Bunda
Liliana.
Hanya nama itu lah yang Javar ketahui mengenai ibu kandungnya. Ia sama sekali tidak punya petunjuk untuk mencari dimana makam sang ibu yang baru tadi malam ia ketahui rupanya sudah meninggal karena malahirkannya.
Javar duduk meringkuk memeluk kakinya, menenggelamkan wajahnya di lututnya.
Dapat di pastikan saat ini kondisi Javar sudah seperti anak hilang yang dekil, duduk meringkuk di salah satu bangku kantin rumah sakit.
“Javar?”
Mendengar namanya di panggil, ia mendongak dan melihat seorang Jamal yang menatapnya khawatir.
“Lu gak papa? Kenapa lu bisa ada di sini?” tanya Jamal lalu duduk di sebelah Javar yang membuang mukanya tak mau menatap Jamal.
“Jav, lu lagi-”
“Bacot! Bisa diem gak sih lo?!”
Seketika mulut Jamal tertutup rapat karena di bentak Javar. Namun tak beberapa lama kemudia ia berbicara lagi dengan nada suara yang lebih lembut.
“Jav, lu boleh kok sharing masalah lu ke gue. Gue bakal dengerin apapun itu tapi tolong jangan nyimpen masalah lu sendirian. Itu gak baik, Jav.”
Entah apa yang sudah Jamal lakukan, tapi saat ini dinding kokoh yang ada di hati Javar sudah hancur. Begitu pula pertahanan air matanya.
“G-gue udah bikin Epan celaka, Mal. Gue— gue gak becus jadi abang. Ini semua salah gue Mal.” ucap Javar dengan isak tangis yang makin menjadi-jadi.
Jamal dengan sabar mendengar semua cerita Javar, dari kejadian Jevan maupun kejadian ibunya, Javar tidak tahan menyimpannya sendiri. Di saat itu pula lah Jamal tau, bahwa Javar tidak sekuat yang ia pikirkan. Dirinya juga begitu sedih mengetahui bahwa Javar menanggung beban yang berat juga.
Setelah mungkin hampir 20 menit Javar menumpahkan bebannya, akhirnya ia bisa tenang dan lega. Walaupun peran Jamal di sini hanya sebagai pendengar dan sama sekali tidak memberi nasehat apapun, entah mengapa hal sepele itu sangatlah berarti bagi Javar.
Selama ini ia hanya ingin di dengar.
“Sorry Mal, gue gak tau mau cerita ke siapa lagi. Makasih udah mau dengerin.”
“Iya Jav, gue bakal selalu ada di sini kalo lu butuh gue. Dan gue mau lu jangan nyalain diri lu sendiri lagi ya? Semua emang udah jalannya.” ujar Jamal sambil menepuk pundak Javar, yang membuatnya sedikit tenang.
“Nah sekarang, mending lu ikut gue ke kamar bunda gue. Kita sarapan di sana aja, nih gue udah beli makanan. Gue yakin lu belum makan kan?” tanya Jamal sambil berdiri dari duduknya.
“Gak usah Mal, gue-” omongan Javar terhenti sesaat ia tak merasakan keberadaan dompetnya di sakunya.
“Ayo.” ajak Jamal yang sudah berjalan duluan. Javar mau tak mau mengikuti Jamal karena ia tak bisa bohong jika perutnya sudah sangat kelaparan.
“Ngomong-ngomong lu kenapa ada di sini? Bunda lu sakit?” tanya Javar memecah keheningan.
“Iya, bunda gue abis operasi usus buntu.” jawab Jamal singkat.
Tak lama mereka sampai di depan pintu kamar no.127. Jamal memutar knop pintunya dan masuk ke dalam duluan dan di ikuti dengan Javar di belakangnya. Namun anehnya ia menemukan sang ibunda yang tidak sendirian di dalam kamarnya, karena ada seorang laki-laki yang memunggunginya dan terlihat sedang mengobrol dengan bundanya.
“Bunda?” panggilnya dan membuat laki-laki yang tadi membalikkan badannya.
Terlihatlah wajah laki-laki tersebut, dia lelaki paruh baya yang wajahnya begitu tidak asing bagi Jamal. Sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat.
“Ayah?” tanya Javar setelah melihat lelaki paruh baya itu.
Jamal yang mendengarnya seketika mengerutkan alis. Benar juga, Jamal pernah melihat laki-laki itu di rumah Javar. Tapi kenapa dia ada di dalam kamar sang ibundanya saat ini?
“Javar kamu kenapa ada di sin–”omongan Januar terhenti sesaat melihat orang di sebelah Javar.
Ia tersentak kaget setelah menyadari siapa anak SMA tersebut. Tanpa meragukan apapun, ia begitu yakin bahwa itu adalah anak kembarnya yang selama ini ia kira sudah tiada. Di tambah lagi, saat ini Jamal tidak mengenakan kaca matanya karena masih rusak setelah kejadian di cafe, memperkuat keyakinannya bahwa itu adalah kembaran Javar. Karena mau bagaimana pun mereka berdua sebenarnya mirip.
Lagi-lagi Januar meneteskan air matanya. “Jamaliel? Itu benar kamu kan?” ucapnya sambil memeluk Jamal yang kebingungan setengah mati.
Jamal hanya bisa terdiam dan terbingung saat di peluk oleh lelaki asing yang ada di kamar bundanya. Javar yang berada di sebelah Jamal pun tak kalah bingung melihat kelakuan ayahnya yang aneh.
“Maaf om, kayaknya om salah orang. Nama saya Jamal Jaenudin, bukan Jamaliel.” ucap Jamal membenarkan namanya dan mendorong lelaki paruh baya itu agar tidak memeluknya lagi.
Januar yang mendengarnya spontan membalikkan badannya menatap Liliana yang juga menangis melihat siapa yang datang bersama Jamal.
“Kamu serius mengganti nama dia jadi seperti itu?“tanya Januar dengan sedikit kekesalan. Sedangkan Liliana hanya terkekeh sambil menangis bahagia.
Di samping mereka, Javar yang hanya menonton semua kejadian ini makin tidak punya petunjuk. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Sebentar-sebentar, ini tuh ada apa? Aku gak ngerti sama sekali.” ucap Javar yang di jawab anggukkan oleh Jamal.
Januar hanya bisa tersenyum simpul sambil balik menuju ranjang Liliana dan merangkulnya. “Javar, ini itu bunda kandung kamu. Dan Jamaliel, saya itu ayah kandung kamu. Dan kalian berdua itu adalah anak kembar kami.”
“HAH?!”
Jika ini hanya lelucon, maka lelucon ini benar-benar tidak lucu. Begitu banyak kenyataan yang Javar maupun Jamal baru ketahui, namun kenyataan yang satu ini sangatlah tidak masuk akal. Mereka berdua kehabisan kata-kata dan hanya menatap satu sama lain.
Namun jika di pikir-pikir, ini semua dapat menjelaskan kenapa seorang Javar begitu peduli terhadap seorang Jamal dan begitu juga sebaliknya. Semenjak bertemu mereka merasa seperti terlengkapi dan memenuhi satu sama lain.
Tapi bagaimana bisa?
“Javar Jumantara Jeandro dan Jamaliel Jaenudin Jeandro. Selamat ulang tahun nak.” ucap Liliana yang tersenyum manis setelah bahagia melihat kedua anak kembarnya bersatu kembali setelah di pisahkan selama 17 tahun lamanya.
Lagi-lagi Javar terkaget karena mendengar nama panjangnya di sebutkan dengan sangat lengkap oleh orang asing. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun mengenai nama tengahnya, tapi bagaimana wanita ini bisa tau?
Di tambah lagi bagaimana dia bisa tau hari ini ulang tahunnya?
Liliana membentangkan tangannya lebar, saat melihat Javar yang mulai tersadar dan menangis, lalu dia mulai menghampiri Liliana dan memeluknya. Ia pun juga ikut menangis, akhirnya saat ini terjadi juga, saat dimana ia bisa memeluk anaknya yang di pisahkan darinya.
“Bunda.” panggil Javar sambil menangis sejadi-jadinya.
Tadi sempat ada keraguan di diri Javar, tapi entah mengapa feeling nya mengatakan Liliana memang adalah ibu kandungnya.
Dan benar saja, saat ia memeluk bundanya, ia dapat merasakan kenyamanan dan ke hangatan yang ia cari selama ini. Jika di bandingkan saat Catherine memeluknya, rasanya begitu hambar dan biasa saja. Ia merasa begitu aman di dalam pelukan bundanya, rasanya ia tak ingin melepaskan pelukan ini selamanya.
“Bunda, bilang ini cuma bercanda! Ini semua boongan kan?” tanya Jamal yang sangat ingin menyangkal kenyataan ini.
Liliana melepas pelukannya dengan Javar dan menatap bingung Jamal. “Engga sayang, ini semua benar.”
Mendengar kebenaran yang di ucapkan sang ibunda. Jamal seketika mendekat ke arah Januar dan mencengkram kerah kemeja Januar dengan sangat kuat.
“Selama ini Anda kemana saja?! Apa Anda tau betapa menderitanya bunda saya karena Anda pergi meninggalkan kami berdua? Kenapa Anda baru datang sekarang? KENAPA?!” teriak Jamal yang di selimuti kemarahan, ia sudah begitu lama menyimpan kemarahan ini sendirian.
“Jamaliel, tolong dengar penjelasan ayah-”
“Gak ada yang perlu di jelasin lagi! Anda sudah tega meninggalkan kami, dan karena itu saya gak sudi panggil Anda dengan sebutan ayah“
“JAMAL!”
Jamal tersentak dan langsung terdiam saat Januat membentaknya. Ia melepas cengkramannya namun wajah dan tatapannya masih menunjukkan kemarahan nya dan air matanya masih terus bercucuran.
“Tolong dengar penjelasan ayah dulu baru kamu boleh berkomentar. Saya tidak pernah meninggalkan kalian dan walaupun saya di paksa saya tidak akan pernah mau. Ini semua perbuatan seseorang yang tidak pernah merestui hubungan ayah dan bunda mu. Dan setelah orang itu meninggal, saya baru tahu kebenarannya bahwa kalian berdua masih hidup. Maka dari itu saya pindah ke sini karena ingin mencari keberadaan kalian. Jadi ayah mohon kamu jangan salah sangka, ayah gak mau kamu membenci ayah, karena ayah sayang sekali sama kamu, Javar dan juga bunda kalian.”
Mereka berempat saling menatap dengan air mata yang bergelinang. Jamal yang mendengar penjelasan sebenarnya dari sang ayah, seketika merasa bersalah karena sudah menyimpan dendam terhadap ayahnya.
“Sini kalian semua.”
Ayahnya menarik kedua anaknya ke arah dirinya dan istrinya. Mereka akhirnya saling berpelukan melepas rindu dan menumpahkan rasa kasih sayang satu sama lain.
“Maafkan ayah ya nak, ayah dan bunda sangat amat menyayangi kalian. Selamat ulang tahun jagoan-jagoan ayah bunda” ucap Januar sambil mengecup puncak kepala anaknya dan juga sang istri.