&#34; tanya Jamal lalu duduk di sebelah Javar yang membuang mukanya tak mau menatap Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Jav, lu lagi-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bacot! Bisa diem gak sih lo?!&#34;&#xA;&#xA;Seketika mulut Jamal tertutup rapat karena di bentak Javar. Namun tak beberapa lama kemudia ia berbicara lagi dengan nada suara yang lebih lembut.&#xA;&#xA;&#34;Jav, lu boleh kok sharing masalah lu ke gue. Gue bakal dengerin apapun itu tapi tolong jangan nyimpen masalah lu sendirian. Itu gak baik, Jav.&#34;&#xA;&#xA;Entah apa yang sudah Jamal lakukan, tapi saat ini dinding kokoh yang ada di hati Javar sudah hancur. Begitu pula pertahanan air matanya. &#xA;&#xA;&#34;G-gue udah bikin Epan celaka, Mal. Gue— gue gak becus jadi abang. Ini semua salah gue Mal.&#34; ucap Javar dengan isak tangis yang makin menjadi-jadi.&#xA;&#xA;Jamal dengan sabar mendengar semua cerita Javar, dari kejadian Jevan maupun kejadian ibunya, Javar tidak tahan menyimpannya sendiri. Di saat itu pula lah Jamal tau, bahwa Javar tidak sekuat yang ia pikirkan. Dirinya juga begitu sedih mengetahui bahwa Javar menanggung beban yang berat juga.&#xA;&#xA;Setelah mungkin hampir 20 menit Javar menumpahkan bebannya, akhirnya ia bisa tenang dan lega. Walaupun peran Jamal di sini hanya sebagai pendengar dan sama sekali tidak memberi nasehat apapun, entah mengapa hal sepele itu sangatlah berarti bagi Javar. &#xA;&#xA;Selama ini ia hanya ingin di dengar.&#xA;&#xA;&#34;Sorry Mal, gue gak tau mau cerita ke siapa lagi. Makasih udah mau dengerin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya Jav, gue bakal selalu ada di sini kalo lu butuh gue. Dan gue mau lu jangan nyalain diri lu sendiri lagi ya? Semua emang udah jalannya.&#34; ujar Jamal sambil menepuk pundak Javar, yang membuatnya sedikit tenang.&#xA;&#xA;&#34;Nah sekarang, mending lu ikut gue ke kamar bunda gue. Kita sarapan di sana aja, nih gue udah beli makanan. Gue yakin lu belum makan kan?&#34; tanya Jamal sambil berdiri dari duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Gak usah Mal, gue-&#34; omongan Javar terhenti sesaat ia tak merasakan keberadaan dompetnya di sakunya.&#xA;&#xA;&#34;Ayo.&#34; ajak Jamal yang sudah berjalan duluan. Javar mau tak mau mengikuti Jamal karena ia tak bisa bohong jika perutnya sudah sangat kelaparan.&#xA;&#xA;&#34;Ngomong-ngomong lu kenapa ada di sini? Bunda lu sakit?&#34; tanya Javar memecah keheningan.&#xA;&#xA;&#34;Iya, bunda gue abis operasi usus buntu.&#34; jawab Jamal singkat.&#xA;&#xA;Tak lama mereka sampai di depan pintu kamar no.127. Jamal memutar knop pintunya dan masuk ke dalam duluan dan di ikuti dengan Javar di belakangnya. Namun anehnya ia menemukan sang ibunda yang tidak sendirian di dalam kamarnya, karena ada seorang laki-laki yang memunggunginya dan terlihat sedang mengobrol dengan bundanya.&#xA;&#xA;&#34;Bunda?&#34; panggilnya dan membuat laki-laki yang tadi membalikkan badannya.&#xA;&#xA;Terlihatlah wajah laki-laki tersebut, dia lelaki paruh baya yang wajahnya begitu tidak asing bagi Jamal. Sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat.&#xA;&#xA;&#34;Ayah?&#34; tanya Javar setelah melihat lelaki paruh baya itu.&#xA;&#xA;Jamal yang mendengarnya seketika mengerutkan alis. Benar juga, Jamal pernah melihat laki-laki itu di rumah Javar. Tapi kenapa dia ada di dalam kamar sang ibundanya saat ini?&#xA;&#xA;&#34;Javar kamu kenapa ada di sin–&#34;omongan Januar terhenti sesaat melihat orang di sebelah Javar.&#xA;&#xA;Ia tersentak kaget setelah menyadari siapa anak SMA tersebut. Tanpa meragukan apapun, ia begitu yakin bahwa itu adalah anak kembarnya yang selama ini ia kira sudah tiada. Di tambah lagi, saat ini Jamal tidak mengenakan kaca matanya karena masih rusak setelah kejadian di cafe, memperkuat keyakinannya bahwa itu adalah kembaran Javar. Karena mau bagaimana pun mereka berdua sebenarnya mirip.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Januar meneteskan air matanya. &#34;Jamaliel? Itu benar kamu kan?&#34; ucapnya sambil memeluk Jamal yang kebingungan setengah mati. &#xA;&#xA;Jamal hanya bisa terdiam dan terbingung saat di peluk oleh lelaki asing yang ada di kamar bundanya. Javar yang berada di sebelah Jamal pun tak kalah bingung melihat kelakuan ayahnya yang aneh.&#xA;&#xA;&#34;Maaf om, kayaknya om salah orang. Nama saya Jamal Jaenudin, bukan Jamaliel.&#34; ucap Jamal membenarkan namanya dan mendorong lelaki paruh baya itu agar tidak memeluknya lagi.&#xA;&#xA;Januar yang mendengarnya spontan membalikkan badannya menatap Liliana yang juga menangis melihat siapa yang datang bersama Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Kamu serius mengganti nama dia jadi seperti itu?&#34;tanya Januar dengan sedikit kekesalan. Sedangkan Liliana hanya terkekeh sambil menangis bahagia. &#xA;&#xA;Di samping mereka, Javar yang hanya menonton semua kejadian ini makin tidak punya petunjuk. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? &#xA;&#xA;&#34;Sebentar-sebentar, ini tuh ada apa? Aku gak ngerti sama sekali.&#34; ucap Javar yang di jawab anggukkan oleh Jamal.&#xA;&#xA;Januar hanya bisa tersenyum simpul sambil balik menuju ranjang Liliana dan merangkulnya. &#34;Javar, ini itu bunda kandung kamu. Dan Jamaliel, saya itu ayah kandung kamu. Dan kalian berdua itu adalah anak kembar kami.&#34;&#xA;&#xA;&#34;HAH?!&#34;&#xA;&#xA;Jika ini hanya lelucon, maka lelucon ini benar-benar tidak lucu. Begitu banyak kenyataan yang Javar maupun Jamal baru ketahui, namun kenyataan yang satu ini sangatlah tidak masuk akal. Mereka berdua kehabisan kata-kata dan hanya menatap satu sama lain.&#xA;&#xA;Namun jika di pikir-pikir, ini semua dapat menjelaskan kenapa seorang Javar begitu peduli terhadap seorang Jamal dan begitu juga sebaliknya. Semenjak bertemu mereka merasa seperti terlengkapi dan memenuhi satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagaimana bisa?&#xA;&#xA;&#34;Javar Jumantara Jeandro dan Jamaliel Jaenudin Jeandro. Selamat ulang tahun nak.&#34; ucap Liliana yang tersenyum manis setelah bahagia melihat kedua anak kembarnya bersatu kembali setelah di pisahkan selama 17 tahun lamanya.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Javar terkaget karena mendengar nama panjangnya di sebutkan dengan sangat lengkap oleh orang asing. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun mengenai nama tengahnya, tapi bagaimana wanita ini bisa tau?&#xA;&#xA;Di tambah lagi bagaimana dia bisa tau hari ini ulang tahunnya?&#xA;&#xA;Liliana membentangkan tangannya lebar, saat melihat Javar yang mulai tersadar dan menangis, lalu dia mulai menghampiri Liliana dan memeluknya. Ia pun juga ikut menangis, akhirnya saat ini terjadi juga, saat dimana ia bisa memeluk anaknya yang di pisahkan darinya.&#xA;&#xA;&#34;Bunda.&#34; panggil Javar sambil menangis sejadi-jadinya.&#xA;&#xA;Tadi sempat ada keraguan di diri Javar, tapi entah mengapa feeling nya mengatakan Liliana memang adalah ibu kandungnya. &#xA;&#xA;Dan benar saja, saat ia memeluk bundanya, ia dapat merasakan kenyamanan dan ke hangatan yang ia cari selama ini. Jika di bandingkan saat Catherine memeluknya, rasanya begitu hambar dan biasa saja. Ia merasa begitu aman di dalam pelukan bundanya, rasanya ia tak ingin melepaskan pelukan ini selamanya.&#xA;&#xA;&#34;Bunda, bilang ini cuma bercanda! Ini semua boongan kan?&#34; tanya Jamal yang sangat ingin menyangkal kenyataan ini.&#xA;&#xA;Liliana melepas pelukannya dengan Javar dan menatap bingung Jamal. &#34;Engga sayang, ini semua benar.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar kebenaran yang di ucapkan sang ibunda. Jamal seketika mendekat ke arah Januar dan mencengkram kerah kemeja Januar dengan sangat kuat. &#xA;&#xA;&#34;Selama ini Anda kemana saja?! Apa Anda tau betapa menderitanya bunda saya karena Anda pergi meninggalkan kami berdua? Kenapa Anda baru datang sekarang? KENAPA?!&#34; teriak Jamal yang di selimuti kemarahan, ia sudah begitu lama menyimpan kemarahan ini sendirian.&#xA;&#xA;&#34;Jamaliel, tolong dengar penjelasan ayah-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang perlu di jelasin lagi! Anda sudah tega meninggalkan kami, dan karena itu saya gak sudi panggil Anda dengan sebutan ayah&#34;&#xA;&#xA;&#34;JAMAL!&#34;&#xA;&#xA;Jamal tersentak dan langsung terdiam saat Januat membentaknya. Ia melepas cengkramannya namun wajah dan tatapannya masih menunjukkan kemarahan nya dan air matanya masih terus bercucuran. &#xA;&#xA;&#34;Tolong dengar penjelasan ayah dulu baru kamu boleh berkomentar. Saya tidak pernah meninggalkan kalian dan walaupun saya di paksa saya tidak akan pernah mau. Ini semua perbuatan seseorang yang tidak pernah merestui hubungan ayah dan bunda mu. Dan setelah orang itu meninggal, saya baru tahu kebenarannya bahwa kalian berdua masih hidup. Maka dari itu saya pindah ke sini karena ingin mencari keberadaan kalian. Jadi ayah mohon kamu jangan salah sangka, ayah gak mau kamu membenci ayah, karena ayah sayang sekali sama kamu, Javar dan juga bunda kalian.&#34;&#xA;&#xA;Mereka berempat saling menatap dengan air mata yang bergelinang. Jamal yang mendengar penjelasan sebenarnya dari sang ayah, seketika merasa bersalah karena sudah menyimpan dendam terhadap ayahnya. &#xA;&#xA;&#34;Sini kalian semua.&#34;&#xA;&#xA;Ayahnya menarik kedua anaknya ke arah dirinya dan istrinya. Mereka akhirnya saling berpelukan melepas rindu dan menumpahkan rasa kasih sayang satu sama lain.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan ayah ya nak, ayah dan bunda sangat amat menyayangi kalian. Selamat ulang tahun jagoan-jagoan ayah bunda&#34; ucap Januar sambil mengecup puncak kepala anaknya dan juga sang istri.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Liliana.</em></p>

<p>Hanya nama itu lah yang Javar ketahui mengenai ibu kandungnya. Ia sama sekali tidak punya petunjuk untuk mencari dimana makam sang ibu yang baru tadi malam ia ketahui rupanya sudah meninggal karena malahirkannya.</p>

<p>Javar duduk meringkuk memeluk kakinya, menenggelamkan wajahnya di lututnya.</p>

<p>Dapat di pastikan saat ini kondisi Javar sudah seperti anak hilang yang dekil, duduk meringkuk di salah satu bangku kantin rumah sakit.</p>

<p>“Javar?”</p>

<p>Mendengar namanya di panggil, ia mendongak dan melihat seorang Jamal yang menatapnya khawatir.</p>

<p>“Lu gak papa? Kenapa lu bisa ada di sini?” tanya Jamal lalu duduk di sebelah Javar yang membuang mukanya tak mau menatap Jamal.</p>

<p>“Jav, lu lagi-”</p>

<p>“Bacot! Bisa diem gak sih lo?!”</p>

<p>Seketika mulut Jamal tertutup rapat karena di bentak Javar. Namun tak beberapa lama kemudia ia berbicara lagi dengan nada suara yang lebih lembut.</p>

<p>“Jav, lu boleh kok <em>sharing</em> masalah lu ke gue. Gue bakal dengerin apapun itu tapi tolong jangan nyimpen masalah lu sendirian. Itu gak baik, Jav.”</p>

<p>Entah apa yang sudah Jamal lakukan, tapi saat ini dinding kokoh yang ada di hati Javar sudah hancur. Begitu pula pertahanan air matanya.</p>

<p>“G-gue udah bikin Epan celaka, Mal. Gue— gue gak becus jadi abang. Ini semua salah gue Mal.” ucap Javar dengan isak tangis yang makin menjadi-jadi.</p>

<p>Jamal dengan sabar mendengar semua cerita Javar, dari kejadian Jevan maupun kejadian ibunya, Javar tidak tahan menyimpannya sendiri. Di saat itu pula lah Jamal tau, bahwa Javar tidak sekuat yang ia pikirkan. Dirinya juga begitu sedih mengetahui bahwa Javar menanggung beban yang berat juga.</p>

<p>Setelah mungkin hampir 20 menit Javar menumpahkan bebannya, akhirnya ia bisa tenang dan lega. Walaupun peran Jamal di sini hanya sebagai pendengar dan sama sekali tidak memberi nasehat apapun, entah mengapa hal sepele itu sangatlah berarti bagi Javar.</p>

<p>Selama ini ia hanya ingin di dengar.</p>

<p>“Sorry Mal, gue gak tau mau cerita ke siapa lagi. Makasih udah mau dengerin.”</p>

<p>“Iya Jav, gue bakal selalu ada di sini kalo lu butuh gue. Dan gue mau lu jangan nyalain diri lu sendiri lagi ya? Semua emang udah jalannya.” ujar Jamal sambil menepuk pundak Javar, yang membuatnya sedikit tenang.</p>

<p>“Nah sekarang, mending lu ikut gue ke kamar bunda gue. Kita sarapan di sana aja, nih gue udah beli makanan. Gue yakin lu belum makan kan?” tanya Jamal sambil berdiri dari duduknya.</p>

<p>“Gak usah Mal, gue-” omongan Javar terhenti sesaat ia tak merasakan keberadaan dompetnya di sakunya.</p>

<p>“Ayo.” ajak Jamal yang sudah berjalan duluan. Javar mau tak mau mengikuti Jamal karena ia tak bisa bohong jika perutnya sudah sangat kelaparan.</p>

<p>“Ngomong-ngomong lu kenapa ada di sini? Bunda lu sakit?” tanya Javar memecah keheningan.</p>

<p>“Iya, bunda gue abis operasi usus buntu.” jawab Jamal singkat.</p>

<p>Tak lama mereka sampai di depan pintu kamar no.127. Jamal memutar knop pintunya dan masuk ke dalam duluan dan di ikuti dengan Javar di belakangnya. Namun anehnya ia menemukan sang ibunda yang tidak sendirian di dalam kamarnya, karena ada seorang laki-laki yang memunggunginya dan terlihat sedang mengobrol dengan bundanya.</p>

<p>“Bunda?” panggilnya dan membuat laki-laki yang tadi membalikkan badannya.</p>

<p>Terlihatlah wajah laki-laki tersebut, dia lelaki paruh baya yang wajahnya begitu tidak asing bagi Jamal. Sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat.</p>

<p>“Ayah?” tanya Javar setelah melihat lelaki paruh baya itu.</p>

<p>Jamal yang mendengarnya seketika mengerutkan alis. Benar juga, Jamal pernah melihat laki-laki itu di rumah Javar. Tapi kenapa dia ada di dalam kamar sang ibundanya saat ini?</p>

<p>“Javar kamu kenapa ada di sin–”omongan Januar terhenti sesaat melihat orang di sebelah Javar.</p>

<p>Ia tersentak kaget setelah menyadari siapa anak SMA tersebut. Tanpa meragukan apapun, ia begitu yakin bahwa itu adalah anak kembarnya yang selama ini ia kira sudah tiada. Di tambah lagi, saat ini Jamal tidak mengenakan kaca matanya karena masih rusak setelah kejadian di cafe, memperkuat keyakinannya bahwa itu adalah kembaran Javar. Karena mau bagaimana pun mereka berdua sebenarnya mirip.</p>

<p>Lagi-lagi Januar meneteskan air matanya. “Jamaliel? Itu benar kamu kan?” ucapnya sambil memeluk Jamal yang kebingungan setengah mati.</p>

<p>Jamal hanya bisa terdiam dan terbingung saat di peluk oleh lelaki asing yang ada di kamar bundanya. Javar yang berada di sebelah Jamal pun tak kalah bingung melihat kelakuan ayahnya yang aneh.</p>

<p>“Maaf om, kayaknya om salah orang. Nama saya Jamal Jaenudin, bukan Jamaliel.” ucap Jamal membenarkan namanya dan mendorong lelaki paruh baya itu agar tidak memeluknya lagi.</p>

<p>Januar yang mendengarnya spontan membalikkan badannya menatap Liliana yang juga menangis melihat siapa yang datang bersama Jamal.</p>

<p>“Kamu serius mengganti nama dia jadi seperti itu?“tanya Januar dengan sedikit kekesalan. Sedangkan Liliana hanya terkekeh sambil menangis bahagia.</p>

<p>Di samping mereka, Javar yang hanya menonton semua kejadian ini makin tidak punya petunjuk. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?</p>

<p>“Sebentar-sebentar, ini tuh ada apa? Aku gak ngerti sama sekali.” ucap Javar yang di jawab anggukkan oleh Jamal.</p>

<p>Januar hanya bisa tersenyum simpul sambil balik menuju ranjang Liliana dan merangkulnya. “Javar, ini itu bunda kandung kamu. Dan Jamaliel, saya itu ayah kandung kamu. Dan kalian berdua itu adalah anak <em>kembar</em> kami.”</p>

<p><em>“HAH?!”</em></p>

<p>Jika ini hanya lelucon, maka lelucon ini benar-benar tidak lucu. Begitu banyak kenyataan yang Javar maupun Jamal baru ketahui, namun kenyataan yang satu ini sangatlah tidak masuk akal. Mereka berdua kehabisan kata-kata dan hanya menatap satu sama lain.</p>

<p>Namun jika di pikir-pikir, ini semua dapat menjelaskan kenapa seorang Javar begitu peduli terhadap seorang Jamal dan begitu juga sebaliknya. Semenjak bertemu mereka merasa seperti terlengkapi dan memenuhi satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagaimana bisa?</p>

<p>“Javar Jumantara Jeandro dan Jamaliel Jaenudin Jeandro. Selamat ulang tahun nak.” ucap Liliana yang tersenyum manis setelah bahagia melihat kedua anak kembarnya bersatu kembali setelah di pisahkan selama 17 tahun lamanya.</p>

<p>Lagi-lagi Javar terkaget karena mendengar nama panjangnya di sebutkan dengan sangat lengkap oleh orang asing. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun mengenai nama tengahnya, tapi bagaimana wanita ini bisa tau?</p>

<p>Di tambah lagi bagaimana dia bisa tau hari ini ulang tahunnya?</p>

<p>Liliana membentangkan tangannya lebar, saat melihat Javar yang mulai tersadar dan menangis, lalu dia mulai menghampiri Liliana dan memeluknya. Ia pun juga ikut menangis, akhirnya saat ini terjadi juga, saat dimana ia bisa memeluk anaknya yang di pisahkan darinya.</p>

<p>“Bunda.” panggil Javar sambil menangis sejadi-jadinya.</p>

<p>Tadi sempat ada keraguan di diri Javar, tapi entah mengapa <em>feeling</em> nya mengatakan Liliana memang adalah ibu kandungnya.</p>

<p>Dan benar saja, saat ia memeluk bundanya, ia dapat merasakan kenyamanan dan ke hangatan yang ia cari selama ini. Jika di bandingkan saat Catherine memeluknya, rasanya begitu hambar dan biasa saja. Ia merasa begitu aman di dalam pelukan bundanya, rasanya ia tak ingin melepaskan pelukan ini selamanya.</p>

<p>“Bunda, bilang ini cuma bercanda! Ini semua boongan kan?” tanya Jamal yang sangat ingin menyangkal kenyataan ini.</p>

<p>Liliana melepas pelukannya dengan Javar dan menatap bingung Jamal. “Engga sayang, ini semua benar.”</p>

<p>Mendengar kebenaran yang di ucapkan sang ibunda. Jamal seketika mendekat ke arah Januar dan mencengkram kerah kemeja Januar dengan sangat kuat.</p>

<p>“Selama ini Anda kemana saja?! Apa Anda tau betapa menderitanya bunda saya karena Anda pergi meninggalkan kami berdua? Kenapa Anda baru datang sekarang? KENAPA?!” teriak Jamal yang di selimuti kemarahan, ia sudah begitu lama menyimpan kemarahan ini sendirian.</p>

<p>“Jamaliel, tolong dengar penjelasan ayah-”</p>

<p>“Gak ada yang perlu di jelasin lagi! Anda sudah tega meninggalkan kami, dan karena itu saya gak sudi panggil Anda dengan sebutan <strong>ayah</strong>“</p>

<p>“JAMAL!”</p>

<p>Jamal tersentak dan langsung terdiam saat Januat membentaknya. Ia melepas cengkramannya namun wajah dan tatapannya masih menunjukkan kemarahan nya dan air matanya masih terus bercucuran.</p>

<p>“Tolong dengar penjelasan <strong>ayah</strong> dulu baru kamu boleh berkomentar. Saya tidak pernah meninggalkan kalian dan walaupun saya di paksa saya tidak akan pernah mau. Ini semua perbuatan seseorang yang tidak pernah merestui hubungan ayah dan bunda mu. Dan setelah orang itu meninggal, saya baru tahu kebenarannya bahwa kalian berdua masih hidup. Maka dari itu saya pindah ke sini karena ingin mencari keberadaan kalian. Jadi ayah mohon kamu jangan salah sangka, ayah gak mau kamu membenci ayah, karena ayah sayang sekali sama kamu, Javar dan juga bunda kalian.”</p>

<p>Mereka berempat saling menatap dengan air mata yang bergelinang. Jamal yang mendengar penjelasan sebenarnya dari sang ayah, seketika merasa bersalah karena sudah menyimpan dendam terhadap ayahnya.</p>

<p>“Sini kalian semua.”</p>

<p>Ayahnya menarik kedua anaknya ke arah dirinya dan istrinya. Mereka akhirnya saling berpelukan melepas rindu dan menumpahkan rasa kasih sayang satu sama lain.</p>

<p>“Maafkan ayah ya nak, ayah dan bunda sangat amat menyayangi kalian. Selamat ulang tahun jagoan-jagoan ayah bunda” ucap Januar sambil mengecup puncak kepala anaknya dan juga sang istri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/bunda-zy5j</guid>
      <pubDate>Thu, 02 Jun 2022 16:21:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bahagia Kembali</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/bahagia-kembali?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Sus, apa ada pasien disini yang bernama Liliana Jelita?&#34; tanya Januar dengan panik.&#xA;&#xA;&#34;Sebentar pak, saya cek dulu. Ohh&#xA;ada pak, beliau di kamar melati no.127—&#34; jawab sang suster setelah mengecek di monitornya.&#xA;&#xA;&#34;Baik, makasih sus.&#34; ucapnya memotong omongan susternya dan langsung berlari menuju ruang kamar tersebut.&#xA;&#xA;Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Januar hanya diam menatapi pintu. Hati maupun pikirannya begitu berisik. Percayalah, saat ini perasaannya begitu campur aduk. Setelah 17 tahun ia mencari, akhirnya hari ini ia bisa bertemu kembali dengan sang istri dan juga anaknya.&#xA;&#xA;Begitu banyak pikiran-pikiran aneh yang muncul. Apakah dia akan di terima oleh istri dan anaknya? Walaupun awalnya ia kira mereka berdua sudah meninggal, namun saat mengetahui mereka masih hidup dan hidup dengan pas-pasan, ada perasaan tak pantas baginya untuk muncul kembali di depan mereka. Ia merasa tidak becus sebagai seorang suami maupun ayah. Harusnya ia langsung menyelidikinya saat pertama kali mendengar bahwa mereka meninggal, bukannya percaya dan menerima saja apa kata ibunya.&#xA;&#xA;Tak lama ia tersadar dari lamunannya, sudah bukan waktunya ia menyalahkan dirinya sendiri di masa lalu, karena di masa sekarang ia berjanji akan menebus semua kesalahannya.&#xA;&#xA;Dengan perlahan Januar memutar knop pintu kamar tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita sedang tertidur lemas di ranjang kamar rumah sakit. Wanita yang dulu menjadi sumber bahagianya dan juga dunianya sebelum ibunya menghancurkannya dengan memalsukan kematian wanita tersebut dan juga salah satu anak kembarnya.&#xA;&#xA;Mungkin momen saat Januar menangis bisa di hitung dengan jari, karena ia sangat jarang menangis. Tapi kali ini, air matanya begitu gampang lolos dari pelupuk matanya. Tentu saja ini air mata bahagia.&#xA;&#xA;Januar dapat melihat jelas kerutan di wajah wanitanya, badannya yang kurus dan juga rambutnya yang sudah memutih. Begitu banyak momen yang sudah Januar lewatkan, ia cukup menyesal dengan semua itu.&#xA;&#xA;Tangannya di bawanya menuju pipi wanitanya yang sedang tertidur lelap di ranjang rumah sakit. Air matanya terus mengalir tak henti dan tak lupa ia menunjukkan senyum bahagianya. &#xA;&#xA;Sedangkan sang wanita yang merasa seseorang memegang pipinya mulai membuka matanya perlahan. Awalnya ia kira itu adalah sang anak kesayangannya tapi anehnya siluet orang yang ada di hadapannya begitu berbeda dengan anaknya. Rambut rapih, kumis dan jenggot tipis, dengan badan tegap sempurna.&#xA;&#xA;&#34;Ana.&#34; lirih Januar masih sambil menangis melihat istrinya akhirnya terbangun.&#xA;&#xA;Liliana hampir saja merobek jahitan di perutnya jika ia tidak di tahan oleh Januar. Karena kaget, Liliana reflek terduduk untuk memastikan orang yang berada di depannya.&#xA;&#xA;&#34;M-mas Janu? Kamu— kamu kenapa bisa ada di sini?&#34; tanya Liliana begitu panik.&#xA;&#xA;&#34;Akhirnya aku menemukan mu, Ana.&#34; ujar Januar dan menciumi punggung tangan istrinya.&#xA;&#xA;&#34;Mas, kamu gak bisa ada di sini. Kamu itu sudah punya istri, mas. Tolong jangan seperti ini.&#34; Liliana menarik paksa tangannya namun pegangan Januar lebih kuat dari pada tenaganya.&#xA;&#xA;&#34;Istri yang aku cintai itu cuma kamu, Liliana Jelita. Dia itu hanya wanita yang Mama nikahkan saja, tapi aku sama sekali gak cinta sama dia. Kamu harus tau berapa sengsaranya aku hidup 17 tahun tanpa kamu ada di samping aku dan malah digantikan oleh wanita itu. Aku gak bahagia Ana, selama ini aku gak bahagia.&#34;&#xA;&#xA;Januar menunduk sambil menangis di depan Liliana. Memang itu yang ia rasakan selama ini hidup bersama Catherine, tidak bahagia dan semua di jalankan dengan terpaksa. &#xA;&#xA;Jika boleh jujur, itu hal yang sama yang di rasakan oleh Liliana. Namun ia tetap bertahan selama ini karena adanya Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Tapi sekarang aku sudah menemukan mu. Dan akhirnya aku bahagia lagi Ana. Kamu harus tau sebahagia apa aku saat bisa melihat mu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Tak tahan, air mata Liliana pun lolos. Ia juga sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan sang suami setelah 17 tahun hanya bisa melihatnya di majalah atau tv. &#xA;&#xA;Mungkin semesta ingin mempersatukan mereka lagi.&#xA;&#xA;Januar dengan sangat hati-hart memeluk Liliana yang sangat terlihat lemah karena habis menjalani serangkaian operasi. Sudah lama Liliana tidak merasakan pelukan yang begitu hangat dan nyaman seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Setelah kamu sembuh, aku akan menceraikan Catherine. Lalu kita bisa hidup bersama sampai tua. Aku gak peduli kamu setuju atau tidak, tapi itu yang akan aku lakukan.&#34; ucap Januar sambil melepas pelukannya.&#xA;&#xA;Liliana hanya bisa menghela nafas pasrah. Sudah 17 tahun tidak bertemu tetapi semua sifat suminya masih sama saja.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Sus, apa ada pasien disini yang bernama Liliana Jelita?” tanya Januar dengan panik.</p>

<p>“Sebentar pak, saya cek dulu. Ohh
ada pak, beliau di kamar melati no.127—” jawab sang suster setelah mengecek di monitornya.</p>

<p>“Baik, makasih sus.” ucapnya memotong omongan susternya dan langsung berlari menuju ruang kamar tersebut.</p>

<p>Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Januar hanya diam menatapi pintu. Hati maupun pikirannya begitu berisik. Percayalah, saat ini perasaannya begitu campur aduk. Setelah 17 tahun ia mencari, akhirnya hari ini ia bisa bertemu kembali dengan sang istri dan juga anaknya.</p>

<p>Begitu banyak pikiran-pikiran aneh yang muncul. Apakah dia akan di terima oleh istri dan anaknya? Walaupun awalnya ia kira mereka berdua sudah meninggal, namun saat mengetahui mereka masih hidup dan hidup dengan pas-pasan, ada perasaan tak pantas baginya untuk muncul kembali di depan mereka. Ia merasa tidak becus sebagai seorang suami maupun ayah. Harusnya ia langsung menyelidikinya saat pertama kali mendengar bahwa mereka meninggal, bukannya percaya dan menerima saja apa kata ibunya.</p>

<p>Tak lama ia tersadar dari lamunannya, sudah bukan waktunya ia menyalahkan dirinya sendiri di masa lalu, karena di masa sekarang ia berjanji akan menebus semua kesalahannya.</p>

<p>Dengan perlahan Januar memutar knop pintu kamar tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita sedang tertidur lemas di ranjang kamar rumah sakit. Wanita yang dulu menjadi sumber bahagianya dan juga dunianya sebelum ibunya menghancurkannya dengan memalsukan kematian wanita tersebut dan juga salah satu anak kembarnya.</p>

<p>Mungkin momen saat Januar menangis bisa di hitung dengan jari, karena ia sangat jarang menangis. Tapi kali ini, air matanya begitu gampang lolos dari pelupuk matanya. Tentu saja ini air mata bahagia.</p>

<p>Januar dapat melihat jelas kerutan di wajah wanitanya, badannya yang kurus dan juga rambutnya yang sudah memutih. Begitu banyak momen yang sudah Januar lewatkan, ia cukup menyesal dengan semua itu.</p>

<p>Tangannya di bawanya menuju pipi wanitanya yang sedang tertidur lelap di ranjang rumah sakit. Air matanya terus mengalir tak henti dan tak lupa ia menunjukkan senyum bahagianya.</p>

<p>Sedangkan sang wanita yang merasa seseorang memegang pipinya mulai membuka matanya perlahan. Awalnya ia kira itu adalah sang anak kesayangannya tapi anehnya siluet orang yang ada di hadapannya begitu berbeda dengan anaknya. Rambut rapih, kumis dan jenggot tipis, dengan badan tegap sempurna.</p>

<p>“Ana.” lirih Januar masih sambil menangis melihat istrinya akhirnya terbangun.</p>

<p>Liliana hampir saja merobek jahitan di perutnya jika ia tidak di tahan oleh Januar. Karena kaget, Liliana reflek terduduk untuk memastikan orang yang berada di depannya.</p>

<p>“M-mas Janu? Kamu— kamu kenapa bisa ada di sini?” tanya Liliana begitu panik.</p>

<p>“Akhirnya aku menemukan mu, Ana.” ujar Januar dan menciumi punggung tangan istrinya.</p>

<p>“Mas, kamu gak bisa ada di sini. Kamu itu sudah punya istri, mas. Tolong jangan seperti ini.” Liliana menarik paksa tangannya namun pegangan Januar lebih kuat dari pada tenaganya.</p>

<p>“Istri yang aku cintai itu cuma kamu, Liliana Jelita. Dia itu hanya wanita yang Mama nikahkan saja, tapi aku sama sekali gak cinta sama dia. Kamu harus tau berapa sengsaranya aku hidup 17 tahun tanpa kamu ada di samping aku dan malah digantikan oleh wanita itu. Aku gak bahagia Ana, selama ini aku gak bahagia.”</p>

<p>Januar menunduk sambil menangis di depan Liliana. Memang itu yang ia rasakan selama ini hidup bersama Catherine, tidak bahagia dan semua di jalankan dengan terpaksa.</p>

<p>Jika boleh jujur, itu hal yang sama yang di rasakan oleh Liliana. Namun ia tetap bertahan selama ini karena adanya Jamal.</p>

<p>“Tapi sekarang aku sudah menemukan mu. Dan akhirnya aku bahagia lagi Ana. Kamu harus tau sebahagia apa aku saat bisa melihat mu lagi.”</p>

<p>Tak tahan, air mata Liliana pun lolos. Ia juga sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan sang suami setelah 17 tahun hanya bisa melihatnya di majalah atau tv.</p>

<p>Mungkin semesta ingin mempersatukan mereka lagi.</p>

<p>Januar dengan sangat hati-hart memeluk Liliana yang sangat terlihat lemah karena habis menjalani serangkaian operasi. Sudah lama Liliana tidak merasakan pelukan yang begitu hangat dan nyaman seperti ini.</p>

<p>“Setelah kamu sembuh, aku akan menceraikan Catherine. Lalu kita bisa hidup bersama sampai tua. Aku gak peduli kamu setuju atau tidak, tapi itu yang akan aku lakukan.” ucap Januar sambil melepas pelukannya.</p>

<p>Liliana hanya bisa menghela nafas pasrah. Sudah 17 tahun tidak bertemu tetapi semua sifat suminya masih sama saja.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/bahagia-kembali</guid>
      <pubDate>Thu, 02 Jun 2022 11:20:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Keputusan</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/keputusan-bj28?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Om, bunda kenapa? Kok operasinya di cepetin?&#34; tanya Jamal yang datang dengan sedikit panik lalu duduk di kursi ruangan milik Andrean.&#xA;&#xA;Andrean memang sengaja mengundang Jamal untuk datang ke ruangannya karena ingin berbicara mengenai Liliana. Ada beberapa hal yang Andrean harus sampaikan kepada Jamal terkait operasi usus bubtu Liliana.&#xA;&#xA;&#34;Jamal, saya sudah melakukan apa yang saya bisa lakukan untuk menyembuhkan usus buntu Liliana. Tetapi kondisinya tidak kunjung membaik dan malah makin parah. Usus buntunya pecah dan harus ditangani se segera mungkin.&#34; jelas Andrean setenang mungkin agar Jamal tidak panik.&#xA;&#xA;&#34;Pe-pecah gimana om?&#34; tanya Jamal yang malah kaget sekaligus panik.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu dulu, sebelum kamu salah paham, om bakal jelasin sedikit. Jadi pecahnya usus buntu bukan seperti pecahnya balon, tapi lebih seperti keluarnya nanah dan bakteri dari rongga perut.&#34;&#xA;&#xA;Jamal menghembuskan nafas lega. Ada sedikit kelegaan di hati Jamal, rupanya hal tersebut bukan seperti apa yang Jamal bayangkan saat pertama kali mendengar namanya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi usus buntu pecah artinya sudah termasuk kondisi yang gawat darurat. Satu-satunya jalan hanyalah di operasi. Jika tidak segera di operasi, hal ini bisa menyebabkan kematian.&#34; lanjut Andrean.&#xA;&#xA;Kelegaan tadi seketika hilang. Jamal tersentak kaget mendengar kata-kata terakhir Andrean, seketika ada perasaan takut bercampur sedih yang menyelimuti dirinya. &#xA;&#xA;&#34;Oke om, kalau itu yang terbaik buat bunda, Jamal setuju operasinya dijalanin malam ini juga.&#34; jawabnya tanpa ragu sedikitpun.&#xA;&#xA;Andrean mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Jamal...saya mau kamu bersiap untuk kemungkinan apapun. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.&#34;&#xA;&#xA;Jamal pelan-pelan mencerna perkataan Andrean barusan yang sepertinya bukan pertanda baik. Matanya langsung berkaca-kaca, ia tak sanggup jika hal buruk akan terjadi.&#xA;&#xA;Tiba-tiba Andrean menepuk pundak Jamal lalu tersenyum hangat. &#xA;&#xA;&#34;Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama cepat di tangani, maka akan semakin baik. Kamu gak usah takut.&#34; ucap Andrean meyakinkan Jamal dan di balas anggukan oleh nya.&#xA;&#xA;Semoga apa yang di bilang om Andream bener ya. Jamal belum siap kehilangan bunda.&#xA;&#xA;----&#xA;&#xA;&#34;Nak, bunda gak siap buat di operasi.&#34; &#xA;&#xA;Liliana semakin gelisah disaat para suster mendorong kasurnya menuju ruang operasi. Walau ini bukan operasi pertama nya, namun tetap saja operasi mengangkat usus buntu merupakan hal yang menakutkan.&#xA;&#xA;Jamal yang juga ikut mengantarnya, hanya bisa selalu memberikan semangat untuk sang ibunda.&#xA;&#xA;&#34;Jangan gitu dong bun. Tadi pemeriksaan sama tes darah, hasilnya kan bagus semua. Bunda juga udah puasa dari tadi sore. Masa mau di batalin operasi nya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi bunda takut nak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan takut dong bun, kan ada Jamal di sini yang bakal selalu nemenin bunda. KECUALI nemenin ke ruang operasi, Jamal gak ikut ya bun.&#34; ucap Jamal yang mengundang gelak tawa di antara mereka berdua.&#xA;&#xA;Sejujurnya Jamal juga takut, apalagi setelah mendengar penjelasan dari Andrean. Tapi Jamal selalu menepis kemungkinan buruk yang selalu muncul di kepalanya. Ia yakin ini adalah jalan yang paling tepat agar bundanya bisa sembuh.&#xA;&#xA;Tak lama, sampailah mereka di depan pintu ruang operasi. Jika sudah berada di sini, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Liliana hanya bisa pasrah dan berdoa agar operasinya berjalan lancar.&#xA;&#xA;Liliana meminta para suster untuk memeberikan waktu sebentar kepadanya, sebelum masuk ke dalam.&#xA;&#xA;&#34;Doain bunda ya nak.&#34; ucap Liliana sambil mengelus wajah anak kesayangannya.&#xA;&#xA;Saat itu Jamal sudah tidak bisa menahan tangisannya dan langsung memeluk tubuh ibundanya dengan hati-hati. Ia hanya bisa mengangguk menjawab perkataan bundanya. &#xA;&#xA;&#34;Sebelum orang lain ngucapin, bunda mau jadi orang pertama yang ngucapin. Selamat ulang tahun ya sayang, bunda sayang Jamal.&#34; &#xA;&#xA;Liliana pun tak kuasa menahan air matanya, rasanya seperti ia harus mengatakannya sekarang juga, padahal hari masih belum berganti. Ia takut tidak akan pernah bisa mengatakannya lagi pada anaknya.&#xA;&#xA;&#34;Makasih bunda, tapi Jamal gamau ngitung itu sebagai ucapan pertama karena ulang tahun Jamal masih sejam lagi. Ucapan bunda bakal Jamal itung kalo bunda udah selesai operasinya.&#34; ucap Jamal berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya.&#xA;&#xA;Mereka berdua terkekeh dan di jawab anggukan oleh Liliana. Waktu yang di berikan suster pun habis. Liliana harus sudah masuk ke ruang operasi.&#xA;&#xA;Dengan berat hati, Jamal melepaskan genggaman tangan ibundanya dan melihat bundanya masuk ke dalam ruang operasi.&#xA;&#xA;Semoga operasinya bisa berjalan lancar.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Om, bunda kenapa? Kok operasinya di cepetin?” tanya Jamal yang datang dengan sedikit panik lalu duduk di kursi ruangan milik Andrean.</p>

<p>Andrean memang sengaja mengundang Jamal untuk datang ke ruangannya karena ingin berbicara mengenai Liliana. Ada beberapa hal yang Andrean harus sampaikan kepada Jamal terkait operasi usus bubtu Liliana.</p>

<p>“Jamal, saya sudah melakukan apa yang saya bisa lakukan untuk menyembuhkan usus buntu Liliana. Tetapi kondisinya tidak kunjung membaik dan malah makin parah. Usus buntunya pecah dan harus ditangani se segera mungkin.” jelas Andrean setenang mungkin agar Jamal tidak panik.</p>

<p>“Pe-pecah gimana om?” tanya Jamal yang malah kaget sekaligus panik.</p>

<p>“Tunggu dulu, sebelum kamu salah paham, om bakal jelasin sedikit. Jadi pecahnya usus buntu bukan seperti pecahnya balon, tapi lebih seperti keluarnya nanah dan bakteri dari rongga perut.”</p>

<p>Jamal menghembuskan nafas lega. Ada sedikit kelegaan di hati Jamal, rupanya hal tersebut bukan seperti apa yang Jamal bayangkan saat pertama kali mendengar namanya.</p>

<p>“Tapi usus buntu pecah artinya sudah termasuk kondisi yang gawat darurat. Satu-satunya jalan hanyalah di operasi. Jika tidak segera di operasi, hal ini bisa menyebabkan kematian.” lanjut Andrean.</p>

<p>Kelegaan tadi seketika hilang. Jamal tersentak kaget mendengar kata-kata terakhir Andrean, seketika ada perasaan takut bercampur sedih yang menyelimuti dirinya.</p>

<p>“Oke om, kalau itu yang terbaik buat bunda, Jamal setuju operasinya dijalanin malam ini juga.” jawabnya tanpa ragu sedikitpun.</p>

<p>Andrean mengangguk.</p>

<p>“Tapi Jamal...saya mau kamu bersiap untuk kemungkinan apapun. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.”</p>

<p>Jamal pelan-pelan mencerna perkataan Andrean barusan yang sepertinya bukan pertanda baik. Matanya langsung berkaca-kaca, ia tak sanggup jika hal buruk akan terjadi.</p>

<p>Tiba-tiba Andrean menepuk pundak Jamal lalu tersenyum hangat.</p>

<p>“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama cepat di tangani, maka akan semakin baik. Kamu gak usah takut.” ucap Andrean meyakinkan Jamal dan di balas anggukan oleh nya.</p>

<p><em>Semoga apa yang di bilang om Andream bener ya. Jamal belum siap kehilangan bunda.</em></p>

<hr/>

<p>“Nak, bunda gak siap buat di operasi.”</p>

<p>Liliana semakin gelisah disaat para suster mendorong kasurnya menuju ruang operasi. Walau ini bukan operasi pertama nya, namun tetap saja operasi mengangkat usus buntu merupakan hal yang menakutkan.</p>

<p>Jamal yang juga ikut mengantarnya, hanya bisa selalu memberikan semangat untuk sang ibunda.</p>

<p>“Jangan gitu dong bun. Tadi pemeriksaan sama tes darah, hasilnya kan bagus semua. Bunda juga udah puasa dari tadi sore. Masa mau di batalin operasi nya?”</p>

<p>“Tapi bunda takut nak.”</p>

<p>“Jangan takut dong bun, kan ada Jamal di sini yang bakal selalu nemenin bunda. KECUALI nemenin ke ruang operasi, Jamal gak ikut ya bun.” ucap Jamal yang mengundang gelak tawa di antara mereka berdua.</p>

<p>Sejujurnya Jamal juga takut, apalagi setelah mendengar penjelasan dari Andrean. Tapi Jamal selalu menepis kemungkinan buruk yang selalu muncul di kepalanya. Ia yakin ini adalah jalan yang paling tepat agar bundanya bisa sembuh.</p>

<p>Tak lama, sampailah mereka di depan pintu ruang operasi. Jika sudah berada di sini, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Liliana hanya bisa pasrah dan berdoa agar operasinya berjalan lancar.</p>

<p>Liliana meminta para suster untuk memeberikan waktu sebentar kepadanya, sebelum masuk ke dalam.</p>

<p>“Doain bunda ya nak.” ucap Liliana sambil mengelus wajah anak kesayangannya.</p>

<p>Saat itu Jamal sudah tidak bisa menahan tangisannya dan langsung memeluk tubuh ibundanya dengan hati-hati. Ia hanya bisa mengangguk menjawab perkataan bundanya.</p>

<p>“Sebelum orang lain ngucapin, bunda mau jadi orang pertama yang ngucapin. Selamat ulang tahun ya sayang, bunda sayang Jamal.”</p>

<p>Liliana pun tak kuasa menahan air matanya, rasanya seperti ia harus mengatakannya sekarang juga, padahal hari masih belum berganti. Ia takut tidak akan pernah bisa mengatakannya lagi pada anaknya.</p>

<p>“Makasih bunda, tapi Jamal gamau ngitung itu sebagai ucapan pertama karena ulang tahun Jamal masih sejam lagi. Ucapan bunda bakal Jamal itung kalo bunda udah selesai operasinya.” ucap Jamal berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya.</p>

<p>Mereka berdua terkekeh dan di jawab anggukan oleh Liliana. Waktu yang di berikan suster pun habis. Liliana harus sudah masuk ke ruang operasi.</p>

<p>Dengan berat hati, Jamal melepaskan genggaman tangan ibundanya dan melihat bundanya masuk ke dalam ruang operasi.</p>

<p>Semoga operasinya bisa berjalan lancar.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/keputusan-bj28</guid>
      <pubDate>Fri, 13 May 2022 13:44:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kebenaran</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/kebenaran?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sesampainya Javar di rumah sakit, ia langsung melihat seseorang yang sedang di dorong menggunakan kasur beroda yang sepertinya sangat gawat darurat karena dia terlihat mengeluarkan banyak darah sampai berceceran di lantai.&#xA;&#xA;&#34;EPANN!!&#34; teriaknya sambil berlari menghampiri orang tersebut.&#xA;&#xA;Sambil berlari Javar bersumpah, sampai yang di lihatnya orang itu benar-benar Jevan, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Dengan jantung yang berdegup kencang, Javar menyingkirkan suster yang menghalanginya untuk melihat wajah orang tersebut. Dan betapa terkejutnya dia, ternyata orang itu bukanlah Jevan.&#xA;&#xA;&#34;S-sus, dia korban kecelakaan yang ada di daerah sini bukan?&#34; tanya nya masih berharap bahwa korban kecelakaan tersebut bukanlah Jevan.&#xA;&#xA;&#34;Bukan mas, dia korban dari tabrak lari. Kalau korban kecelakaan, tadi sepertinya masuk ke ruang operasi yang ada di sebelah sana mas.&#34; jawab sang suster sambil menunjuk ke arah lorong dimana ruang operasi berada.&#xA;&#xA;&#34;M-makasih sus.&#34;&#xA;&#xA;Tanpa berlama-lama Javar langsung berlari menuju lorong tersebut dengan perasaan takut yang makin menjadi. Tapi langkahnya melambat saat ia melihat Catherine yang sedang menangis di depan pintu ruang operasi.&#xA;&#xA;&#34;Mama?&#34; ucapnya dengan suara pelan.&#xA;&#xA;Catherine yang merasa terpanggil langsung menengok ke sumber suara. Namun saat melihat wajah orang yang memanggilnya, emosinya langsung memuncak.&#xA;&#xA;&#34;KAMU!&#34; teriaknya sambil menunjuk Javar dengan telunjuknya.&#xA;&#xA;Catherine berjalan tergesa mendekati Javar. &#xA;&#xA;&#34;Apa yang sudah kamu lakukan ke anak saya?! Kenapa dia bisa sampai seperti itu, hah? JAWAB!&#34; ucapnya dengan suara yang lumayan keras sambil menangis.&#xA;&#xA;Javar juga terlihat menangis sambil berfikir bagaimana cara ia menjelaskan semuanya kepada mamanya. Javar pun tidak berfikir bahwa akan terjadi hal seperti ini jika ia mengajak Jevan ke arena. Jika Javar tau hal ini akan terjadi, pasti Javar tidak akan pernah mengizinkan Jevan untuk menaiki motornya.&#xA;&#xA;&#34;M-ma, dengerin penjelasan Javar dulu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang perlu di jelasin! Kamu sudah mencelakakan anak saya!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mama denge—&#34;&#xA;&#xA;&#34;STOP PANGGIL SAYA MAMA, SAYA BUKAN MAMA KAMU!&#34; teriak Catherine tidak tahan lagi.&#xA;&#xA;Catherine sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya maupun dengan Javar. Sejak ia tahu bahwa Jevan kecelakaan karena mengendarai motor Javar, ia langsung kehilangan kendali dan sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.&#xA;&#xA;&#34;M-maksudnya ma?&#34; tanya Javar yang sepertinya ia salah mendengar teriakan mamanya.&#xA;&#xA;Nafas Catherine tersengal-sengal saking emosinya. &#34;Anak saya itu hanya Jevan! Dari awal kamu itu bukan anak saya, mengerti kamu?!&#34;&#xA;&#xA;Entah apa yang harus Javar katakan. Ia bingung harus percaya dengan perkataan mamanya atau tidak. Bisa jadi saat ini mamanya hanya sedang sedih karena salah satu anaknya sedang dalam keadaan kritis, makanya ia sakit hati dan tidak mau mengakui anak lainnya sebagai anak kandungnya.&#xA;&#xA;Dengan air mata yang masih bercucuran, Catherine menyeringai. &#34;Kenapa? Kok keliatannya kamu gak percaya? Mau saya kasih tahu yang sebenarnya?&#34; tanya Catherine dan memberi jeda untuk Javar menjawabnya.&#xA;&#xA;Namun hanya hening yang ada, Javar tidak bisa berkata apapun.&#xA;&#xA;&#34;Ibu kandung kamu itu sudah mati karena ngelahirin kamu. Saya itu cuma IBU TIRI yang sebenarnya terpaksa membesarkan anak yang kerjanya cuma bisa bikin masalah aja!&#34;&#xA;&#xA;Pernyataan itu jelas membuat Javar kaget bukan main. Rasanya dunia seperti runtuh, semuanya hancur termasuk hatinya. Jadi selama ini ia dibohongi?&#xA;&#xA;&#34;Saya menyesal sudah memberi semua yang sudah saya berikan ke kamu. Harusnya kamu gak dapetin itu semua, harusnya Jevan yang dapetin, harusnya Jevan yang jadi pewaris sah! HARUSNYA KAMU YANG SEKARAT BUKAN JEVAN—&#34;&#xA;&#xA;&#34;CATHERINE!&#34; teriak Januar yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia tampak begitu marah setelah mendengar ucapan Catherine yang menyumpahi anaknya dan membongkar rahasia yang selama ini mereka sembunyikan dari Javar.&#xA;&#xA;&#34;Apa-apan kamu? Mengapa kamu memberitahu semuanya?!&#34; ucap Januar emosi dengan suara tinggi.&#xA;&#xA;&#34;MAS?? Yang benar saja? Kamu malah marahin aku karena aku ngasih tau dia yang sebenarnya, yang ada juga kamu marahin dia karena sudah membuat anak kamu celaka! Bukannya memang benar, Lilian sudah mati?&#34;&#xA;&#xA;PLAK!&#xA;&#xA;Satu tamparan mendarat mulus di pipi Catherine. Januar benar-benar kehabisan kesabarannya, ia tak habis pikir mulut istrinya begitu mudah mengatakan hal seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;DIAM KAMU! Jangan pernah kamu sebut namanya dalam hal seperti itu!!&#34;&#xA;&#xA;&#34;MAS?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa yang di bilang mama bener, yah?&#34; tanya Javar memotong pembicaraan kedua orang tua yang ada di hadapannya.&#xA;&#xA;Jujur saja, saat ini Javar sudah tidak bisa berfikir lagi. Rasanya kepalanya ingin pecah karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Tidak ada lagi emosi yang di rasakannya saat ini, hanya hampa yang ada. Tapi entah mengapa air matanya terus bercucuran.&#xA;&#xA;&#34;Yah?&#34; panggilnya sekali lagi dengan tatapan mata yang putus asa menatap sang ayah. &#xA;&#xA;Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Januar. Dia hanya diam membisu dan membuang mukanya karena tidak sanggup untuk melihat wajah anak nya.&#xA;&#xA;Begitu susah bagi nya hanya untuk membenarkan pertanyaan Javar. Karena ia tak pernah berfikir untuk memberi tahu Javar sebelum ia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;Namun sepertinya takdir berkata lain.&#xA;&#xA;&#34;Hahaha jadi selama ini ayah nyembunyiin kenyataan kalo ibu kandung aku udah meninggal? 17 tahun aku hidup dalam kebohongan? BANGSAT!&#34; Javar sudah tidak tahan lagi, ia benar-benar merasa seperti di permainkan oleh orang tuanya sendiri.&#xA;&#xA;Javar langsung pergi meninggalkan Januar yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dadanya begitu sesak mengetahui kenyataan yang ada. Jevan yang kecelakaan karena kelalaiannya dan juga ibu kandungnya yang sebenarnya sudah meninggal.&#xA;&#xA;Wow, double kill.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sesampainya Javar di rumah sakit, ia langsung melihat seseorang yang sedang di dorong menggunakan kasur beroda yang sepertinya sangat gawat darurat karena dia terlihat mengeluarkan banyak darah sampai berceceran di lantai.</p>

<p>“EPANN!!” teriaknya sambil berlari menghampiri orang tersebut.</p>

<p>Sambil berlari Javar bersumpah, sampai yang di lihatnya orang itu benar-benar Jevan, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.</p>

<p>Dengan jantung yang berdegup kencang, Javar menyingkirkan suster yang menghalanginya untuk melihat wajah orang tersebut. Dan betapa terkejutnya dia, ternyata orang itu bukanlah Jevan.</p>

<p>“S-sus, dia korban kecelakaan yang ada di daerah sini bukan?” tanya nya masih berharap bahwa korban kecelakaan tersebut bukanlah Jevan.</p>

<p>“Bukan mas, dia korban dari tabrak lari. Kalau korban kecelakaan, tadi sepertinya masuk ke ruang operasi yang ada di sebelah sana mas.” jawab sang suster sambil menunjuk ke arah lorong dimana ruang operasi berada.</p>

<p>“M-makasih sus.”</p>

<p>Tanpa berlama-lama Javar langsung berlari menuju lorong tersebut dengan perasaan takut yang makin menjadi. Tapi langkahnya melambat saat ia melihat Catherine yang sedang menangis di depan pintu ruang operasi.</p>

<p>“Mama?” ucapnya dengan suara pelan.</p>

<p>Catherine yang merasa terpanggil langsung menengok ke sumber suara. Namun saat melihat wajah orang yang memanggilnya, emosinya langsung memuncak.</p>

<p>“KAMU!” teriaknya sambil menunjuk Javar dengan telunjuknya.</p>

<p>Catherine berjalan tergesa mendekati Javar.</p>

<p>“Apa yang sudah kamu lakukan ke anak saya?! Kenapa dia bisa sampai seperti itu, hah? JAWAB!” ucapnya dengan suara yang lumayan keras sambil menangis.</p>

<p>Javar juga terlihat menangis sambil berfikir bagaimana cara ia menjelaskan semuanya kepada mamanya. Javar pun tidak berfikir bahwa akan terjadi hal seperti ini jika ia mengajak Jevan ke arena. Jika Javar tau hal ini akan terjadi, pasti Javar tidak akan pernah mengizinkan Jevan untuk menaiki motornya.</p>

<p>“M-ma, dengerin penjelasan Javar dulu—”</p>

<p>“Gak ada yang perlu di jelasin! Kamu sudah mencelakakan anak saya!”</p>

<p>“Mama denge—”</p>

<p>“STOP PANGGIL SAYA MAMA, SAYA BUKAN MAMA KAMU!” teriak Catherine tidak tahan lagi.</p>

<p>Catherine sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya maupun dengan Javar. Sejak ia tahu bahwa Jevan kecelakaan karena mengendarai motor Javar, ia langsung kehilangan kendali dan sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.</p>

<p>“M-maksudnya ma?” tanya Javar yang sepertinya ia salah mendengar teriakan mamanya.</p>

<p>Nafas Catherine tersengal-sengal saking emosinya. “Anak saya itu hanya Jevan! Dari awal kamu itu bukan anak saya, mengerti kamu?!”</p>

<p>Entah apa yang harus Javar katakan. Ia bingung harus percaya dengan perkataan mamanya atau tidak. Bisa jadi saat ini mamanya hanya sedang sedih karena salah satu anaknya sedang dalam keadaan kritis, makanya ia sakit hati dan tidak mau mengakui anak lainnya sebagai anak kandungnya.</p>

<p>Dengan air mata yang masih bercucuran, Catherine menyeringai. “Kenapa? Kok keliatannya kamu gak percaya? Mau saya kasih tahu yang sebenarnya?” tanya Catherine dan memberi jeda untuk Javar menjawabnya.</p>

<p>Namun hanya hening yang ada, Javar tidak bisa berkata apapun.</p>

<p>“Ibu kandung kamu itu sudah mati karena ngelahirin kamu. Saya itu cuma IBU TIRI yang sebenarnya terpaksa membesarkan anak yang kerjanya cuma bisa bikin masalah aja!”</p>

<p>Pernyataan itu jelas membuat Javar kaget bukan main. Rasanya dunia seperti runtuh, semuanya hancur termasuk hatinya. Jadi selama ini ia dibohongi?</p>

<p>“Saya menyesal sudah memberi semua yang sudah saya berikan ke kamu. Harusnya kamu gak dapetin itu semua, harusnya Jevan yang dapetin, harusnya Jevan yang jadi pewaris sah! HARUSNYA KAMU YANG SEKARAT BUKAN JEVAN—”</p>

<p>“CATHERINE!” teriak Januar yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia tampak begitu marah setelah mendengar ucapan Catherine yang menyumpahi anaknya dan membongkar rahasia yang selama ini mereka sembunyikan dari Javar.</p>

<p>“Apa-apan kamu? Mengapa kamu memberitahu semuanya?!” ucap Januar emosi dengan suara tinggi.</p>

<p>“MAS?? Yang benar saja? Kamu malah marahin aku karena aku ngasih tau dia yang sebenarnya, yang ada juga kamu marahin dia karena sudah membuat anak kamu celaka! Bukannya memang benar, Lilian sudah mati?”</p>

<p><em>PLAK!</em></p>

<p>Satu tamparan mendarat mulus di pipi Catherine. Januar benar-benar kehabisan kesabarannya, ia tak habis pikir mulut istrinya begitu mudah mengatakan hal seperti itu.</p>

<p>“DIAM KAMU! Jangan pernah kamu sebut namanya dalam hal seperti itu!!”</p>

<p>“MAS?!”</p>

<p>“Apa yang di bilang mama bener, yah?” tanya Javar memotong pembicaraan kedua orang tua yang ada di hadapannya.</p>

<p>Jujur saja, saat ini Javar sudah tidak bisa berfikir lagi. Rasanya kepalanya ingin pecah karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Tidak ada lagi emosi yang di rasakannya saat ini, hanya hampa yang ada. Tapi entah mengapa air matanya terus bercucuran.</p>

<p>“Yah?” panggilnya sekali lagi dengan tatapan mata yang putus asa menatap sang ayah.</p>

<p>Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Januar. Dia hanya diam membisu dan membuang mukanya karena tidak sanggup untuk melihat wajah anak nya.</p>

<p>Begitu susah bagi nya hanya untuk membenarkan pertanyaan Javar. Karena ia tak pernah berfikir untuk memberi tahu Javar sebelum ia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.</p>

<p>Namun sepertinya takdir berkata lain.</p>

<p>“Hahaha jadi selama ini ayah nyembunyiin kenyataan kalo ibu kandung aku udah meninggal? 17 tahun aku hidup dalam kebohongan? BANGSAT!” Javar sudah tidak tahan lagi, ia benar-benar merasa seperti di permainkan oleh orang tuanya sendiri.</p>

<p>Javar langsung pergi meninggalkan Januar yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dadanya begitu sesak mengetahui kenyataan yang ada. Jevan yang kecelakaan karena kelalaiannya dan juga ibu kandungnya yang sebenarnya sudah meninggal.</p>

<p><em>Wow, double kill.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/kebenaran</guid>
      <pubDate>Fri, 13 May 2022 07:09:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Balas Dendam</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/jevan-memberhentikan-motor-nya-di-bagian-pinggir-arena-balap?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tw// Accident&#xA;&#xA;Jevan memberhentikan motor nya di bagian pinggir arena balap. Suasana di arena cukup ramai, sepertinya Jordi mengumumkan kepada anak sekolah jika ada balapan malam ini.&#xA;&#xA;&#34;Rame banget bang.&#34; ucap Jevan sambil melepaskan helm full facenya.&#xA;&#xA;&#34;Ya emang gini kalo setiap gue balapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok seru banget sihh??&#34;&#xA;&#xA;Mata Jevan berbinar, ia tampak senang melihat suasana di arena yang ramai oleh anak sekolah. Ini pertama kalinya Jevan bisa keluar rumah di saat malam hari, selain berhubungan dengan hal pelajaran ataupun sekolah. Sudah lama ia mengharapkan hal seperti ini terjadi.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah lu tunggu sini aja, gue mau nyamperin temen gue dulu.&#34;&#xA;&#xA;Jevan mengangguk mengerti. Sedangkan Javar menaiki motornya lagi dan mendatangi Jordi dan dua teman segengnya di tengah arena.&#xA;&#xA;Jujur saja, Javar sebenarnya juga kangen untuk balapan lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia balapan. Dan kali ini ia bisa bersenang-senang kembali tanpa memikirkan taruhan.&#xA;&#xA;Seperti yang sudah di duga, Javar lagi-lagi menang melawan Jordi dan temannya. Tapi anehnya, Jordi terlihat biasa saja atas kemenangan Javar. Malahan ia terlihat senang, entah karena apa.&#xA;&#xA;&#34;Gile-gile, kalah lagi kita brou.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seru banget anjir, ayo lah tiga puteran lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buset, napsu banget lu Troy. Sabar lah, kita tunggu Willy dateng baru balapan lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lu ngajak Willy Jor?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya Jav, sebenernya dia yang awalnya ngajak.&#34;&#xA;&#xA;Javar hanya mengangguk-ngangguk mengerti.&#xA;&#xA;&#34;Nah itu dia orangnya. WOI WILLY!&#34;&#xA;&#xA;Jordi, Yudhi dan Troy menghampiri Willy yang baru saja datang bersama rombongannya seperti biasa. Javar tidak ikut menghampiri Willy, ia menghampiri Jevan yang dari tadi terkesima melihat abangnya menang balapan.&#xA;&#xA;&#34;BANG LU KEREN BANGET ANJIRR.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baru tau?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya baru tau! Biasanya kan lu kerjaannya bikin ayah marah mulu!&#34; lanjut Jevan yang mengundang tangan Javar untuk menjitak kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Bangg, gue mau pinjem lagi dong motor lu. Mau ngebut kayak lu tadi, pleasee.&#34; paksa Jevan dengan menunjukkan jurus andalannya yaitu puppy eyes.&#xA;&#xA;Kalau sudah begini sepertinya Javar tidak bisa bilang tidak.&#xA;&#xA;&#34;Tapi gue udah mau balapan Pan, ntar aja ah pas pulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah elah, itu aja masih ada yang balapan di arena. Sembari nunggu giliran lu, gue pinjem dong. Mau muter sebentar di sekitar sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti Pan, gausah ngeyel.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah iya.&#34;&#xA;&#xA;----&#xA;&#xA;Jordi memberhentikan motornya setelah melihat seseorang yang sedari tadi ia cari. Bibirnya menyinggungkan senyum licik. Betapa mulusnya rencana yang telah ia rencanakan sejak kemarin—pikirnya.&#xA;&#xA;Dari belakang, ia membuntuti motor di depannya. Sepertinya motor di depannya tidak sadar jika ia di buntuti oleh Jordi, karena ia masih santai mengendarai motornya. &#xA;&#xA;Setelah di rasa daerah yang mereka lewati sudah cukup sepi, Jordi menacapkan gas nya untuk menyeimbangkan motornya dengan motor di depannya. &#xA;&#xA;Sekilas terlintas momen-momen yang sangat membuat Jordi kesal sekaligus benci dengan orang itu. Setelah motornya sudah hampir bersebalahan, ia memepetkan motornya agar motor orang itu berjalan tidak seimbang.&#xA;&#xA;Tentu saja orang tersebut panik bukan main, ia berusaha menyeimbangkan motornya agar tidak terjatuh ke aspal. Lagi-lagi Jordi memepetkan motor mereka sampai-sampai saat ini motor orang tersebut sudah berada bukan di jalurnya.&#xA;&#xA;Karena saking paniknya menstabilkan motor yang lumayan besar, orang tersebut sampai tidak sadar bahwa di depannya terdapat mobil yang berlawanan arah dengannya.&#xA;&#xA;Dengan sekali tendangan di bagian belakang motornya, orang tersebut oleng dan menabrak mobil didepannya sampai dia terpental dari jalan ke trotoar dan tak sadarkan diri.&#xA;&#xA;Sedangkan Jordi, ia langsung pergi dengan kecepatan yang tinggi meninggalkan orang tersebut. &#xA;&#xA;Jordi melaksanakan aksinya di saat di luar arena dan di saat yang lain masih balapan, jadi tidak ada yang bakal tau tentang ini.&#xA;&#xA;Maka dari itu saat ini Jordi tertawa puas karena rencana balas dendamnya berjalan sukses.&#xA;&#xA;Selamat tinggal Javar Jeandro, gue harap lo gak akan pernah bangun lagi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Tw// Accident</p>

<p>Jevan memberhentikan motor nya di bagian pinggir arena balap. Suasana di arena cukup ramai, sepertinya Jordi mengumumkan kepada anak sekolah jika ada balapan malam ini.</p>

<p>“Rame banget bang.” ucap Jevan sambil melepaskan helm full facenya.</p>

<p>“Ya emang gini kalo setiap gue balapan.”</p>

<p>“Kok seru banget sihh??”</p>

<p>Mata Jevan berbinar, ia tampak senang melihat suasana di arena yang ramai oleh anak sekolah. Ini pertama kalinya Jevan bisa keluar rumah di saat malam hari, selain berhubungan dengan hal pelajaran ataupun sekolah. Sudah lama ia mengharapkan hal seperti ini terjadi.</p>

<p>“Yaudah lu tunggu sini aja, gue mau nyamperin temen gue dulu.”</p>

<p>Jevan mengangguk mengerti. Sedangkan Javar menaiki motornya lagi dan mendatangi Jordi dan dua teman segengnya di tengah arena.</p>

<p>Jujur saja, Javar sebenarnya juga kangen untuk balapan lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia balapan. Dan kali ini ia bisa bersenang-senang kembali tanpa memikirkan taruhan.</p>

<p>Seperti yang sudah di duga, Javar lagi-lagi menang melawan Jordi dan temannya. Tapi anehnya, Jordi terlihat biasa saja atas kemenangan Javar. Malahan ia terlihat senang, entah karena apa.</p>

<p>“Gile-gile, kalah lagi kita brou.”</p>

<p>“Seru banget anjir, ayo lah tiga puteran lagi.”</p>

<p>“Buset, napsu banget lu Troy. Sabar lah, kita tunggu Willy dateng baru balapan lagi.”</p>

<p>“Lu ngajak Willy Jor?”</p>

<p>“Iya Jav, sebenernya dia yang awalnya ngajak.”</p>

<p>Javar hanya mengangguk-ngangguk mengerti.</p>

<p>“Nah itu dia orangnya. WOI WILLY!”</p>

<p>Jordi, Yudhi dan Troy menghampiri Willy yang baru saja datang bersama rombongannya seperti biasa. Javar tidak ikut menghampiri Willy, ia menghampiri Jevan yang dari tadi terkesima melihat abangnya menang balapan.</p>

<p>“BANG LU KEREN BANGET ANJIRR.”</p>

<p>“Baru tau?”</p>

<p>“Iya baru tau! Biasanya kan lu kerjaannya bikin ayah marah mulu!” lanjut Jevan yang mengundang tangan Javar untuk menjitak kepalanya.</p>

<p>“Bangg, gue mau pinjem lagi dong motor lu. Mau ngebut kayak lu tadi, pleasee.” paksa Jevan dengan menunjukkan jurus andalannya yaitu <em>puppy eyes.</em></p>

<p>Kalau sudah begini sepertinya Javar tidak bisa bilang tidak.</p>

<p>“Tapi gue udah mau balapan Pan, ntar aja ah pas pulang.”</p>

<p>“Ah elah, itu aja masih ada yang balapan di arena. Sembari nunggu giliran lu, gue pinjem dong. Mau muter sebentar di sekitar sini.”</p>

<p>“Nanti Pan, gausah ngeyel.”</p>

<p>“Yaudah iya.”</p>

<hr/>

<p>Jordi memberhentikan motornya setelah melihat seseorang yang sedari tadi ia cari. Bibirnya menyinggungkan senyum licik. Betapa mulusnya rencana yang telah ia rencanakan sejak kemarin—<em>pikirnya.</em></p>

<p>Dari belakang, ia membuntuti motor di depannya. Sepertinya motor di depannya tidak sadar jika ia di buntuti oleh Jordi, karena ia masih santai mengendarai motornya.</p>

<p>Setelah di rasa daerah yang mereka lewati sudah cukup sepi, Jordi menacapkan gas nya untuk menyeimbangkan motornya dengan motor di depannya.</p>

<p>Sekilas terlintas momen-momen yang sangat membuat Jordi kesal sekaligus benci dengan orang itu. Setelah motornya sudah hampir bersebalahan, ia memepetkan motornya agar motor orang itu berjalan tidak seimbang.</p>

<p>Tentu saja orang tersebut panik bukan main, ia berusaha menyeimbangkan motornya agar tidak terjatuh ke aspal. Lagi-lagi Jordi memepetkan motor mereka sampai-sampai saat ini motor orang tersebut sudah berada bukan di jalurnya.</p>

<p>Karena saking paniknya menstabilkan motor yang lumayan besar, orang tersebut sampai tidak sadar bahwa di depannya terdapat mobil yang berlawanan arah dengannya.</p>

<p>Dengan sekali tendangan di bagian belakang motornya, orang tersebut oleng dan menabrak mobil didepannya sampai dia terpental dari jalan ke trotoar dan tak sadarkan diri.</p>

<p>Sedangkan Jordi, ia langsung pergi dengan kecepatan yang tinggi meninggalkan orang tersebut.</p>

<p>Jordi melaksanakan aksinya di saat di luar arena dan di saat yang lain masih balapan, jadi tidak ada yang bakal tau tentang ini.</p>

<p>Maka dari itu saat ini Jordi tertawa puas karena rencana balas dendamnya berjalan sukses.</p>

<p><em>Selamat tinggal Javar Jeandro, gue harap lo gak akan pernah bangun lagi.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/jevan-memberhentikan-motor-nya-di-bagian-pinggir-arena-balap</guid>
      <pubDate>Fri, 22 Apr 2022 10:44:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Teman</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/bantuan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gedung besar, tempat yang aesthetic dengan banyak spot untuk berfoto dan menu dengan harga di atas rata-rata. Bisa dipastikan Cafe 127 ini adalah cafe yang elit dan juga pasti gaji karyawannya lumayan besar. &#xA;&#xA;Jamal menelan ludahnya gugup karena ia sangat tidak percaya diri untuk melamar kerja di tempat sebagus ini. Cafe biasa seperti cafe yang sudah ia datangi saja tidak menerimanya, apalagi cafe sebesar dan sebagus ini? &#xA;&#xA;Ya bisa di bilang Jamal sekarang sedang insecure.&#xA;&#xA;Tapi ia tepis semua pemikiran negatif yang muncul di kepalanya, mau bagaimana pun ini adalah cafe terakhir yang ada di daerahnya. Jadi ia harus yakin bisa di terima disini.&#xA;&#xA;Jamal masuk ke dalam cafe nya dan langsung menanyakan apakah ia bisa bertemu dengan sang pemilik cafe kepada salah satu pelayan cafe. &#xA;&#xA;&#34;Duh mas cari aja lah sendiri, saya udah gak kerja di sini lagi!&#34; jawab sang pelayan yang terlihat melepas apron yang ia pakai dan meletakkannya pada meja.&#xA;&#xA;Pelayan tersebut langsung pergi keluar cafe dengan wajah yang kesal. Jamal yang masih terdiam di tempat hanya bisa bingung atas situasi tersebut. Tapi tak lama ia menyadari bahwa jika pelayan tadi sudah keluar dari cafe ini, berarti ada posisi kosong yang bisa ia tempati.&#xA;&#xA;&#34;Hallo, ada yang bisa saya bantu? Mau pesen apa?&#34; tiba-tiba datang seseorang entah dari mana dan hampir mengageti Jamal yang sedang terdiam.&#xA;&#xA;&#34;Halo pak, anu... saya mau ketemu sama manager di cafe ini bisa gak ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ohh? Kebetulan managernya itu saya sendiri, ada apa ya nyari saya?&#34;&#xA;&#xA;Jamal agak sedikit kaget karena ia tak menyangka akan langsung bertemu dengan sang manager. &#xA;&#xA;&#34;O-oh halo pak, perkenalkan sama Jamal. Saya di sini ingin melamar pekerjaan.&#34;&#xA;&#xA;Sang manager hanya terdiam dan memperhatikan Jamal dari atas sampai bawah pakaiannya. Wajahnya seketika menjadi serius saat menatap Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Kebetulan banget sih tadi baru aja pelayan yang ngundurin diri, jadi ada posisi yang kosong. Tapi... kamu ini masih SMA?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya pak saya masih SMA. Tapi pak, saya bener-bener butuh banget pekerjaan ini. Mau di tempatin di mana aja saya mau kok pak, atau mau sampe jam berapa aja saya tetep mau. Soalnya saya harus bisa dapat uang dalam seminggu ini.&#34; ucap Jamal panjang lebar untuk meyakinkan sang bapak manager.&#xA;&#xA;&#34;Saya sih bisa aja nerima kamu buat kerja disini, tapi kalo masalah yang kamu bilang harus bisa dapet uang dalam seminggu, saya gak bisa nge gaji kamu cuma seminggu. Minimal kamu harus kerja selama sebulan dulu, baru bisa saya gaji.&#34;&#xA;&#xA;Entah bagaimana Jamal harus bereaksi. Ia senang karena secara tidak langsung sudah diterima lamaran kerjanya, tapi di saat yang sama ia juga bingung. Jamal kan melamar kerja agar bisa mendapat uang dalam kurun waktu seminggu ini, tapi kalau begini namanya sia-sia dong?&#xA;&#xA;&#34;Pak apa gak bisa saya minta gaji di depan? Saya janji bakal kerja di sini seterusnya, mau bapak gak bayar juga gak papa. Cuma sama butuh banget uang dalam waktu seminggu ini pak, saya mohon.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya, kalau kayak gitu belum bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak saya mohon pak, saya udah di tolak sama semua cafe yang ada di sekitar sini. Cuma Cafe 127 ini harapan saya. Saya bener-bener lagi butuh uang buat biaya operasi bunda saya pak, please saya mohon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aduh, bukannya saya gak mau bantu kamu, tapi kamu liat sendiri cafe ini sekarang. Bener-bener lagi sepi, pelanggan cuma ada 1 atau 2 orang. Jadi pemasukan saya juga pas-pas an, maaf saya gak bisa bantu kamu.&#34;&#xA;&#xA;Hancur sudah harapan Jamal. Ia tak bisa juga memaksakan jika ini kenyataannya. Mungkin jalannya memang ia harus menjual semua barang miliknya, bukannya bekerja. Yasudah lah, setidaknya ia sudah berusaha.&#xA;&#xA;Dengan mata yang berkaca-kaca, Jamal akhirnya mengangguk menerima. &#34;Baik kalau begitu pak, maaf telah mengganggu waktunya. Saya—&#34;&#xA;&#xA;&#34;STOP! JANGAN PERGI! Terima aja dia jadi pekerja di cafe ini pak!&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah pintu masuk cafe. Jamal terkejut setelah melihat siapa orang yang berteriak tadi dan juga orang-orang yang datang bersamanya. Bagaimana bisa mereka tau Jamal ada di sini?&#xA;&#xA;Javar, Juan, Diki dan Freya.&#xA;&#xA;Bagaikan pahlawan kesiangan, mereka menghampiri Jamal dengan wajah yang menjanjikan suatu harapan.&#xA;&#xA;&#34;Pak bisa bicara sebentar?&#34; ucap Javar ke sang manager dan menjauh dari 4 orang tersebut.&#xA;&#xA;Sedangkan Jamal sekarang sedang di kelilingi oleh 2 sahabat dan 1 muridnya. Wajahnya penuh kebingungan menatap ketiga temannya.&#xA;&#xA;&#34;Kalian kok ada di sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang ada gue nanya ke lo, ngapin lo di sini? Kemaren katanya janji mau belajar buat UTS bareng, tapi kok sekarang malah di sini?&#34;&#xA;&#xA;Jamal hanya bisa menunduk sambil menahan tangisnya, &#34;Gue- gue ad—&#34;&#xA;&#xA;Belum sempat Jamal berbicara, 2 sahabatnya langsung memeluknya erat.&#xA;&#xA;&#34;Gue udah bilang berapa kali sih? Kalo ada masalah tuh cerita anjir! Jangan di pendem aja!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tau nih, kan udah kita bilang, lu kalo butuh apa-apa bilang aja karena kita bisa bantu lu dua empat per tujuh! Kalo kayak gini kan lu kasian.&#34;&#xA;&#xA;Jamal teridam sebentar.&#xA;&#xA;&#34;Kalian udah tau?&#34; tanya Jamal bingung.&#xA;&#xA;&#34;Ya tau lah kocak! Kalo gak tau mana mungkin kita ke sini, gimana sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emosi mulu dah si Diki.&#34; celetuk Freya yang hanya bisa melihat kelakuan 3 cowo di depannya.&#xA;&#xA;Tangis Jamal tak bisa terbendung lagi. Ia tak menyangka bahwa akhirnya temannya akan tau tentang semua beban yang ia miliki saat ini. Selama ini ia menyimpannya karena tak mau membuat temannya kepikiran tentang dia. Tapi rupanya karena kejadian ini, akhirnya Jamal bisa merasa sedikit kelegaan di hati nya.&#xA;&#xA;&#34;Jamal, kamu bisa kerja di sini dan akan saya gaji selama seminggu.&#34; &#xA;&#xA;Jamal melepas pelukan kedua temannya saat mendengar ucapan sang manager. &#34;Hah?  Gak papa pak? Tadi katanya gak bisa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya tadinya gak bisa, tapi tadi gue udah nawar sama bapaknya. Kita semua bakal kerja di sini buat bantuin lu dan gue udah janji sama bapaknya bakal bikin cafe ini rame lagi dalam waktu seminggu. Kalo beneran rame, semua gaji kita seminggu buat lu.&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi Jamal hanya bisa menangis bahagia setelah menerima semua bantuan dari temannya. Ia tak menyangka bahwa temannya akan membantu kesulitannya sampai seperti ini. Saat ini Jamal sangat bahagia dan besyukur memiliki teman seperti mereka.&#xA;&#xA;&#34;Makasih Jav, makasih semua.&#34;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gedung besar, tempat yang aesthetic dengan banyak spot untuk berfoto dan menu dengan harga di atas rata-rata. Bisa dipastikan Cafe 127 ini adalah cafe yang elit dan juga pasti gaji karyawannya lumayan besar.</p>

<p>Jamal menelan ludahnya gugup karena ia sangat tidak percaya diri untuk melamar kerja di tempat sebagus ini. Cafe biasa seperti cafe yang sudah ia datangi saja tidak menerimanya, apalagi cafe sebesar dan sebagus ini?</p>

<p>Ya bisa di bilang Jamal sekarang sedang insecure.</p>

<p>Tapi ia tepis semua pemikiran negatif yang muncul di kepalanya, mau bagaimana pun ini adalah cafe terakhir yang ada di daerahnya. Jadi ia harus yakin bisa di terima disini.</p>

<p>Jamal masuk ke dalam cafe nya dan langsung menanyakan apakah ia bisa bertemu dengan sang pemilik cafe kepada salah satu pelayan cafe.</p>

<p>“Duh mas cari aja lah sendiri, saya udah gak kerja di sini lagi!” jawab sang pelayan yang terlihat melepas apron yang ia pakai dan meletakkannya pada meja.</p>

<p>Pelayan tersebut langsung pergi keluar cafe dengan wajah yang kesal. Jamal yang masih terdiam di tempat hanya bisa bingung atas situasi tersebut. Tapi tak lama ia menyadari bahwa jika pelayan tadi sudah keluar dari cafe ini, berarti ada posisi kosong yang bisa ia tempati.</p>

<p>“Hallo, ada yang bisa saya bantu? Mau pesen apa?” tiba-tiba datang seseorang entah dari mana dan hampir mengageti Jamal yang sedang terdiam.</p>

<p>“Halo pak, anu... saya mau ketemu sama manager di cafe ini bisa gak ya?”</p>

<p>“Ohh? Kebetulan managernya itu saya sendiri, ada apa ya nyari saya?”</p>

<p>Jamal agak sedikit kaget karena ia tak menyangka akan langsung bertemu dengan sang manager.</p>

<p>“O-oh halo pak, perkenalkan sama Jamal. Saya di sini ingin melamar pekerjaan.”</p>

<p>Sang manager hanya terdiam dan memperhatikan Jamal dari atas sampai bawah pakaiannya. Wajahnya seketika menjadi serius saat menatap Jamal.</p>

<p>“Kebetulan banget sih tadi baru aja pelayan yang ngundurin diri, jadi ada posisi yang kosong. Tapi... kamu ini masih SMA?”</p>

<p>“Iya pak saya masih SMA. Tapi pak, saya bener-bener butuh banget pekerjaan ini. Mau di tempatin di mana aja saya mau kok pak, atau mau sampe jam berapa aja saya tetep mau. Soalnya saya harus bisa dapat uang dalam seminggu ini.” ucap Jamal panjang lebar untuk meyakinkan sang bapak manager.</p>

<p>“Saya sih bisa aja nerima kamu buat kerja disini, tapi kalo masalah yang kamu bilang harus bisa dapet uang dalam seminggu, saya gak bisa nge gaji kamu cuma seminggu. Minimal kamu harus kerja selama sebulan dulu, baru bisa saya gaji.”</p>

<p>Entah bagaimana Jamal harus bereaksi. Ia senang karena secara tidak langsung sudah diterima lamaran kerjanya, tapi di saat yang sama ia juga bingung. Jamal kan melamar kerja agar bisa mendapat uang dalam kurun waktu seminggu ini, tapi kalau begini namanya sia-sia dong?</p>

<p>“Pak apa gak bisa saya minta gaji di depan? Saya janji bakal kerja di sini seterusnya, mau bapak gak bayar juga gak papa. Cuma sama butuh banget uang dalam waktu seminggu ini pak, saya mohon.”</p>

<p>“Maaf ya, kalau kayak gitu belum bisa.”</p>

<p>“Pak saya mohon pak, saya udah di tolak sama semua cafe yang ada di sekitar sini. Cuma Cafe 127 ini harapan saya. Saya bener-bener lagi butuh uang buat biaya operasi bunda saya pak, please saya mohon.”</p>

<p>“Aduh, bukannya saya gak mau bantu kamu, tapi kamu liat sendiri cafe ini sekarang. Bener-bener lagi sepi, pelanggan cuma ada 1 atau 2 orang. Jadi pemasukan saya juga pas-pas an, maaf saya gak bisa bantu kamu.”</p>

<p>Hancur sudah harapan Jamal. Ia tak bisa juga memaksakan jika ini kenyataannya. Mungkin jalannya memang ia harus menjual semua barang miliknya, bukannya bekerja. Yasudah lah, setidaknya ia sudah berusaha.</p>

<p>Dengan mata yang berkaca-kaca, Jamal akhirnya mengangguk menerima. “Baik kalau begitu pak, maaf telah mengganggu waktunya. Saya—”</p>

<p><em>“STOP! JANGAN PERGI! Terima aja dia jadi pekerja di cafe ini pak!”</em></p>

<p>Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah pintu masuk cafe. Jamal terkejut setelah melihat siapa orang yang berteriak tadi dan juga orang-orang yang datang bersamanya. Bagaimana bisa mereka tau Jamal ada di sini?</p>

<p>Javar, Juan, Diki dan Freya.</p>

<p>Bagaikan pahlawan kesiangan, mereka menghampiri Jamal dengan wajah yang menjanjikan suatu harapan.</p>

<p>“Pak bisa bicara sebentar?” ucap Javar ke sang manager dan menjauh dari 4 orang tersebut.</p>

<p>Sedangkan Jamal sekarang sedang di kelilingi oleh 2 sahabat dan 1 muridnya. Wajahnya penuh kebingungan menatap ketiga temannya.</p>

<p>“Kalian kok ada di sini?”</p>

<p>“Yang ada gue nanya ke lo, ngapin lo di sini? Kemaren katanya janji mau belajar buat UTS bareng, tapi kok sekarang malah di sini?”</p>

<p>Jamal hanya bisa menunduk sambil menahan tangisnya, “Gue- gue ad—”</p>

<p>Belum sempat Jamal berbicara, 2 sahabatnya langsung memeluknya erat.</p>

<p>“Gue udah bilang berapa kali sih? Kalo ada masalah tuh cerita anjir! Jangan di pendem aja!”</p>

<p>“Tau nih, kan udah kita bilang, lu kalo butuh apa-apa bilang aja karena kita bisa bantu lu dua empat per tujuh! Kalo kayak gini kan lu kasian.”</p>

<p>Jamal teridam sebentar.</p>

<p>“Kalian udah tau?” tanya Jamal bingung.</p>

<p>“Ya tau lah kocak! Kalo gak tau mana mungkin kita ke sini, gimana sih?”</p>

<p>“Emosi mulu dah si Diki.” celetuk Freya yang hanya bisa melihat kelakuan 3 cowo di depannya.</p>

<p>Tangis Jamal tak bisa terbendung lagi. Ia tak menyangka bahwa akhirnya temannya akan tau tentang semua beban yang ia miliki saat ini. Selama ini ia menyimpannya karena tak mau membuat temannya kepikiran tentang dia. Tapi rupanya karena kejadian ini, akhirnya Jamal bisa merasa sedikit kelegaan di hati nya.</p>

<p>“Jamal, kamu bisa kerja di sini dan akan saya gaji selama seminggu.”</p>

<p>Jamal melepas pelukan kedua temannya saat mendengar ucapan sang manager. “Hah?  Gak papa pak? Tadi katanya gak bisa?”</p>

<p>“Iya tadinya gak bisa, tapi tadi gue udah nawar sama bapaknya. Kita semua bakal kerja di sini buat bantuin lu dan gue udah janji sama bapaknya bakal bikin cafe ini rame lagi dalam waktu seminggu. Kalo beneran rame, semua gaji kita seminggu buat lu.”</p>

<p>Lagi-lagi Jamal hanya bisa menangis bahagia setelah menerima semua bantuan dari temannya. Ia tak menyangka bahwa temannya akan membantu kesulitannya sampai seperti ini. Saat ini Jamal sangat bahagia dan besyukur memiliki teman seperti mereka.</p>

<p>“Makasih Jav, makasih semua.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/bantuan</guid>
      <pubDate>Sun, 27 Mar 2022 16:48:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cukup Beruntung</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/cukup-beruntung-b5kx?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jamal masih termenung memikirkan kenapa sepertinya nasibnya begitu buruk. Awalnya memang semuanya berjalan normal dan bahagia. Tapi semenjak Jamal mulai menginjak remaja, di saat ia sudah memasuki masa pubertas, semuanya berubah. &#xA;&#xA;Hanya karena penampilan fisiknya yang kurang rupawan dan pakaiannya yang tidak fashionable, semua orang memandangnya rendah. Di tambah lagi karena ia bukan orang yang berada, orang lain semakin memandangnya rendah. &#xA;&#xA;Hinaan dan cacian sebenarnya sudah Jamal lewati sejak dulu. Tapi entah kenapa, pertanyaan sepele dari mama Javar sangat membuat Jamal sakit hati.&#xA;&#xA;Memangnya salah jika ia sudah di lahirkan seperti ini?&#xA;&#xA;Tok! Tok! Tok!&#xA;&#xA;Lamunan Jamal langsung terbuyar setelah mendengar suara ketukan pintu. Jamal langsung beranjak dari duduknya menghampiri pintu depan. &#xA;&#xA;Jamal terdiam sebentar di depan pintu sambil mengerutkan dahinya. &#xA;&#xA;&#34;Ada apa ya pak?&#34; tanya Jamal dengan kebingungan. Orang di depannya hanya menampaknya cengiran lebar.&#xA;&#xA;&#34;Anu mas, balon saya nyangkut di pohon halaman depan mas. Saya izin manjat pohonnya ya mas?&#34;&#xA;&#xA;Jamal mengerjapkan mata beberapa kali masih sambil mengerutkat dahi. Tapi tak lama ia mengangguk pelan memboleh kan.&#xA;&#xA;Orang yang baru saja mengetuk pintu rumah Jamal adalah seorang tukang balon yang biasanya membawa balon berbentuk karakter kartun. Tau kan? Entah bagaimana salah satu balonnya bisa menyangkut di pohon depan rumah Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Eh mas saya titip balon saya.&#34; kata bapak tersebut dan menyodorkan balon-balon karakter kartun yang sedari tadi ia pegang.&#xA;&#xA;Setelah balonnya di pegang Jamal, bapak tersebut pelan-pelan menaiki pohon milik Jamal yang cukup besar dan tinggi. Lumayan susah untuk di naiki sebenarnya, tapi bapak tersebut pantang menyerah sampai ia mendapatkan balonnya yang tersangkut hampir di pucuk pohon.&#xA;&#xA;Tak lama ia turun membawa balon hello kitty yang tadi tersangkut di pohon. Bapak tukang balon tersebut terlihat sedikit ngos-ngosan karena memerlukan perjuangan untuk bisa naik ke atas pohon.&#xA;&#xA;Jamal yang melihatnya merasa kasian. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambilkan air minum untuk bapak nya.&#xA;&#xA;&#34;Di minum dulu pak.&#34; kata Jamal sambil memberikan segelas air putih hangat.&#xA;&#xA;&#34;Eh makasih mas.&#34; balasnya dan meminum air yang di berikan Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Bapak mau sekalian makan? Udah makan siang belum pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh gausah mas, saya jadi ngerepotin. Saya numpang duduk dulu sebentar aja gak papa mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya gak papa kok pak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya mas, aduh saya tuh capek banget dari pagi sampe siang gini muter-muter belum ada yang beli balon saya. Mana tadi pake nyangkut di pohonnya si mas. Untung gak lepas, kalo sampe lepas penghasilan saya berkurang lagi. Terus mau saya kasih makan apa keluarga saya?&#34; jelasnya dengan sedih.&#xA;&#xA;&#34;Saya tuh gak punya rumah mas, saya tinggal di gubuk. Saya juga bukan lulusan SMA jadi saya gak bisa kerja yang macem-macem. Cuma dari balon ini sama bisa makan dan ngehidupin keluarga kecil saya.&#34; lanjut sang bapak.&#xA;&#xA;Jamal merasa kasian dan iba setelah mendengar sedikit cerita dari bapak tersebut. Di pikir-pikir hidup Jamal bisa di bilang cukup beruntung sekarang. Mempunyai rumah, masih bisa sekolah, masih bisa makan, Jamal masih sangat amat beruntung bukan?&#xA;&#xA;Seketika ia menyesali pemikirannya tentang betapa buruk nasibnya. Nyatanya, tepat di depan matanya masih ada yang orang yang lebih susah darinya. Tidak seharusnya dia merasa menyesal karena telah di berikan hidup seperti ini. &#xA;&#xA;Setelah menyesali pemikirannya, Jamal langsung merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dompetnya.&#xA;&#xA;&#34;Pak, saya gak bisa bantu beli balonnya. Saya cuma bisa kasih ini, mohon di terima ya pak.&#34; kata Jamal sambil memberikan selembar uang 100 ribu.&#xA;&#xA;Sang bapak tadinya menolak, tapi karena Jamal terus memaksa akhirnya uang tersebut di ambil bapaknya.&#xA;&#xA;&#34;Yaampun mas, gausah loh padahal. Tapi makasih ya mas hehe. Betewe mas sendirian di rumah? Kayaknya sepi banget rumahnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Iya pak saya sendirian di rumah. Bunda saya lagi gak di rumah.&#34; jawab Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Kalo Ayahnya kemana mas?&#34;&#xA;&#xA;Seketika alis Jamal menyatu, kenapa tiba-tiba bapaknya jadi kepo? &#xA;&#xA;&#34;Oh ayah saya udah gak ada.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh yaampun mas, sori saya gatau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa pak.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu hening. Tidak ada lagi topik obrolan yang terbesit di pikiran Jamal. &#xA;&#xA;&#34;Mamaaa adek mau balon upin!&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba di depan rumah Jamal terdengar suara rengekan anak kecil meminta di belikan balon. Tapi anehnya, bapak penjual balon hanya diam tidak begeming.&#xA;&#xA;&#34;Pak! Saya beli balon!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak itu ada yang mau beli balon.&#34; &#xA;&#xA;Jamal mencolek si bapak. Bapak penjual balon itu pun sedikit linglung dan tersadar.&#xA;&#xA;&#34;E-eh ada yang mau beli ya? Yaudah kalo gitu, makasih banyak ya mas...? Siapa namanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya Jamal, pak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jamal siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jamal Jaenudin..&#34; jawabnya sedikit ragu.&#xA;&#xA;&#34;Gak ada nama belakangnya?&#34;&#xA;&#xA;Jamal menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Ah masa? Serius gak nih mas?&#34;&#xA;&#xA;Jamal mengangguk. Sedangkan sang bapak hanya cengengesan sambil masih melihatnya tak yakin.&#xA;&#xA;&#34;Kalo bapak namanya siapa?&#34; tanya Jamal setelah beberapa detik hening karena sang bapak hanya memelototinya.&#xA;&#xA;&#34;Saya? Nama saya Ti—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak! Saya mau beli balon loh ini dari tadi!&#34;&#xA;&#xA;&#34;E-ehh iya bu, saya ke depan. Aduh mas saya ke depan dulu ya, betewe makasih sekali lagi ya mas Jamal Jaenudin.&#34; kata bapk tersebut sambil mengacungkan jempolnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya pak, sama-sama.&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya bapak tersebut melayani sang ibu dan anaknya yang ingin membeli balon jualannya. Tak lama kemudian, datang juga segerombolan anak mengerubungi sang tukang balon. Bisa terlihat sang bapak kewalahan melayani begitu banyak anak.&#xA;&#xA;Jamal melihatnya senang, karena akhirnya jualan sang bapak bisa laku juga.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jamal masih termenung memikirkan kenapa sepertinya nasibnya begitu buruk. Awalnya memang semuanya berjalan normal dan bahagia. Tapi semenjak Jamal mulai menginjak remaja, di saat ia sudah memasuki masa pubertas, semuanya berubah.</p>

<p>Hanya karena penampilan fisiknya yang kurang rupawan dan pakaiannya yang tidak fashionable, semua orang memandangnya rendah. Di tambah lagi karena ia bukan orang yang berada, orang lain semakin memandangnya rendah.</p>

<p>Hinaan dan cacian sebenarnya sudah Jamal lewati sejak dulu. Tapi entah kenapa, pertanyaan sepele dari mama Javar sangat membuat Jamal sakit hati.</p>

<p>Memangnya salah jika ia sudah di lahirkan seperti ini?</p>

<p><em>Tok! Tok! Tok!</em></p>

<p>Lamunan Jamal langsung terbuyar setelah mendengar suara ketukan pintu. Jamal langsung beranjak dari duduknya menghampiri pintu depan.</p>

<p>Jamal terdiam sebentar di depan pintu sambil mengerutkan dahinya.</p>

<p>“Ada apa ya pak?” tanya Jamal dengan kebingungan. Orang di depannya hanya menampaknya cengiran lebar.</p>

<p>“Anu mas, balon saya nyangkut di pohon halaman depan mas. Saya izin manjat pohonnya ya mas?”</p>

<p>Jamal mengerjapkan mata beberapa kali masih sambil mengerutkat dahi. Tapi tak lama ia mengangguk pelan memboleh kan.</p>

<p>Orang yang baru saja mengetuk pintu rumah Jamal adalah seorang tukang balon yang biasanya membawa balon berbentuk karakter kartun. Tau kan? Entah bagaimana salah satu balonnya bisa menyangkut di pohon depan rumah Jamal.</p>

<p>“Eh mas saya titip balon saya.” kata bapak tersebut dan menyodorkan balon-balon karakter kartun yang sedari tadi ia pegang.</p>

<p>Setelah balonnya di pegang Jamal, bapak tersebut pelan-pelan menaiki pohon milik Jamal yang cukup besar dan tinggi. Lumayan susah untuk di naiki sebenarnya, tapi bapak tersebut pantang menyerah sampai ia mendapatkan balonnya yang tersangkut hampir di pucuk pohon.</p>

<p>Tak lama ia turun membawa balon hello kitty yang tadi tersangkut di pohon. Bapak tukang balon tersebut terlihat sedikit ngos-ngosan karena memerlukan perjuangan untuk bisa naik ke atas pohon.</p>

<p>Jamal yang melihatnya merasa kasian. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambilkan air minum untuk bapak nya.</p>

<p>“Di minum dulu pak.” kata Jamal sambil memberikan segelas air putih hangat.</p>

<p>“Eh makasih mas.” balasnya dan meminum air yang di berikan Jamal.</p>

<p>“Bapak mau sekalian makan? Udah makan siang belum pak?”</p>

<p>“Eh gausah mas, saya jadi ngerepotin. Saya numpang duduk dulu sebentar aja gak papa mas?”</p>

<p>“Iya gak papa kok pak.”</p>

<p>“Makasih ya mas, aduh saya tuh capek banget dari pagi sampe siang gini muter-muter belum ada yang beli balon saya. Mana tadi pake nyangkut di pohonnya si mas. Untung gak lepas, kalo sampe lepas penghasilan saya berkurang lagi. Terus mau saya kasih makan apa keluarga saya?” jelasnya dengan sedih.</p>

<p>“Saya tuh gak punya rumah mas, saya tinggal di gubuk. Saya juga bukan lulusan SMA jadi saya gak bisa kerja yang macem-macem. Cuma dari balon ini sama bisa makan dan ngehidupin keluarga kecil saya.” lanjut sang bapak.</p>

<p>Jamal merasa kasian dan iba setelah mendengar sedikit cerita dari bapak tersebut. Di pikir-pikir hidup Jamal bisa di bilang cukup beruntung sekarang. Mempunyai rumah, masih bisa sekolah, masih bisa makan, Jamal masih sangat amat beruntung bukan?</p>

<p>Seketika ia menyesali pemikirannya tentang betapa buruk nasibnya. Nyatanya, tepat di depan matanya masih ada yang orang yang lebih susah darinya. Tidak seharusnya dia merasa menyesal karena telah di berikan hidup seperti ini.</p>

<p>Setelah menyesali pemikirannya, Jamal langsung merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dompetnya.</p>

<p>“Pak, saya gak bisa bantu beli balonnya. Saya cuma bisa kasih ini, mohon di terima ya pak.” kata Jamal sambil memberikan selembar uang 100 ribu.</p>

<p>Sang bapak tadinya menolak, tapi karena Jamal terus memaksa akhirnya uang tersebut di ambil bapaknya.</p>

<p>“Yaampun mas, gausah loh padahal. Tapi makasih ya mas hehe. Betewe mas sendirian di rumah? Kayaknya sepi banget rumahnya?”</p>

<p>“Eh? Iya pak saya sendirian di rumah. Bunda saya lagi gak di rumah.” jawab Jamal.</p>

<p>“Kalo Ayahnya kemana mas?”</p>

<p>Seketika alis Jamal menyatu, kenapa tiba-tiba bapaknya jadi kepo?</p>

<p>“Oh ayah saya udah gak ada.”</p>

<p>“Eh yaampun mas, sori saya gatau.”</p>

<p>“Gapapa pak.”</p>

<p>Setelah itu hening. Tidak ada lagi topik obrolan yang terbesit di pikiran Jamal.</p>

<p><em>“Mamaaa adek mau balon upin!”</em></p>

<p>Tiba-tiba di depan rumah Jamal terdengar suara rengekan anak kecil meminta di belikan balon. Tapi anehnya, bapak penjual balon hanya diam tidak begeming.</p>

<p><em>“Pak! Saya beli balon!”</em></p>

<p>“Pak itu ada yang mau beli balon.”</p>

<p>Jamal mencolek si bapak. Bapak penjual balon itu pun sedikit linglung dan tersadar.</p>

<p>“E-eh ada yang mau beli ya? Yaudah kalo gitu, makasih banyak ya mas...? Siapa namanya?”</p>

<p>“Saya Jamal, pak.”</p>

<p>“Jamal siapa?”</p>

<p>“Jamal Jaenudin..” jawabnya sedikit ragu.</p>

<p>“Gak ada nama belakangnya?”</p>

<p>Jamal menggeleng.</p>

<p>“Ah masa? Serius gak nih mas?”</p>

<p>Jamal mengangguk. Sedangkan sang bapak hanya cengengesan sambil masih melihatnya tak yakin.</p>

<p>“Kalo bapak namanya siapa?” tanya Jamal setelah beberapa detik hening karena sang bapak hanya memelototinya.</p>

<p>“Saya? Nama saya Ti—”</p>

<p><em>“Pak! Saya mau beli balon loh ini dari tadi!”</em></p>

<p>“E-ehh iya bu, saya ke depan. Aduh mas saya ke depan dulu ya, betewe makasih sekali lagi ya mas Jamal Jaenudin.” kata bapk tersebut sambil mengacungkan jempolnya.</p>

<p>“Iya pak, sama-sama.”</p>

<p>Akhirnya bapak tersebut melayani sang ibu dan anaknya yang ingin membeli balon jualannya. Tak lama kemudian, datang juga segerombolan anak mengerubungi sang tukang balon. Bisa terlihat sang bapak kewalahan melayani begitu banyak anak.</p>

<p>Jamal melihatnya senang, karena akhirnya jualan sang bapak bisa laku juga.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/cukup-beruntung-b5kx</guid>
      <pubDate>Mon, 21 Mar 2022 13:26:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cukup Beruntung</title>
      <link>https://unknownctzen.writeas.com/cukup-beruntung?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jamal masih termenung memikirkan kenapa sepertinya nasibnya begitu buruk. Awalnya memang semuanya berjalan normal dan bahagia. Tapi semenjak Jamal mulai menginjak remaja, di saat ia sudah memasuki masa pubertas, semuanya berubah. &#xA;&#xA;Hanya karena penampilan fisiknya yang kurang rupawan dan pakaiannya yang tidak fashionable, semua orang memandangnya rendah. Di tambah lagi karena ia bukan orang yang berada, orang lain semakin memandangnya rendah. &#xA;&#xA;Hinaan dan cacian sebenarnya sudah Jamal lewati sejak dulu. Tapi entah kenapa, pertanyaan sepele dari mama Javar sangat membuat Jamal sakit hati.&#xA;&#xA;Memangnya salah jika ia sudah di lahirkan seperti ini?&#xA;&#xA;Tok! Tok! Tok!&#xA;&#xA;Lamunan Jamal langsung terbuyar setelah mendengar suara ketukan pintu. Jamal langsung beranjak dari duduknya menghampiri pintu depan. &#xA;&#xA;Jamal terdiam sebentar di depan pintu sambil mengerutkan dahinya. &#xA;&#xA;&#34;Ada apa ya pak?&#34; tanya Jamal dengan kebingungan. Orang di depannya hanya menampaknya cengiran lebar.&#xA;&#xA;&#34;Anu mas, balon saya nyangkut di pohon halaman depan mas. Saya izin manjat pohonnya ya mas?&#34;&#xA;&#xA;Jamal mengerjapkan mata beberapa kali masih sambil mengerutkat dahi. Tapi tak lama ia mengangguk pelan memboleh kan.&#xA;&#xA;Orang yang baru saja mengetuk pintu rumah Jamal adalah seorang tukang balon yang biasanya membawa balon berbentuk karakter kartun. Tau kan? Entah bagaimana salah satu balonnya bisa menyangkut di pohon depan rumah Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Eh mas saya titip balon saya.&#34; kata bapak tersebut dan menyodorkan balon-balon karakter kartun yang sedari tadi ia pegang.&#xA;&#xA;Setelah balonnya di pegang Jamal, bapak tersebut pelan-pelan menaiki pohon milik Jamal yang cukup besar dan tinggi. Lumayan susah untuk di naiki sebenarnya, tapi bapak tersebut pantang menyerah sampai ia mendapatkan balonnya yang tersangkut hampir di pucuk pohon.&#xA;&#xA;Tak lama ia turun membawa balon hello kitty yang tadi tersangkut di pohon. Bapak tukang balon tersebut terlihat sedikit ngos-ngosan karena memerlukan perjuangan untuk bisa naik ke atas pohon.&#xA;&#xA;Jamal yang melihatnya merasa kasian. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambilkan air minum untuk bapak nya.&#xA;&#xA;&#34;Di minum dulu pak.&#34; kata Jamal sambil memberikan segelas air putih hangat.&#xA;&#xA;&#34;Eh makasih mas.&#34; balasnya dan meminum air yang di berikan Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Bapak mau sekalian makan? Udah makan siang belum pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh gausah mas, saya jadi ngerepotin. Saya numpang duduk dulu sebentar aja gak papa mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya gak papa kok pak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya mas, aduh saya tuh capek banget dari pagi sampe siang gini muter-muter belum ada yang beli balon saya. Mana tadi pake nyangkut di pohonnya si mas. Untung gak lepas, kalo sampe lepas penghasilan saya berkurang lagi. Terus mau saya kasih makan apa keluarga saya?&#34; jelasnya dengan sedih.&#xA;&#xA;&#34;Saya tuh gak punya rumah mas, saya tinggal di gubuk. Saya juga bukan lulusan SMA jadi saya gak bisa kerja yang macem-macem. Cuma dari balon ini sama bisa makan dan ngehidupin keluarga kecil saya.&#34; lanjut sang bapak.&#xA;&#xA;Jamal merasa kasian dan iba setelah mendengar sedikit cerita dari bapak tersebut. Di pikir-pikir hidup Jamal bisa di bilang cukup beruntung sekarang. Mempunyai rumah, masih bisa sekolah, masih bisa makan, Jamal masih sangat amat beruntung bukan?&#xA;&#xA;Seketika ia menyesali pemikirannya tentang betapa buruk nasibnya. Nyatanya, tepat di depan matanya masih ada yang orang yang lebih susah darinya. Tidak seharusnya dia merasa menyesal karena telah di berikan hidup seperti ini. &#xA;&#xA;Setelah menyesali pemikirannya, Jamal langsung merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dompetnya.&#xA;&#xA;&#34;Pak, saya gak bisa bantu beli balonnya. Saya cuma bisa kasih ini, mohon di terima ya pak.&#34; kata Jamal sambil memberikan selembar uang 100 ribu.&#xA;&#xA;Sang bapak tadinya menolak, tapi karena Jamal terus memaksa akhirnya uang tersebut di ambil bapaknya.&#xA;&#xA;&#34;Yaampun mas, gausah loh padahal. Tapi makasih ya mas hehe. Betewe mas sendirian di rumah? Kayaknya sepi banget rumahnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Iya pak saya sendirian di rumah. Bunda saya lagi gak di rumah.&#34; jawab Jamal.&#xA;&#xA;&#34;Kalo Ayahnya kemana mas?&#34;&#xA;&#xA;Seketika alis Jamal menyatu, kenapa tiba-tiba bapaknya jadi kepo? &#xA;&#xA;&#34;Oh ayah saya udah gak ada.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh yaampun mas, sori saya gatau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa pak.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu hening. Tidak ada lagi topik obrolan yang terbesit di pikiran Jamal. &#xA;&#xA;&#34;Mamaaa adek mau balon upin!&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba di depan rumah Jamal terdengar suara rengekan anak kecil meminta di belikan balon. Tapi anehnya, bapak penjual balon hanya diam tidak begeming.&#xA;&#xA;&#34;Pak! Saya beli balon!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak itu ada yang mau beli balon.&#34; &#xA;&#xA;Jamal mencolek si bapak. Bapak penjual balon itu pun sedikit linglung dan tersadar.&#xA;&#xA;&#34;E-eh ada yang mau beli ya? Yaudah kalo gitu, makasih banyak ya mas...? Siapa namanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya Jamal, pak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jamal siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jamal Jaenudin..&#34; jawabnya sedikit ragu.&#xA;&#xA;&#34;Gak ada nama belakangnya?&#34;&#xA;&#xA;Jamal menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Ah masa? Serius gak nih mas?&#34;&#xA;&#xA;Jamal mengangguk. Sedangkan sang bapak hanya cengengesan sambil masih melihatnya tak yakin.&#xA;&#xA;&#34;Kalo bapak namanya siapa?&#34; tanya Jamal setelah beberapa detik hening karena sang bapak hanya memelototinya.&#xA;&#xA;&#34;Saya? Nama saya Ti—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pak! Saya mau beli balon loh ini dari tadi!&#34;&#xA;&#xA;&#34;E-ehh iya bu, saya ke depan. Aduh mas saya ke depan dulu ya, betewe makasih sekali lagi ya mas Jamal Jaenudin.&#34; kata bapk tersebut sambil mengacungkan jempolnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya pak, sama-sama.&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya bapak tersebut melayani sang ibu dan anaknya yang ingin membeli balon jualannya. Tak lama kemudian, datang juga segerombolan anak mengerubungi sang tukang balon. Bisa terlihat sang bapak kewalahan melayani begitu banyak anak.&#xA;&#xA;Jamal melihatnya senang, karena akhirnya jualan sang bapak bisa laku juga.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jamal masih termenung memikirkan kenapa sepertinya nasibnya begitu buruk. Awalnya memang semuanya berjalan normal dan bahagia. Tapi semenjak Jamal mulai menginjak remaja, di saat ia sudah memasuki masa pubertas, semuanya berubah.</p>

<p>Hanya karena penampilan fisiknya yang kurang rupawan dan pakaiannya yang tidak fashionable, semua orang memandangnya rendah. Di tambah lagi karena ia bukan orang yang berada, orang lain semakin memandangnya rendah.</p>

<p>Hinaan dan cacian sebenarnya sudah Jamal lewati sejak dulu. Tapi entah kenapa, pertanyaan sepele dari mama Javar sangat membuat Jamal sakit hati.</p>

<p>Memangnya salah jika ia sudah di lahirkan seperti ini?</p>

<p><em>Tok! Tok! Tok!</em></p>

<p>Lamunan Jamal langsung terbuyar setelah mendengar suara ketukan pintu. Jamal langsung beranjak dari duduknya menghampiri pintu depan.</p>

<p>Jamal terdiam sebentar di depan pintu sambil mengerutkan dahinya.</p>

<p>“Ada apa ya pak?” tanya Jamal dengan kebingungan. Orang di depannya hanya menampaknya cengiran lebar.</p>

<p>“Anu mas, balon saya nyangkut di pohon halaman depan mas. Saya izin manjat pohonnya ya mas?”</p>

<p>Jamal mengerjapkan mata beberapa kali masih sambil mengerutkat dahi. Tapi tak lama ia mengangguk pelan memboleh kan.</p>

<p>Orang yang baru saja mengetuk pintu rumah Jamal adalah seorang tukang balon yang biasanya membawa balon berbentuk karakter kartun. Tau kan? Entah bagaimana salah satu balonnya bisa menyangkut di pohon depan rumah Jamal.</p>

<p>“Eh mas saya titip balon saya.” kata bapak tersebut dan menyodorkan balon-balon karakter kartun yang sedari tadi ia pegang.</p>

<p>Setelah balonnya di pegang Jamal, bapak tersebut pelan-pelan menaiki pohon milik Jamal yang cukup besar dan tinggi. Lumayan susah untuk di naiki sebenarnya, tapi bapak tersebut pantang menyerah sampai ia mendapatkan balonnya yang tersangkut hampir di pucuk pohon.</p>

<p>Tak lama ia turun membawa balon hello kitty yang tadi tersangkut di pohon. Bapak tukang balon tersebut terlihat sedikit ngos-ngosan karena memerlukan perjuangan untuk bisa naik ke atas pohon.</p>

<p>Jamal yang melihatnya merasa kasian. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambilkan air minum untuk bapak nya.</p>

<p>“Di minum dulu pak.” kata Jamal sambil memberikan segelas air putih hangat.</p>

<p>“Eh makasih mas.” balasnya dan meminum air yang di berikan Jamal.</p>

<p>“Bapak mau sekalian makan? Udah makan siang belum pak?”</p>

<p>“Eh gausah mas, saya jadi ngerepotin. Saya numpang duduk dulu sebentar aja gak papa mas?”</p>

<p>“Iya gak papa kok pak.”</p>

<p>“Makasih ya mas, aduh saya tuh capek banget dari pagi sampe siang gini muter-muter belum ada yang beli balon saya. Mana tadi pake nyangkut di pohonnya si mas. Untung gak lepas, kalo sampe lepas penghasilan saya berkurang lagi. Terus mau saya kasih makan apa keluarga saya?” jelasnya dengan sedih.</p>

<p>“Saya tuh gak punya rumah mas, saya tinggal di gubuk. Saya juga bukan lulusan SMA jadi saya gak bisa kerja yang macem-macem. Cuma dari balon ini sama bisa makan dan ngehidupin keluarga kecil saya.” lanjut sang bapak.</p>

<p>Jamal merasa kasian dan iba setelah mendengar sedikit cerita dari bapak tersebut. Di pikir-pikir hidup Jamal bisa di bilang cukup beruntung sekarang. Mempunyai rumah, masih bisa sekolah, masih bisa makan, Jamal masih sangat amat beruntung bukan?</p>

<p>Seketika ia menyesali pemikirannya tentang betapa buruk nasibnya. Nyatanya, tepat di depan matanya masih ada yang orang yang lebih susah darinya. Tidak seharusnya dia merasa menyesal karena telah di berikan hidup seperti ini.</p>

<p>Setelah menyesali pemikirannya, Jamal langsung merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dompetnya.</p>

<p>“Pak, saya gak bisa bantu beli balonnya. Saya cuma bisa kasih ini, mohon di terima ya pak.” kata Jamal sambil memberikan selembar uang 100 ribu.</p>

<p>Sang bapak tadinya menolak, tapi karena Jamal terus memaksa akhirnya uang tersebut di ambil bapaknya.</p>

<p>“Yaampun mas, gausah loh padahal. Tapi makasih ya mas hehe. Betewe mas sendirian di rumah? Kayaknya sepi banget rumahnya?”</p>

<p>“Eh? Iya pak saya sendirian di rumah. Bunda saya lagi gak di rumah.” jawab Jamal.</p>

<p>“Kalo Ayahnya kemana mas?”</p>

<p>Seketika alis Jamal menyatu, kenapa tiba-tiba bapaknya jadi kepo?</p>

<p>“Oh ayah saya udah gak ada.”</p>

<p>“Eh yaampun mas, sori saya gatau.”</p>

<p>“Gapapa pak.”</p>

<p>Setelah itu hening. Tidak ada lagi topik obrolan yang terbesit di pikiran Jamal.</p>

<p><em>“Mamaaa adek mau balon upin!”</em></p>

<p>Tiba-tiba di depan rumah Jamal terdengar suara rengekan anak kecil meminta di belikan balon. Tapi anehnya, bapak penjual balon hanya diam tidak begeming.</p>

<p><em>“Pak! Saya beli balon!”</em></p>

<p>“Pak itu ada yang mau beli balon.”</p>

<p>Jamal mencolek si bapak. Bapak penjual balon itu pun sedikit linglung dan tersadar.</p>

<p>“E-eh ada yang mau beli ya? Yaudah kalo gitu, makasih banyak ya mas...? Siapa namanya?”</p>

<p>“Saya Jamal, pak.”</p>

<p>“Jamal siapa?”</p>

<p>“Jamal Jaenudin..” jawabnya sedikit ragu.</p>

<p>“Gak ada nama belakangnya?”</p>

<p>Jamal menggeleng.</p>

<p>“Ah masa? Serius gak nih mas?”</p>

<p>Jamal mengangguk. Sedangkan sang bapak hanya cengengesan sambil masih melihatnya tak yakin.</p>

<p>“Kalo bapak namanya siapa?” tanya Jamal setelah beberapa detik hening karena sang bapak hanya memelototinya.</p>

<p>“Saya? Nama saya Ti—”</p>

<p><em>“Pak! Saya mau beli balon loh ini dari tadi!”</em></p>

<p>“E-ehh iya bu, saya ke depan. Aduh mas saya ke depan dulu ya, betewe makasih sekali lagi ya mas Jamal Jaenudin.” kata bapk tersebut sambil mengacungkan jempolnya.</p>

<p>“Iya pak, sama-sama.”</p>

<p>Akhirnya bapak tersebut melayani sang ibu dan anaknya yang ingin membeli balon jualannya. Tak lama kemudian, datang juga segerombolan anak mengerubungi sang tukang balon. Bisa terlihat sang bapak kewalahan melayani begitu banyak anak.</p>

<p>Jamal melihatnya senang, karena akhirnya jualan sang bapak bisa laku juga.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unknownctzen.writeas.com/cukup-beruntung</guid>
      <pubDate>Fri, 11 Mar 2022 12:29:04 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>