Bahagia Kembali
“Sus, apa ada pasien disini yang bernama Liliana Jelita?” tanya Januar dengan panik.
“Sebentar pak, saya cek dulu. Ohh ada pak, beliau di kamar melati no.127—” jawab sang suster setelah mengecek di monitornya.
“Baik, makasih sus.” ucapnya memotong omongan susternya dan langsung berlari menuju ruang kamar tersebut.
Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Januar hanya diam menatapi pintu. Hati maupun pikirannya begitu berisik. Percayalah, saat ini perasaannya begitu campur aduk. Setelah 17 tahun ia mencari, akhirnya hari ini ia bisa bertemu kembali dengan sang istri dan juga anaknya.
Begitu banyak pikiran-pikiran aneh yang muncul. Apakah dia akan di terima oleh istri dan anaknya? Walaupun awalnya ia kira mereka berdua sudah meninggal, namun saat mengetahui mereka masih hidup dan hidup dengan pas-pasan, ada perasaan tak pantas baginya untuk muncul kembali di depan mereka. Ia merasa tidak becus sebagai seorang suami maupun ayah. Harusnya ia langsung menyelidikinya saat pertama kali mendengar bahwa mereka meninggal, bukannya percaya dan menerima saja apa kata ibunya.
Tak lama ia tersadar dari lamunannya, sudah bukan waktunya ia menyalahkan dirinya sendiri di masa lalu, karena di masa sekarang ia berjanji akan menebus semua kesalahannya.
Dengan perlahan Januar memutar knop pintu kamar tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita sedang tertidur lemas di ranjang kamar rumah sakit. Wanita yang dulu menjadi sumber bahagianya dan juga dunianya sebelum ibunya menghancurkannya dengan memalsukan kematian wanita tersebut dan juga salah satu anak kembarnya.
Mungkin momen saat Januar menangis bisa di hitung dengan jari, karena ia sangat jarang menangis. Tapi kali ini, air matanya begitu gampang lolos dari pelupuk matanya. Tentu saja ini air mata bahagia.
Januar dapat melihat jelas kerutan di wajah wanitanya, badannya yang kurus dan juga rambutnya yang sudah memutih. Begitu banyak momen yang sudah Januar lewatkan, ia cukup menyesal dengan semua itu.
Tangannya di bawanya menuju pipi wanitanya yang sedang tertidur lelap di ranjang rumah sakit. Air matanya terus mengalir tak henti dan tak lupa ia menunjukkan senyum bahagianya.
Sedangkan sang wanita yang merasa seseorang memegang pipinya mulai membuka matanya perlahan. Awalnya ia kira itu adalah sang anak kesayangannya tapi anehnya siluet orang yang ada di hadapannya begitu berbeda dengan anaknya. Rambut rapih, kumis dan jenggot tipis, dengan badan tegap sempurna.
“Ana.” lirih Januar masih sambil menangis melihat istrinya akhirnya terbangun.
Liliana hampir saja merobek jahitan di perutnya jika ia tidak di tahan oleh Januar. Karena kaget, Liliana reflek terduduk untuk memastikan orang yang berada di depannya.
“M-mas Janu? Kamu— kamu kenapa bisa ada di sini?” tanya Liliana begitu panik.
“Akhirnya aku menemukan mu, Ana.” ujar Januar dan menciumi punggung tangan istrinya.
“Mas, kamu gak bisa ada di sini. Kamu itu sudah punya istri, mas. Tolong jangan seperti ini.” Liliana menarik paksa tangannya namun pegangan Januar lebih kuat dari pada tenaganya.
“Istri yang aku cintai itu cuma kamu, Liliana Jelita. Dia itu hanya wanita yang Mama nikahkan saja, tapi aku sama sekali gak cinta sama dia. Kamu harus tau berapa sengsaranya aku hidup 17 tahun tanpa kamu ada di samping aku dan malah digantikan oleh wanita itu. Aku gak bahagia Ana, selama ini aku gak bahagia.”
Januar menunduk sambil menangis di depan Liliana. Memang itu yang ia rasakan selama ini hidup bersama Catherine, tidak bahagia dan semua di jalankan dengan terpaksa.
Jika boleh jujur, itu hal yang sama yang di rasakan oleh Liliana. Namun ia tetap bertahan selama ini karena adanya Jamal.
“Tapi sekarang aku sudah menemukan mu. Dan akhirnya aku bahagia lagi Ana. Kamu harus tau sebahagia apa aku saat bisa melihat mu lagi.”
Tak tahan, air mata Liliana pun lolos. Ia juga sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan sang suami setelah 17 tahun hanya bisa melihatnya di majalah atau tv.
Mungkin semesta ingin mempersatukan mereka lagi.
Januar dengan sangat hati-hart memeluk Liliana yang sangat terlihat lemah karena habis menjalani serangkaian operasi. Sudah lama Liliana tidak merasakan pelukan yang begitu hangat dan nyaman seperti ini.
“Setelah kamu sembuh, aku akan menceraikan Catherine. Lalu kita bisa hidup bersama sampai tua. Aku gak peduli kamu setuju atau tidak, tapi itu yang akan aku lakukan.” ucap Januar sambil melepas pelukannya.
Liliana hanya bisa menghela nafas pasrah. Sudah 17 tahun tidak bertemu tetapi semua sifat suminya masih sama saja.